Mengamalkan Kemandirian dan Toleransi

Setiap tahunnya Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng mengadakan kamp pendewasaan bagi para muridnya. Kamp ini diikuti sebanyak 548 murid.

Kamp pendewasaan yang diperuntukkan bagi siswa-siswi jenjang akhir sekolah rutin diadakan tiap tahunnya. Kamp pendewasaan yang diadakan pada tanggal 19 Mei 2018 ini diikuti sebanyak 548 murid terdiri dari TK, SD, SMP, SMA, dan SMK yang akan meninggalkan Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat. Namun bagi siswa-siswi TK bergabung pada acara penutupan kamp pendewasaan dan mengikuti prosesi kelulusan. Kamp yang diadakan di Gd. Gan En Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta ini mengusung tema “Satu Keluarga untuk Selamanya.”

Ada yang berbeda pada kamp pendewasaan tahun 2018 ini yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Kamp pendewasaan pun dikombinasikan dengan kamp kerohanian, sehingga terdapat beberapa kali sesi ibadah yang diikuti oleh semua murid baik yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa.

Timothy Athanasios Nalaw, Koordinator Kegiatan memberikan cinderamata kepada para pembicara usai memberikan sharing kepada para peserta kamp.

“Justru di bulan Ramadan ini adalah hal yang baik untuk tidak hanya sekadar pendewasaan tapi juga mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa,” ucap Timothy Athanasios Nalaw, Koordinator Kegiatan.

Selain diadakan sesi ibadah bagi semua agama, dalam kamp ini juga diadakan pula buka bersama dan makan sahur bersama. “Kita memberikan satu nuansa untuk yang non-muslim bahwa kita sama-sama merasakan bahwa kita satu keluarga, sama-sama insan Tzu Chi ya kita rayakan sama-sama,” ujar koordinator yang juga Kepala SD Cinta Kasih Tzu Chi ini.

Saling Menghargai Perbedaan


Fadhilah Rezaldy (kiri) mengaku senang bisa belajar menjahit dengan tangan membuat kantung wa tao yang merupakan pengalaman pertama baginya.

Fadhilah Rezaldy (17) salah satu siswa SMK, yang sedang menjalankan ibadah puasa sangat bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan kamp pendewasaan dari awal hingga akhir. “Ini (puasa) nggak memberatkan saya, ada kegiatan seperti ini justru saya lupa waktu, nggak berasa kalau lagi puasa,” ungkapnya.

Pada sesi bersumbangsih yang menerangkan bagaimana pada masa awal Tzu Chi berdiri, Master Cheng Yen mengajak para ibu-ibu rumah tangga untuk menyisihkan 50 sen uang belanja mereka untuk didonasikan di celengan bambu memberikan kesan tersendiri baginya.

“Setelah memasuki kelas sumbangsih tadi pikiran saya terbuka, meski hanya 50 sen kita nggak usah malu-malu yang penting untuk membantu sesama,” ujar Reza, sapaan akrab Fadhilah.

Selain bekal pengetahuan, anak-anak juga diajak untuk mengasah keterampilan tangan. Sementara murid SD melukis pada botol, murid SMP hingga SMA/SMK membuat kantung wa tao dengan jahitan tangan.

Reza merupakan murid Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi sejak TK. Ia merupakan salah satu warga Kali Angke yang direlokasi ke Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi pascabanjir besar melanda Jakarta pada tahun 2002. Selama itu pula Reza mendapatkan pendidikan budaya humanis di sekolah yang mengajarkan tata krama, cara berjalan yang baik, beretika yang baik, dan lain-lain. “Saya juga lebih percaya diri,” ungkapnya.

Reza yang memiliki hobi editing dan videografi ini mendapat dukungan penuh dari guru-gurunya. Tidak hanya motivasi untuk maju, Reza juga diikutkan beberapa kali lomba yang berkaitan dengan hobinya tersebut. “Mereka (guru-guru) juga membantu saya memfasilitasi komputer untuk edit, semua guru di SCK ini sangat mendukung muridnya,” ujar lulusan Administrasi Perkantoran ini.

Christian Marchelino (kiri) merasa senang bisa mengikuti pola waktu seperti teman-temannya yang sedang berpuasa, salah satunya makan sahur bersama.

Senada dengan Reza yang merasa tidak keberatan mengikuti kamp pendewasaan meskipun dirinya berpuasa, Christian Marchelino (18) salah satu siswa SMA IPA ini juga merasa senang bisa mengikuti pola waktu seperti teman-temannya yang sedang berpuasa dengan bangun jam 3 pagi untuk bersama-sama melakukan makan sahur meski tidak sedang menjalankan ibadah puasa. “Nggak merasa keberatan bangun pagi karena itu justru melatih aku lebih disiplin,” ungkap Christian.

Baginya dalam hidup ini harus saling mentoleransi perbedaan yang ada, sehingga Christian pun sangat menikmati setiap sesi yang diikutinya. “Di Indonesia kan banyak perbedaan justru kita jadikan kekuatan kita, bukan menghindari perbedaan yang ada,” ujarnya.

Seluruh peserta kamp baik yang menjalankan ibadah puasa maupun yang tidak bersama-sama makan sahur.

Bahkan sulung dari dua bersaudara ini mengaku melalui banyaknya perbedaan inilah yang menjadikan dirinya menjadi pribadi yang terbuka. “Dulu saya orangnya nggakmudah bergaul, nggak mudah menerima perbedaan. Di sekolah yang lama semua muridnya beragama Kristen tapi di Sekolah Cinta Kasih terdapat berbagai agama, suku, ras, dan sebagainya, aku jadi belajar untuk bergaul dan belajar menerima perbedaan yang ada,” tutur Christian.

