Memanen Sayuran Hidroponik

03 Desember 2020 Jurnalis : Dok. Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng
Fotografer : Dok. Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng

Para guru Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng memanen pakcoy dan selada air yang telah ditanam dengan proses hidroponik.

Senin, 30 November 2020, para guru Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng memanen tanaman hasil hidroponik dengan sistem rakit apung yang telah ditanam sebulan sebelumnya. Dua jenis tanaman, yakni pakcoy dan selada air berhasil tumbuh dengan baik dan memuaskan. Dari 108 bibit, 100 di antaranya berhasil dipanen dalam kondisi baik.

“Pertama saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Suriadi (Kepala Sekertariat Tzu Chi Indonesia) yang sudah membimbing kami dalam proses penanaman hidroponik hingga akhirnya bisa panen. Tentunya senang sekali, apalagi liat seladanya yang lumayan bagus, karena waktu perawatan hampir gagal. Setelah dibantu dengan lingkaran bambu untuk menyangga daun seladanya, ternyata dia bisa tumbuh segar,” kata Supina, Koordinator Tim Budaya Humanis Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng yang menginisiasi penanaman hidroponik ini.

Hasil sayuran yang telah dipanen sementara ini dibagikan ke tiap unit di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng.

Bao Bing, relawan pendamping pendidikan Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng juga merasakan hal yang sama. “Senang sekali ya. Tidak menyangka bisa berhasil, ternyata segala sesuatu kalau niat pasti bisa terlaksana,” ungkapnya.

Hasil sayuran tersebut sementara ini dibagikan ke tiap unit di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. Harapannya nantinya seluruh unit bisa ikut mengajarkan kepada siswa dan mempraktikkan penanaman hidroponik ini untuk membantu penghijauan di lingkungan sekolah dan bisa juga dilakukan di lingkungan rumah masing-masing.

Bao Bing, relawan pendamping pendidikan Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng juga merasa senang bisa ikut memanen sayuran hidroponik.

“Waktu belajar teori hidroponik rasanya susah dan ribet, tapi setelah praktik ternyata gampang. Konsep pertamanya penting, yakni tempatnya yang full sinar matahari, juga rumah (atap) hidroponik yang aman dari air hujan. Satu lagi airnya harus mengalir agar kandungan oksigennya bagus,” ungkap Supina berpesan.

Setelah dipanen, para guru juga kembali menanam 108 bibit di lokasi hidroponik yang sama. “Kita sama-sama berdoa supaya bibitnya bisa tumbuh dengan subur seperti sebelumnya. Intinya jangan takut gagal. Kalau ada kendala, dicari solusinya. Kalau masih gagal, kita harus berani untuk terus mencoba lagi,” tukas Supina.

Editor: Metta Wulandari

Sumber : tzuchi.or.id

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *