Meningkatkan Literasi Berbahasa Mandarin Lewat Pendidikan

Jurnalis : Chrestella Budyanto (Tzu Chi School) , Fotografer : Tim Tzu Chi School

Yanti Hanafiah, General Manager Kinokuniya Indonesia (tengah) berfoto bersama pustakawati dari Sekolah Tzu Chi Indonesia dan Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng.

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” (Mohammad Hatta)

Ungkapan itulah yang sering diutarakan Umi As’adah, pustakawati Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat. Menurut wanita yang akrab disapa Ibu Umi ini, “Kita bisa menemukan apa saja lewat buku.”

Hari Kamis, 6 Februari 2020, Ibu Umi beserta jajaran pendidikan Sekolah Tzu Chi Indonesia, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara menyambut kedatangan jajaran Toko Buku Kinokuniya Indonesia, untuk acara serah terima donasi buku berbahasa Mandarin yang diperuntukan untuk pengembangan Misi Pendidikan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

General Manager Kinokuniya Indonesia, Yanti Hanafiah, menyatakan, “Kami ingin anak-anak mencintai buku, terlebih lagi kita tahu bahasa Mandarin sebagai bahasa terbesar kedua di dunia akan semakin dibutuhkan.”

Umi As’adah (kanan), pustakawati Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng mengatakan penting bagi siswa untuk menguasai bahasa asing, terutama bahasa Mandarin. 

Dengan buku-buku yang menarik, tentu dapat membantu menghindarkan anak dari kecenderungan bermain gawai (smartphone). “Anak-anak sekarang lebih senang main games di hp mereka. Kita ingin meningkatkan minat baca biar nggak main games terus,” tambah Yanti.

Kinokuniya sendiri, selain lewat donasi buku juga memiliki berbagai kegiatan untuk meningkatkan literasi anak, salah satu kegiatan yang sering diadakan adalah lomba story telling, atau mendongeng. Lomba mendongeng ini tentu akan mendorong anak-anak untuk rajin membaca, serta melatih kepercayaan diri mereka.

Baik Sekolah Tzu Chi Indonesia maupun Sekolah Cinta Kasih Cengkareng adalah sekolah dengan tiga bahasa yakni bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Mandarin dalam pembelajarannya. Murid-murid di kedua sekolah ini juga diajak untuk aktif berperan serta dalam kompetisi-kompetisi mendongeng dalam bahasa Mandarin.

Menurut Umi, pustawati Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, bahan bacaan yang bervariasi serta jumlah buku yang memadai penting demi menunjang dan mempersiapkan anak-anak untuk mengikut lomba mendongeng. “Ya kalau lomba story telling kan bukunya harus macam-macam, harus ada bahan yang baru, sedangkan mencari buku berbahasa Mandarin itu sulit sekali kalau nggak online.

Yanti Hanafiah bersama kepala sekolah TK Tzu Chi, Iing Felicia Joe ketika berkunjung ke perpustakaan TK Tzu Chi. 

Di toko-toko buku sendiri masih sulit mencari buku berbahasa Mandarin yang sifatnya bacaan untuk hiburan. “Kalau kita ke toko-toko buku, sulit sekali cari buku Mandarin, terutama buku-buku cerita. Kalau buku-buku panduan untuk belajar atau untuk tes-tes HSK gitu memang sudah ada ya. Tapi itu kan untuk belajar ya bukan untuk hiburan,” tutur Umi.

Selain itu, Umi juga menyadari pentingnya penguasaan bahasa kedua maupun ketiga setelah bahasa ibu, “Belajar bahasa itu pentingnya sudah tidak bisa dinafikan, sekarang bahasa yang menguasai dunia itu ada dua: Inggris dan Mandarin. Ini dikarenakan percaturan ekonomi sedang dikuasai oleh Eropa, Amerika, dan Tiongkok maka mau tidak mau kita harus bisa berbahasa Mandarin kalau kita mau ikut bisa berperan aktif di dalam kancah dunia.”

Donasi buku dari Kinokuniya Indonesia berupa 1.885 buku berbahasa Mandarin yang  mayoritas genrenya adalah komik serta buku cerita untuk anak-anak. Selain itu, adapula beberapa buku yang dapat digunakan sebagai referensi bagi guru-guru dalam mengajar. Buku-buku tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat siswa untuk menikmati bacaan dalam berbahasa Mandarin sehingga lebih mudah dan cepat untuk menguasai bahasa Mandarin.

Editor: Hadi Pranoto

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *