Menjadi SMK Swasta Terbaik di Jakarta Barat, Ini Perjuangannya!

Prosesi kelulusan siswa-siswi Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng dilaksanakan secara bersamaan di Aula Jing Si, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara, pada Sabtu, 19 Mei 2018. Ada total 548 siswa-siswi, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan SMK.

Wajah Betty Theresia Sihombing, Kepala SMK Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng sumringah kala melepas 92 anak didiknya dalam upacara kelulusan di Aula Jing Si, Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara, pada Sabtu, 19 Mei 2018. Bukan tanpa alasan, berkat prestasi siswa-siswinya yang membanggakan dalam Ujian Nasional lalu, SMK Cinta Kasih kini menjadi SMK swasta terbaik se-Jakarta Barat. Tahun lalu SMK Cinta Kasih menyabet rangking kedua. Ada lima siswa yang meraih nilai sempurna di mata pelajaran Matematika dan satu siswa di Bahasa Indonesia.

“Kalau strateginya memang tidak jadi secara kilat ya. Dari kelas 10, 11, 12 kita sudah menggodok (menggembleng) anak. Jadi tidak dimulai di kelas 12 baru diforsir, tidak. Dari kelas 10 misalnya, Matematika itu harus ada MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), di mana soal-soal ujian nasional itu harus ditelaah oleh mereka,” terang Betty.

Ada lima siswa yang meraih nilai sempurna di mata pelajaran Matematika dan satu siswa di pelajaran Bahasa Indonesia. Prestasi ini pun mendongkrak posisi SMK Cinta Kasih Tzu Chi menjadi SMK swasta terbaik di urutan satu se-Jakarta Barat.

Di kelas 12, ketika siswa-siswi memulai tahun ajaran baru, Betty dan guru terkait sudah mulai melakukan pendalaman materi untuk empat mata pelajaran. Dengan kata lain pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta Kejuruan untuk kelas 12 ditambah jam belajarnya. Meski bertambah materi dan jam belajar, tak sepeserpun rupiah yang dikeluarkan oleh siswa. Para guru lah yang benar-benar bersedia meluangkan waktu untuk MGMP.

Tak cukup hanya di situ, guru lalu menelaah kemampuan siswa dari hasil try outyang sering digelar oleh sekolah. Dari sini para guru lalu menganalisis grafik nilai para siswa dan melaporkan hasilnya kepada orang tua siswa. Dari beberapa kali try out, grafik nilai siswa harus naik. Jika tetap monoton, guru akan memakai tutor sebaya, yakni memilih siswa yang lebih baik nilainya untuk mengajari temannya.

Betty Theresia Sihombing, Kepala SMK Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng berharap anak didiknya yang telah lulus dapat memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Bagi Betty, perjuangan para guru tak mengenal kata lelah. “Saya tanya gurunya nih, hasil anak bagaimana. Kalau ada anak yang tidak mengalami perkembangan, motivasinya kurang, kami selalu panggil orang tua. Karena yang namanya anak berhasil, bukan hanya dari sekolah, tapi dari anak itu sendiri dan dukungan dari orang tua,” tambahnya.

Menurut Rohila, pengawas SMK se-Jakarta Barat dari Suku Dinas Pendidikan, peringkat sekolah memang ditentukan berdasarkan capaian Ujian Nasional. Dari 116 sekolah SMK baik swasta maupun negeri di Jakarta Barat, SMK Cinta Kasih ada di peringkat ke-6, yang lima besarnya adalah sekolah negeri. Di DKI Jakarta, ada 580 SMK, dan SMK Cinta Kasih ada di peringkat 24. Karena itu prestasi yang diraih SMK Cinta Kasih Tzu Chi juga membuat Rohila bangga.

