Sekolah yang Bergelimang Prestasi

Jurnalis : Metta Wulandari
Fotografer : Dok. Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi

Para siswa siswi SMK Cinta Kasih Tzu Chi berfoto bersama guru pembimbing mereka, Bu Darningsih di sebelah kanan dan Bu Tussi Triandini di sebelah kiri. Mereka memegang piala yang mereka peroleh dari berbagai lomba yang mereka ikuti.

Baru-baru ini, siswa siswi Sekolah Cinta Kasih (SCK) Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat menorehkan berbagai prestasi. Tim dari SMA dan SMK ini seperti tengah kebanjiran juara. Berikut daftarnya:

  • Jonathan Wijaya: Juara 1 Lomba Pidato Kebangsaan Tingkat Jakarta Barat.
  • Cindy Jonathan, Vinnie Tanica, Velisa Stevannie: Juara 3 Lomba Ekonomi Akuntansi Tingkat DKI.
  • Vito Bakri: Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat DKI.
  • Jesselyne: Juara Harapan 2 Lomba Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran.
  • Lorensia: Juara 2 Lomba Akuntansi Tingkat Kotamadya.
  • Roger Julianto Angryawan: Juara 1 Lomba Web Technologies Tingkat Tingkat Kotamadya.
  • Cecelia Khudinata: Juara 2 Lomba Story Telling Mandarin.
  • Roger Julianto Angryawan dan Tim: Juara 2 Lomba Pembuatan Film Dokumenter, memperebutkan PIALA PADMA 2019.
  • Juara 1 Lomba Futsal Putra dari Trisakti School of Management.
  • Juara 2 Lomba Basket Putra dari Trisakti School of Management.
  • Juara 1 Lomba Futsal Putri dari SMA TARAKANITA 2.
  • Juara 1 Lomba Futsal Putri dan Juara 2 Lomba Futsal Putra dari SMAK 6 PENABUR.

Calon Pendiri Startup dari SMK Cinta Kasih

Perolehan berbagai kejuaraan tersebut tentunya memacu semangat para siswa dan memotivasi yang lainnya, termasuk guru dan teman-teman sebaya di sekolah mereka. Tak pelak juga membuat bangga keluarga dan pastinya pihak sekolah.

Saat ditanya tentang rahasia apa yang para siswa ini punya, salah satu dari mereka, Roger Julianto Angryawan, Juara 1 Lomba Web Technologies Tingkat Kotamadya mengaku tidak punya rahasia. “Saya memang mempunyai minat yang besar dalam bidang programming,” katanya, “nggak ada rahasia apa-apa.”

Roger Julianto Angryawan, siswa kelas XI SMK Cinta Kasih, Juara 1 Lomba Web Technologies Tingkat Tingkat Kotamadya ketika menerima predikat juara 

Dalam perlombaan tersebut, Roger, panggilan akrabnya berhasil menyelesaikan soal dengan tantangan membuat sebuah website dengan tema tentang Travel Web. Seperti travel web pada umumnya, dalam website itu ia dituntut untuk menyediakan agen travel, paket-paket tujuan wisata dan lainnya, serta user yang bisa memesan paket-paket tersebut.

Dengan kendala dan detil web yang rumit serta sempat mengulang dan membuat pemrograman dari awal karena alasan teknis (listrik padam). Roger nyatanya bisa membuktikan bahwa ia layak menerima predikat juara.

Roger, memang terlihat menonjol dalam bidang IT. Guru pembimbingnya, Darningsih, S.T menuturkan bahwa siswa kelas XI itu sejak masuk SMK sudah suka dengan pemrograman dan pembuatan aplikasi web. Kalau di kelas, kata Bu Ning, Roger sudah seperti Asdos (asisten dosen). Kalau di SCK, mareka menyebutnya sebagai tutor sebaya.

“Jadi pas kelas X (kelas 1), Roger saya ikut sertakan karena saya tahu minat dia di IT besar sekali. Terbukti waktu itu, tahun lalu, dia Juara 3,” cerita Bu Ning. Dari sana keyakinan Bu Ning makin besar akan potensi anak didiknya. “Tugas kami sebagai guru kan memberikan ilmu, dukungan, mengasah kemampuan siswa. Saya yakin Roger bisa, dan benar dia kini meraih Juara 1,” lanjut Bu Ning.

Jonathan Wijaya, siswa kelas XI SMA MIPA membawakan pidato kebangsaan dengan tema Aku Pahlawan Masa Kini yang membuatnya menjadi Juara 1 dari lomba yang diadakan oleh Kodim 0503, Jakarta Barat.

Mengambil jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) yang baru dibuka beberapa tahun ke belakang di SMK Cinta Kasih Tzu Chi, Roger berkeyakinan bisa meraih impiannya. Anak kedua dari dua bersaudara ini ingin mempunyai startup atau perusahaan games nantinya.