Sejak kelas 5 SD, Christian pindah ke Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. Pendidikan budaya humanis yang diterimanya di SCK melatihnya untuk sabar dan teratur. “Yang saya ingat budaya ngantrinya. Kita baris dalam banyak hal: masuk kelas baris, ambil makan baris. Kalau di sekolah lain siapa cepat dia dapat,” ucap siswa yang akan melanjutkan pendidikan di ITB jurusan Tata Kota ini. “Di Tzu Chi benar-benar teratur dan budaya humanis untuk hormatin orang lain benar-benar terasa kalau kita melihat apa yang terjadi di sekolah lain,” sambungnya.

Aura Aurenzya (kanan) selalu menunjukkan rasa baktinya kepada orang tua dengan menjadi anak berprestasi dan membantu pekerjaan rumah setiap harinya.

Adapula Aura Aurenzya (14), siswi SMP Cinta Kasih Tzu Chi. Mengikuti kegiatan kamp pendewasaan adalah pengalaman pertama baginya. “Di sini bikin saya lebih dewasa, bangun pagi, dalam satu kelompok harus kompak tangannya harus rapi, dan jalan tidak boleh ketinggalan kelompok,” ujar Aura. Namun ada satu hal yang membuatnya sediit terkejut, yakni bangun pagi untuk makan sahur bersama.

“Awalnya kaget, tapi saya mikir kalau saya jadi posisi mereka yang puasa rasanya pasti nggak enak melihat mereka tidur sementara kita aktifitas,” aku siswi yang aktif di OSIS ini.

Aura merupakan anak yang berbakti kepada orang tua. Sepulang sekolah ia membantu mamanya berjualan kue di etalase yang terdapat di komplek tempat tinggalnya. Mambantu sang mama berjualan dilakoninya sejak masih duduk di bangku SD hingga pertengahan kelas 8 SMP. “Sekarang udah nggak jualan lagi karena sepi (pembeli). Mama lebih sering istirahat di rumah karena tangannya sering sakit,” ucap bungsu dari 3 bersaudara ini.

Meski sudah tidak berjualan lagi, namun Aura tetap menunjukkan rasa baktinya kepada orang tua. Ia pun membantu pekerjaan rumah seperti mencuci piring, menyapu, ngepel. Dalam bidang akademik Aura juga menunjukkan prestasi gemilangnya. “Mama nggak kerja, di penghasilannya yang kurang tapi tetap mikirnyekolahin aku. Aku pengen ucapin terima kasih ke mama,” ucapnya.

Bekal untuk Para Siswa

Selain memperdalam kerohanian, dalam kamp pendewasaan ini para siswa dibekali beragam pengetahuan yang kelak bisa berguna untuk mereka dengan menghadirkan para pembicara yang sesuai dengan bidangnya untuk memberikan pengarahan terutama bagi para siswa SMA dan SMK yang sudah meninggalkan Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. Apakah akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau mulai membuka usaha bisnis.

“Kami berusaha membekali kedua golongan itu dengan apa yang kami pikir baik yaitu untuk memahami seperti apa sih dunia kuliah atau apa sih dunia bisnis itu nanti,” ucap Timothy.

Salah satu pembicara yang hadir untuk memberikan pengenalan dunia kampus adalah Haryo Suparmun, salah satu dosen di STIE Trisakti yang juga relawan Komite Tzu Chi. Haryo Suparmun memberikan sharing bagaimana kehidupan di dunia kampus agar kelak tidak merasa kaget ketika memulai perkuliahan. Ia berpesan kepada para siswa yang kelak meneruskan kuliah tidak sekadar menghabiskan waktu, uang, dan tenaga. Sehingga ketika apa yang terjadi di masa mendatang tidak sesuai rencana awal tetap harus dituntaskan.

“Jadi kalau sudah memilih jurusan harusnya jangan menyesal karena memang belum tentu apa yang kita kerjakan sesuai dengan pendidikan kita, jadi kalau sudah memilih ya selesaikan saja,” ujar Haryo Suparmun.

Haryo Suparmun memberikan sharing bagaimana kehidupan di dunia kampus. Ia juga berpesan selain mengasah pengetahuan mahasiswa juga perlu mengasah jiwa kewirausahaan.

Lebih lanjut Haryo menjelaskan selama di kampus agar belajar sebanyak-banyaknya, baik dari kampus fisik bersama dosen maupun kampus maya dengan berbagai sumber informasi internet. Sehingga tidak hanya mengandalkan pembelajaran yang diberikan dosen saja, namun juga harus kreatif mencari bahan-bahan lainnya. Meski demikian, Haryo berpesan apapun jurusan mata kuliah yang diambil para siswa harus meningkatkan jiwa kewirausahaan.

“Walaupun sebagai jiwa mahasiswa tapi nanti sebagai pekerja atau karyawan tetap jiwa entrepreneurship itu sangat penting, apalagi sudah pengalaman, sudah punya modal kalau mau (buka) usaha. Itu jauh lebih penting,” ucap Haryo. “Jadi saya katakan bahwa tidak boleh hanya berpaku pada pengetahuan yang didapat dari bangku kuliah saja tapi juga harus melihat informasi-informasi lain di luar kampus, harus belajar dalam arti belajar dari pengalaman, belajar dari orang lain,” lanjutnya. Haryo Suparmun berharap apa yang sekolah berikan kepada para siswa melalui kamp pendewasaan ini memberikan manfaat untuk mereka.

Editor: Metta Wulandari

Jurnalis : Yuliati, Fotografer : Yuliati

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'
Phone: 021-54397462
Fax: 021-54397573
Jl. Kamal Raya Outer Ring Road No.20
Cengkareng, Jakarta Barat 11730