Melatih Percaya Diri Anak Melalui Budaya

Debbie memperlihatkan hasil karya baju dari DI Yogayakarta yang terbuat dari kantong plastik dan pernak-perniknya kepada relawan Tzu Chi saat menghampiri pondok DI Yogayakarta.

Selain memiliki berbagai ragam kuliner, Indonesia juga kaya akan upacara adat dan tarian daerah dari berbagi penjuru Nusantara. Keberagaman yang dimiliki Indonesia juga dapat dijadikan sebagai identitas bangsa seperti makanan. Karena, tidak sedikit pula makanan khas Indonesia yang tercipta akibat pengaruh dan percampuran dari budaya lain, misalnya seperti Arab, India, dan China.

Keberagaman budaya di Indonesia tersebut juga diapresiasikan oleh murid-murid sekolah Kelas Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK) sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng dengan mengadakan pagelaran Budaya yang bertemakan “Pekan Budaya Indonesia” yang bertempat di Aula TK Cinta Kasih Tzu Chi pada Jumat, 27 April 2018.

Bao Bing, relawan Komite Tzu Chi ketika menilai jenis makanan dari daerah Betawi sangat terkesan dengan penjelasan-penjelasan orang tua siswa yang sangat memahami sejarah makanan daerah masing-masing.

Kegiatan Pekan Budaya Indonesia ini pun diawali dengan masuknya para murid dengan berpakaian adat  daerah yang terbuat dari barang daur ulang ke dalam gedung aula. Sedangkan di dalam aula sudah ada enam pondok makanan dengan ciri khas masing-masing daerah yang dikelola oleh para orang tua murid. Ada pondok Jawa Barat yang menampilkan 24 jenis makanan dan 4 jenis miniatur rumah adat, angklung, wayang golek, dan foto panorama khas Jawa Barat. Sedangkan pondok Betawi menampilkan 11 jenis makanan seperti kerak telor, roti buaya, kue pancong dengan properti miniatur rumah adat, ondel-ondel, lampu templok, mug, dan teko.

Tak kalah seru, Pondok Bali menampilkan 5 jenis makanan dengan miniatur rumah adat, instalasi barongsai. Sedangkan DI (Daerah Istimewa) Yogyakarta  menampilkan 8 jenis makanan seperti gudeg, wedang ronde, pecel, dan 9 properti khas Kota Pelajar tersebut. Dari wilayah bagian barat Indonesia, Pondok Sumatera Barat menyajikan 8 jenis makanan dengan 7 jenis properti khas Minang. Sedangkan dari wilayah timur, Maluku menyajikan 10 jenis makanan diantaranya papeda, bubur sagu, sagu putih, dan 4 properti khas Maluku.

Tarian dari daerah Maluku yang merupakan kreasi guru diperagakan oleh siswa-siswi Taman Kanak-kanak Cinta Kasih Tzu Chi dengan sangat kompak dan lincah. Tarian ini pun mendapat nilai terbaik.

Pondok-pondok dari berbagai daerah di Nusantara ini kemudian dinilai oleh 3 orang juri yang akan menilai dari jenis makanannya, properti pondoknya, dan peragaan busana baju daerah yang terbuat dari barang-barang daur ulang. Setiap murid TK dan KB secara bergiliran juga menghampiri pondok-pondok  Nusantara dan mendapat penjelasan dari masing-masing penjaga pondok tentang keberagaman daerahnya masing-masing, sehingga para murid pun sangat antusias menghampiri setiap pondok dan menyimak penjelasan. Salah satunya adalah Marcello yang antusias ketika menghampiri pondok Betawi, Ia pun ditanya apakah sudah pernah mengunjungi Monas. Dengan mengangkat jari telunjuk Marcello berkata dengan lantang, “saya pernahhhh.”

Terkait dengan kegiatan Pekan Budaya Indonesia, Valyant Patykawa, salah guru TK Cinta kasih Tzu Chi  juga mengatakan bahwa dari awal tahun ajaran 2017-2018 para guru sudah menyosialisasikan kepada orang tua murid  bahwa akan selalu melibatkan orang tua dalam proses belajar mengajar sesuai dengan kurikulum sekolah. “Kita sekarang memakai kurikulum 213 dimana seluruh kegiatan di sekolah melibatkan orang tua,” ujar Valyant.