“Suatu prestasi yang membanggakan buat saya, salah satu sekolah binaan saya masuk ke peringkat elit lah. SMK Cinta Kasih Tzu Chi pada umumnya dari segi manajemen sudah stabil. Memang bukan sekolah yang dibuat asal-asalan, visinya jelas, mengedepankan kemanusiaan. Sehingga saya melihat nilai-nilai ini diturunkan dari puncak, dari Master Cheng Yen kemudian ini menginsipirasi bapak ibu gurunya sehingga guru-guru menjadi role model sehingga terbentuklah karakter anak,” ujar Rohila.

Rohila, pengawas SMK se-Jakarta Barat dari Suku Dinas Pendidikan (kanan) turut bahagia dengan meningkatnya peringkat SMK Cinta Kasih.

Bagi Rohila, jika seorang anak sudah kuat karakternya, untuk prestasi tidak akan menjadi persoalan yang berat. “Jadi memang Tzu Chi mengedepankan fondasinya dulu yang diperkuat. Anak kalau sudah disiplin, sudah bisa menghargai orang, yang sifatnya akademik tidak terlalu berat,” tambahnya.

Selain menyoroti manajeman di SMK Cinta Kasih, Rohila juga salut dengan Sumber Daya Manusia (SDM), di mana Betty yang menjadi kepala sekolah berkolaborasi dengan para guru. Kolaborasi ini menciptakan kekompakan sehingga semuanya mempunyai visi ke depan yang sama. Selain itu dukungan dari stake holder juga dinilainya sangat luar biasa, termasuk dari relawan Tzu Chi.

“Tzu Chi di-support oleh banyak orang. Dan yang tidak dimiliki oleh sekolah yang lain, di sini ada keterlibatan relawan. Ini sangat positif, memberikan kontribusi kepada sekolah. Mungkin sekolah lain ada yang namanya komite sekolah tapi kontribusinya terbatas. Tapi kalau relawan di sini luar biasa sekali membantu sekolah ini,” tambahnya.

Rohila sangat optimis peringkat SMK Tzu Chi akan terus naik jika proses perbaikan terus ditingkatkan. Faktor yang menjadi kekuatan harus dipertahankan, sementara yang masih menjadi kelemahan harus dibuang. Mendengarkan masukan dari Rohila, Betty semakin semangat untuk terus meningkatkan prestasi sekolah.

Besarnya Perhatian Guru


Novika Rahayumi, sangat bangga dengan prestasi siswa-siswinya.

Seperti yang disampaikan Betty, penggemblengan siswa sudah dimulai dari kelas 10. Di tahap ini guru-guru terutama wali kelas menghadapi satu tantangan yang membutuhkan kesabaran ekstra. Yakni bagaimana menyatukan para siswa yang berasal dari dua latar belakang, siswa yang berasal dari Rusun Cinta Kasih dengan siswa dari luar rusun.

Siswa yang berasal dari Rusun Cinta Kasih sendiri tidak menjalani tes karena bagaimanapun kondisinya mereka harus diterima. Selain dari siswa yang tinggal di rusun, sekolah juga menjaring siswa dari luar rusun dengan sistem seleksi, yang biasanya memiliki nilai akademis yang relatif lebih baik. Karena itu guru-guru di SMK Cinta Kasih harus membuat suatu metode pembelajaran yang bisa memfasilitasi semua siswa yang beraneka ragam ini. Itu juga yang dihadapi Novika Rahayumi, wali kelas serta guru pelajaran Bahasa Indonesia di SMK Cinta Kasih.

“Iya sangat berjuang menyamakan, apalagi saya kan salah satu wali kelas 11, hampir rata-rata siswa dari rusun dan sebagian adalah siswa luar. Kadang menyamakan mereka itu sangat sulit di awal-awal masuk. Karena mereka agak segan untuk saling bergabung,” cerita Novika yang sudah empat tahun mengajar di Sekolah Cinta Kasih.

Itu baru dari segi pergaulan. Belum dari sisi daya tangkap materi pembelajaran yang umumnya siswa dari luar lebih semangat belajar. Tapi Novika punya cara jitu menaklukkan tantangan ini, yakni mengajak siswa untuk bicara dari hati ke hati supaya mau saling berbaur. Jika dari sisi akademik kurang, ia akan menanyakan kenapa, lalu memberikan nasihat.