“Kuncinya sih belajar terus karena kalau tidak diasah, diulang, pasti lupa. Apalagi kalau di programming setiap hari ada yang baru. Makanya kita harus tetap update karena ilmu selalu berkembang,” ungkap Roger pasti.

Namun, walaupun ia sangat antusias dengan berbagai hal yang berbau teknologi dan digital, Roger tetap mengingatkan teman-temannya untuk tidak terlena. Terlebih dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan berbagai aplikasi saat ini.

“Memang berbagai hal dari teknologi sekarang memudahkan semua manusia untuk memenuhi kebutuhan tapi seakan menjadikan yang tidak dibutuhkan juga harus dipenuhi. Terutama ketika penggunaan uang digital sudah marak,” tuturnya serius. Budaya konsumtif itu kini harus dikendalikan oleh masing-masing individu. “Karena kalau tidak terkendali, dampak ke depannya akan negatif,” lanjut Roger menyoroti perkembangan berbagai hal digital.

Dari SMA Cinta Kasih ke Toronto, Kanada

Berbeda dengan Roger, beda juga dengan Jonathan Wijaya yang meraih juara 1 Lomba Pidato Kebangsaan Tingkat Jakarta Barat. Pidato bertema Menjadi Pahlawan Bagi Diri Sendiri dan Orang Lain yang ia bawakan di babak penyisihan berhasil mengantarnya ke jenjang final. Lalu tema Aku Pahlawan Masa Kini membuatnya menjadi Juara 1 dari lomba yang diadakan oleh Kodim 0503, Jakarta Barat itu.

Jonathan Wijaya menerima piala dan piagam dari Komandan Distrik Militer 0503 – Jakarta Barat Letkol Valian Wicaksono.

Jonathan mengatakan tema pertama yang ia bawakan mempunyai keistimewaan, bahwa kini setiap orang bisa menjadi pahlawan, termasuk diri sendiri. “Kalau kita mau berkontribusi dan mau berusaha, kita pun bisa jadi pahlawan untuk diri sendiri dan orang lain. Contohnya, sebagai murid rajin belajar yang hasilnya berkontribusi untuk masa depan kita sehingga kita adalah pahlawan bagi diri kita sendiri,” kata anak bungsu dua bersaudara ini.

Tak lepas dari tema Kepahlawanan, tema kedua yang sudah dipilihkan oleh pihak penyelenggara juga berhasil ia taklukkan. “Yang saya sampaikan dalam pidato kedua adalah tentang jangan takut berbuat, jangan takut mencoba. Teruslah membawa semangat para pahlawan di masa lalu untuk berkontribusi di masa kini, baik untuk negara, orang lain, dan diri sendiri,” ungkapnya.

Bisa menjadi seorang yang giat berlatih, ulet, dan percaya diri, Jonathan tentu mempunyai sosok inspirasi. Dia adalah seorang freestyler soccer atau pemain bola gaya bebas asal Amerika, Nick Seyda.

Nick adalah seorang anak yang awalnya sangat suka bermain bola tapi karena menderita suatu penyakit, dia tidak bisa lagi bermain dengan bebas. Tak putus asa, Nick mencari alternatif lain untuk menyalurkan bakatnya yakni dengan belajar freestyle soccer yang sampai saat ini dia geluti dan dia berhasil.

“Nick pernah bilang kalau setiap orang punya mentalitas masing-masing yang bisa membuat mereka sukses. Bila ditambah dengan kerja keras, pasti hasilnya jauh lebih baik,” kata Jonathan mengutip perkataan Nick yang membuatnya terinspirasi.

Jonathan sama sekali tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya di masa sekolah dengan menyerap sebanyak-banyaknya yang ia bisa juga mengasah kemampuannya dalam segala bidang. Maka dari itu, siswa kelas XI SMA MIPA ini kerap menerima setiap tawaran perlombaan. Baginya, semakin banyak pengalaman, semakin banyak pula pembelajaran. Terlebih ketika ia mempunyai target untuk mendapatkan beasiswa di University of Toronto, Kanada.

“Kalau saat ini, saya pengen jadi motivational speaker,” akunya penuh percaya diri.

Budaya Humanis Menjadi Dasar Pembentukan Karakter yang Kuat

Satu lagi yang membuat hati tertular rasa percaya diri, yakni Lorensia, siswa kelas XII SMK Cinta Kasih berhasil menjadi Juara 2 Lomba Akuntansi Tingkat Kotamadya. Dalam waktu persiapan yang lumayan singkat, Lorensia berhasil menunjukkan kemampuan akuntansi melawan lebih dari 100 siswa yang ikut dalam perlombaan.

Lorensia (kedua dari kanan), siswa kelas XII SMK Cinta Kasih berhasil menjadi Juara 2 Lomba Akuntansi Tingkat Kotamadya.

“Rasanya pasti senang karena bisa dipercaya untuk mewakili nama sekolah. Di samping itu, ada beban juga karena tentu ingin memberikan hasil yang maksimal,” kata Lorensia.