Tarian dari daerah Sumatera Barat yang dibawakan oleh siswa-siswi Kelas Bermain (KB) meraih juara ke-2 dalam kegiatan Pekan Budaya Indonesia.

“Jadi melalui orang tua anak akan belajar terlebih dahulu, sebelum mendapatkan materi dari guru,” tambahnya. Lebih lanjut Valyant mengatakan Pekan Budaya Indonesia ini dikenalkan kepada anak-anak supaya mereka mengetahui budaya nusantara yang sangat banyak dan ada nilai-nilai kearifan lokal yang perlahan-lahan harus dipahami oleh anak-anak.

Begitu pula dengan para orang tua murid, Debbie orang tua dari Sunao (6) perwakilan dari TK B-4 ini dibantu 5 orang tua murid lainnya menata dengan apik pondok dari DI Yogyakarta. Ide kreatif stand pondokan dan baju daerah murid adalah ide dari salah satu orang tua di kelompok tersebut. Seluruh propertinya juga dari bahan-bahan daur ulang. Sedangkan ide makanan Jogja dari Debbie sendiri.

Salah satu pondok dalam Pekan Budaya Indonesia dari DI Yogyakarta yang berisi beragam makanan, miniatur rumah adat, serta baju adat.

Lain halnya dengan Shinta, yaitu orang tua murid dari Marcelo (5) perwakilan dari Kelas Bermain (KB) 1 dan KB 3 yang dibantu oleh 26 orang tua siswa. Setiap orang tua di kelompok ini menyumbangkan ide-ide tentang makanan khas Jawa Barat. “Kita persiapan bikin pondokannya kemarin (26/4) kalau makanannya tadi sejak pagi hari kita sudah buat,” ungkap Shinta. Lebih lanjut ia pun mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat berguna untuk para murid dan orang tua. “Acara ini sangat bagus sekali, kita jadi saling kenal dengan para orang tua lainnya, lebih akrab lagi kepada guru-gurunya, mudah-mudahan tahun depan lebih banyak lagi para orang tua yang mau ikut,” harap Shinta.

Sedangkan Bao Bing, relawan komite Tzu Chi mengatakan bahwa kegiatan ini untuk memacu keakraban orang tua murid karena selama ini orang tua murid hanya mengantar ke sekolah dan pergi, sehingga  tidak banyak waktu bersama antar orang tua dan guru. “Luar biasa, Luar biasa, mereka sangat kreatif dan bagus mulai dari makanannya, dekorasinya, dan kreasi baju-baju murid yang terbuat dari barang-barang daur ulang,” ungkap relawan yang menjadi salah satu guru kelas budi pekerti di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng tersebut.

Lebih lanjut Bao Ping mengatakan dalam kegiatan ini anak-anak dilatih untuk bisa tampil di panggung sehingga kepercayaan diri mereka akan lebih kuat lagi. Selain itu kegiatan ini juga memperlihatkan  kepada orang tua murid bahwa pembelajaran di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng tidak hanya kurikulum formal namun pembinaan nilai-nilai moral untuk menguatkan jati diri anak juga ada di sini.

Ke depannya Bao Bing berharap acara Pekan Budaya Indonesia ini bisa berjalan lebih baik dan tertib. Jenis makanannya juga lebih banyak dan bervariasi lagi, serta kreativitas orang tua murid akan lebih baik lagi dan para siswa pun akan lebih kuat lagi mentalnya.

Di akhir acara, pondok DI Yogyakarta mendapat nilai terbaik dan pondok favorit diraih oleh Pondok Sumatera Barat. Sedangkan tarian kreasi guru kelompok A terbaik adalah tarian dari Maluku yang di asuh oleh Valyant Patykawa. Tarian terbaik kelompok B  adalah tarian Sumatera Barat. Semua tarian memakai baju adat yang terbuat dari bahan-bahan daur ulang, seperti kantong plastik, kepingan dvd, tutup botol, dan lain-lain.

Editor: Arimami Suryo A.
Jurnalis : Anand Yahya, Fotografer : Anand Yahya

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'
Phone: 021-54397462
Fax: 021-54397573
Jl. Kamal Raya Outer Ring Road No.20
Cengkareng, Jakarta Barat 11730