“Belajar itu tidak boleh malu bertanya, kalau kita mau sukses, kita harus melangkahkan kaki untuk bertanya. Kalau kita diam, memang ada yang mau kasih tahu? Enggak kan? Saya bilang seperti itu,” ujar Novika.

Di semester kedua biasanya sudah terlihat hasil usaha para guru ini. Semua siswa sudah membaur dan bahkan kompak saat tampil dalam acara-acara yang kerap digelar sekolah. Dila Oktaviana, siswi yang memperoleh nilai 100 di pelajaran Bahasa Indonesia merasakan betul bagaimana para guru memberikan perhatian yang besar kepadanya dan teman-temannya.

“Guru-guru di Tzu Chi itu sangat-sangat mendukung siswa-siswanya. Dari kelas 4 sampai saya kelas 12 SMK, semua guru baik-baik. Mereka mengajar dengan hati yang sabar tentunya. Bahkan ketika ada teman saya yang benar-benar susah untuk diajarkan, mereka benar-benar sabar,” kata Dila.

Semangat Melanjutkan Jenjang Lebih Tinggi


Dila Oktaviana, siswi peraih nilai 100 di pelajaran Bahasa Indonesia ini memiliki kenangan yang mendalam tentang guru-guru di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi di mana ia telah mengenyam pendidikan di sini selama sembilan tahun.

Seminggu sebelum Ujian Nasional, nenek Dila meninggal dunia. Para guru, terutama Novika terus menyemangatinya. Dila sangat bersyukur tetap dapat berkonsentrasi menjalani Ujian Nasional. Punya target, begitu cara Dila menyiapkan diri menghadapi ujian nasional.

“Sebenarnya saya bukan orang yang rajin atau getol belajar, tapi saya itu orangnya punya target, punya tujuan, di depan itu harus menggapai apa sih. Setiap hari saya punya target, misalnya hari ini harus menghapal minimal satu rumus. Baik itu matematika atau Bahasa Indonesia itu sendiri. Apalagi Bahasa Indonesia itu juga banyak yang harus dihapal, seperti majas atau cara membuat kesimpulan,” kata Dila.

Selain guru, tentu dukungan orang tuanya lah yang paling berperan bagi Dila. Ibunya, Ruminah yang juga bekerja di bagian Tata Usaha SMK Cinta Kasih merasa sangat bangga dengan kesungguhan anaknya.

“Saya lihat nilainya itu saya langsung menangis. Terharu saya, bangga sekali saya sama Dila. Apalagi anaknya juga mudah diberi tahu. Kami orang tua sama-sama bekerja. Jadi Dila melihat perjuangan orang tua. Memang dia dasarnya anak yang rajin trus melihat perjuangan orang tua, jadi dia berusaha untuk bisa sukses,” katanya.

Dila yang bercita-cita bekerja di Kementerian Keuangan pun kini menyiapkan diri supaya lolos diterima kuliah di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Betty, sang kepala sekolah, memiliki harapan pada Dila dan 91 anak didiknya yang kini telah lulus dari SMK Cinta Kasih Tzu Chi.

“Harapan saya seperti yang diharapkan Master Cheng Yen, kembali ke masyarakat itu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang sekitarnya. Itu yang paling penting. Apakah bermanfaat di dunia kerja ataupun pada saat di kampus, anak-anak ini agar tidak pernah lupa apa yang sudah kami tanamkan, cinta kasih yang sudah kami berikan, bisa ditularkan kepada orang-orang di sekitarnya di manapun dia berada,” ujar Betty.

Editor: Arimami Suryo A.

Jurnalis : Khusnul Khotimah , Fotografer : Khusnul Khotimah

 

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'
Phone: 021-54397462
Fax: 021-54397573
Jl. Kamal Raya Outer Ring Road No.20
Cengkareng, Jakarta Barat 11730