Bagi Lorensia, kunci percaya dirinya ada pada pemahaman. Asal seseorang paham konteks soal, paham apa yang diminta, pasti soal itu bisa diselesaikan dengan baik. “Kalau hanya menghapal, pasti ada lupanya, bingungnya. Tapi ketika memahami dan mengerti akan beda hasilnya. Kalaupun ketinggalan pelajaran, kita juga bisa pinjam catatan tapi tetap harus paham, jangan hanya mencatat saja,” tuturnya membagi tips belajar. Satu lagi tambahannya, harus disiplin dan sering berlatih, “karena dengan latihan, kita terus terasah.”

Guru pembimbingnya, Ibu Tussi Triandini, S.Pd sepakat dengan apa yang Lorensia ungkapkan. “Ya memang harus ada pemahaman dan usaha,” kata Bu Uci, panggilan karibnya. Bagi Bu Uci, menang pasti bisa diraih asal usaha sudah dilakukan dengan baik. “Sehingga para siswa juga tidak beban harus menang, yang penting mereka sudah memberikan yang terbaik,” lanjut guru Akuntansi ini.

Sebenarnya selain mata pelajaran di sekolah, Lorensia menyoroti hal-hal lain yang menjadikannya disiplin dan teratur, secara tidak langsung – baik dalam hal belajar dan berperilaku yang saling berpautan.

Sejak pertama masuk Sekolah Cinta Kasih, SMP kelas 1, 6 tahun lalu, Lorensia sudah merasa sangat berbeda karena seragam yang berbeda, tatanan rambut yang berbeda, serta peraturan yang ia rasa sangat ketat dan disiplin. Sekolah juga mengajak siswa untuk tidak menggunakan plastik dalam hal apapun, makanannya vegetaris, ada pelajaran budaya humanis, dan pelestarian lingkungan.

“Gampangnya kami tuh bener-bener ditekankan untuk menjadi anak baik di sini, jadi sebisa mungkin tidak mau mengecewakan. Itu juga terbawa sampai rumah. Dan kalau pakai seragam sekolah kemana-mana juga harus kontrol attitude,” katanya tertawa. “Jadi harus membawa dan mewakili nama sekolah dengan baik,” tambahnya.

Para siswa Sekolah Cinta Kasih berfoto bersama siswa siswi dari sekolah lainnya yang sama-sama berjuang mengharumkan nama sekolahnya.

Eko Rahardjo yang menemani para siswa hari itu mengangguk-angguk ketika mendengar perkataan Lorensia. Guru mata pelajaran Agama Islam dan budaya humanis itu sepakat bahwa budaya humanis terbukti membentuk karakter dan kepribadian baik dari para siswa.

“Orang mungkin berpikir Sekolah Cinta Kasih hanya konsen di budaya humanis. Namun karena budaya humanis, maka timbul kedisiplinan, karakter yang baik, hingga berdampak ke motivasi, semangat. Semua nilai positif dari dalam diri anak terdorong keluar bukan hanya untuk menyelesaikan tugas semata. Dampaknya para siswa juga mampu menyadari tanggung jawab terhadap diri sendiri sehingga belajar dengan kesadaran masing-masing. Mereka mempunyai tujuan belajar yang jelas,” papar Eko.

Mempertahankan Predikat Terbaik

Tidak dipungkiri, berbagai predikat yang diterima oleh sekolah dan siswa adalah berkat kerja sama seluruh pihak. Terlebih dengan pendampingan, support yang sangat intensif juga standar pembekalan guru di Sekolah Cinta Kasih yang sungguh-sungguh, tidak ada yang perlu diragukan walaupun ada ungkapan yang mengatakan bahwa mempertahankan itu lebih sulit daripada meraihnya.

“Jadi pada dasarnya kita harus satu tujuan, harus ada arah yang jelas. Kalau tidak ada arah dan tujuannya memang akan nggak jelas. Tapi begitu kita tujuannya ada, sama persepsinya. Pasti bisa tercapai kalau semua kerja sama dan usaha dari bapak ibu mendampingi anak-anak memberikan bimbingan pendalaman materi itu maksimal. Puji Tuhan, ini bisa bertahan,” ungkap Betty Theresia Sihombing, Kepala SMK Cinta Kasih.

Untuk mendampingi siswa, guru juga butuh sesuatu yang baru. Betty selalu berpesan kepada para guru untuk terus mengisi diri, mengupdate kemampuan dan memahami perkembangan zaman. Ia juga paling tidak suka ketika melihat guru yang merasa sudah paling tahu semuanya.

“Guru yang berhenti belajar, maka dia harus berhenti menjadi guru. Berikanlah yang maksimal, jangan hanya suam suam kuku, kalau panas sekalian panas, dingin sekalian dingin. Kalau suam suam itu ragu saya lihatnya. Sekalian mau jadi virus atau berprestasi,” katanya tegas namun bersahabat.

Editor: Hadi Pranoto

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *