Filosofi Saji Teh dalam Budaya Humanis Tzu Chi

    Berbudaya humanis bukan merupakan hal yang asing bagi warga sekitar maupun siswa Tzu Chi. Berbudaya humanis bagi kebanyakan orang hanya dipancarkan melalui sikap dan kepribadian yaitu berbudi pekerti yang baik saja. Tapi ternyata, berbudaya humanis bukan hanya itu saja, melainkan melakukan kegiatan-kegiatan berupa merangkai bunga, isyarat tangan, membasuh kaki orang tua, memberikan dana amal dan yang terakhir dan akan saya bahas adalah saji teh.

    Saji teh merupakan bentuk penyajian teh yang dilakukan oleh Tzu Chi pada acara-acara tertentu khususnya untuk tamu spesial. Saji teh ini bukan merupakan penyajian teh biasa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui saji teh ini kita dilatih mengenai tata krama, kebiasaan dan etiket dalam menyajikan dan meminum teh.Pada umumnya, saji teh ini menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus.

    Saji teh merupakan hal yang membutuhkan keahlian, khususnya keluwesan dalam penyajian. Dalam menyajikan teh tentu ada tahapannya. Mulai dari cara dan bagaimana gerakan tangan dalam menyeduh teh, mengangkat gelas, menuangkan dan meminum teh. Setiap gerakan yang dikeluarkan mempunyai arti dan makna tersendiri. Saji teh ini mencerminkan tujuan hidup dan cara berpikir penyaji. Maka, dalam melakukan saji teh memerlukan keluwesan. Menyajikan teh pun membutuhkan seni dan keindahan.Teh tidak hanya dituang dengan air panas dan diminum, tetapi sebagai seni dalam arti luas. Nilai keindahan dalam sajiteh begitu terpancar melalui gerakan tangan yang pelan namun penuh arti ditambah dengan lagu yang mengiringi.

    Nilai yang terkandung dalam saji teh ini bukan hanya nilai estetika saja, melainkan nilai-nilai budi pekerti yang kita pancarkan saat menyajikan teh. Karena saat melakukan saji teh, secara tidak langsung kita melatih diri kita untuk menjadi orang yang telaten. Dalam menyajikan teh diperlukan kesabaran dan ketelitian yang penuh. Bahkan kedua hal tersebut perlu dilatih dalam pribadi masing-masing. Dan saji teh ini merupakan salah satu sarana yang pas.

    Disamping melatih kesabaran dan ketelitian, saji teh merupakan salah satu bentuk dari ucapan terima-kasih dan juga partisipasi yang kita berikan kepada orang-orang yang tercinta khususnya bagi murid kepada gurunya dan bagi murid kepada orang tua. Contohnya adalah saat diadakan hari guru dan hari ibu, salah satu bentuk partisipasi kita atas perayaan tersebut adalah dengan mengikuti saji teh untuk para guru dan ibu. Kegiatan saji teh ini berupa para murid berbaris dan menyajikan teh dan juga kue. Ucapan kasih sayang tidak harus dibuktikan dengan tindakan-tindakan yang berlebihan. Melalui menyajikan teh saja sudah terasa cukup jika dilakukan dengan sepenuh hati.

    Mengenai pengaplikasian saji teh dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang berpikir bahwa saji teh ini hanya dilakukan oleh pihak Tzu Chi dan hanya saat acara tertentu saja. Namun, saji teh ini ternyata digunakan di negara Jepang dalam kehidupan sehari-hari. Saji teh di Jepang memiliki berbagai aliran yang tidak jauh berbeda dengan penyajian teh di Tzu Chi. Karena dasarnya, bentuk-bentuk penyajian teh diambil dari negara Jepang. Penyajian teh di Jepang lekat dengan aliran zen dalam agama Buddha. Inti dari ajaran itu adalah membuat harmoni antara lingkungan dan alam sekitar. Upacara ini juga menjadi penghormatan tuan rumah kepada tamu. Jadi, untuk menyajikan dan meminumnya memerlukan tata krama yang sangat spesifik.

    Jadi, sebagai warga Tzu Chi, kita tidak boleh menganggap bahwa saji teh ini merupakan hal yang tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Melainkan kegiatan ini sebaiknya dilakukan karena dapat melatih ketelatenan dan etiket. Walaupun sederhana, namun saji teh ini sangat berguna. Bukan hanya untuk dalam diri kita, melainkan untuk pancaran nyata diri kita. (Ferly 12 Ak)

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'
Phone: 021-54397565
Fax: 021-54397573
Jl. Kamal Raya Outer Ring Road No.20
Cengkareng, Jakarta Barat 11730