601 BERBAGI MENUMBUHKAN RASA SYUKUR DAN KEPEDULIAN
Di tengah rutinitas dunia modern yang menuntut kita untuk terus mengejar lebih banyak hal entah itu pencapaian, materi, atau status kita sering kali lupa untuk berhenti sejenak dan melihat sekeliling. Kita terjebak dalam perlombaan yang membuat kita fokus pada apa yang belum kita miliki, hingga mengabaikan apa yang sudah ada di tangan. Menariknya, ada satu cara sederhana memutus lingkaran ketidakpuasan tersebut yaitu berbagi. Berbagi adalah jembatan alami yang menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian.
29 Mei merupakan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN), Sekolah Cinta Kaih Tzu Chi dalam kegiatan Ai De Xi Wang bulan mei merayakan kegiatan berbagi kepada lansia yang ada di rusun Cinta Kasih Tzu Chi. Pagi itu, udara di balai warga Rusun Cinta Kasih Tzu Chi terasa berbeda. Suasana mendadak riuh oleh suara langkah kaki kecil dan tawa renyah anak-anak berseragam Ai De Xi Wang. Celotehan polos anak-anak ini memancing tawa renyah sang nenek dan kakek, mengusir sepi yang biasanya setia menemani.
Kegiatan ini menjadi jembatan yang indah antara dua generasi yang terpaut jauh. Di satu sisi, para lansia di Rusun Cinta Kasih mendapatkan kehangatan keluarga yang mungkin jarang mereka rasakan. Di sisi lain, anak-anak belajar satu hal penting yang tidak bisa diajarkan oleh lembar soal ujian yaitu empati.
Dalam kegiatan berbagi guru sekolah cinta kasih tzu chi juga ikut menyiapkan kegiatan ini di antaranya membagikan kupon ke rumah-rumah sampai dengan packing bingkisannya yang akan di bagi. Kedatangan lansia di sambut hangat oleh anak-anak. Bagi anak-anak ini, kegiatan berbagi bukan sekadar tugas sekolah yang tertulis di buku rapor. Ini adalah praktik langsung dari apa yang sehari-hari mereka dengar di kelas tentang welas asih.
Mereka belajar melihat bahwa di balik keriput wajah dan langkah kaki yang mulai lambat, ada jiwa-jiwa yang butuh didengar dan dihargai. Ketika matahari mulai meninggi, berarti kegiatan akan segera berakhir . Ada pelukan hangat dan usapan lembut di kepala dari para lansia sebagai tanda terima kasih.
Salah satu anak yang bernama George hari itu juga ia sharing kepada teman – teman bahwa ia mengingatkan satu hal: Lansia bukan ladang beban, melainkan ladang pahala dan berkah. Jangan biarkan masa tua mereka sepi . Sekecil apa pun yang kita berikan, bagi mereka itu adalah bukti bahwa mereka masih dianggap dan dicintai oleh dunia ini.
Hari itu, anak-anak sekolah Cinta Kasih Tzu Chi pulang dengan tangan kosong, tetapi hati mereka penuh. Mereka tidak hanya membagikan paket fisik, tetapi juga meninggalkan jejak kebahagiaan. Sebuah bukti nyata bahwa cinta kasih, sekecil apa pun bentuknya, selalu punya cara untuk menghangatkan hati yang sepi.