Konsep Perkalian yang Sering Diabaikan, Padahal Sangat Dibutuhkan Anak
Banyak anak mampu mengingat hasil dari suatu perkalian dengan cepat tanpa harus berpikir lama. Namun, ketika ditanya bagaimana bentuk penjumlahan berulang dari perkalian tersebut, tidak sedikit anak yang justru masih kebingungan dan menjawab dengan jawaban yang belum tepat. Konsep perkalian sebagai bentuk penjumlahan berulang, terkadang dianggap tidak terlalu penting, yang penting anak hapal hasil dari suatu perkalian, padahal konsep perkalian merupakan fondasi awal untuk membangun kemampuan berpikir matematis mereka.
Mengapa konsep perkalian penting? Karena dalam kehidupan nyata, manusia sebenarnya berpikir menggunakan “kelompok”, bukan langsung hasil abstrak. Contoh sederhana yaitu, misalnya guru membagikan buku kepada lima orang anak dimana masing-masing anak mendapat tiga buku, menghitung roda kendaraan, menghitung jumlah kaki hewan, semuanya menggunakan ide pengelompokkan. Jika anak memahami konsep pengelompokkan sejak awal, mereka akan lebih mudah memahami materi maupun soal-soal yang berkaitan dengan perkalian.
Berdasarkan hal tersebut, guru sebagai fasilitator pembelajaran memliki peran penting dalam membantu membangun pemahaman konsep perkalian secara lebih bermakna, bukan hanya sekedar menghafal hasilnya. Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak melalui penggunaan benda nyata, permainan maupun aktivitas sederhana yang melibatkan pengelompokkan. Melalui strategi pembelajaran tersebut, anak dapat memperoleh pengalaman langsung bahwa perkalian adalah proses penjumlahan berulang dari kelompok benda dengan jumlah yang sama.

Siswa kelas II SD di SDS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng pada akhir semester dua mulai dibekali dengan konsep perkalian. Hal ini sebagai dukungan guru dalam penguatan numerasi di kelas rendah. Guru merancang strategi pembelajaran sederhana dengan menggunakan benda nyata yang dekat dengan mereka seperti menggunakan piring, gelas, biji-bijian atau manik-manik untuk belajar konsep perkalian sebagai bentuk penjumlahan berulang. Siswa belajar perkalian melalui pengalaman langsung, diawali dengan mengambil kartu perkalian, kemudian menyusun piring dan manik-manik sesuai perkaliannya, lalu siswa menyebutkan penjumlahan dari pengelompokkan tersebut. Misalnya, 4 x3, siswa menyusun 4 piring dan mengisi setiap piring dengan jumlah manik-manik sebanyak 3 pada setiap piringnya. Setelah itu, mereka menyebutkan bentuk penjumlahan berulangnya yaitu, 3+3+3+3, lalu menghitung hasilnya.
Selain bermain dengan benda nyata, siswa juga diajak bermain engklek untuk memperkuat konsep perkalian. Mereka mengambil kartu angka, kemudian melompat sesuai dengan kelipatannya. Misalnya ketika kartu yang diambil adalah angka tiga, maka mereka harus menyebutkan kelipatan tiga dengan cara menjumlahkan secara berulang, jika jawabannya benar maka bisa melompat ke kotak selanjutnya. Melalui permainan ini, siswa tidak hanya terlihat antusisas, tetapi mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka sedang belajar konsep perkalian. Kegiatan bermain engklek membuat suasana belajar menjadi lebih aktif dan menyenangkan. Mereka terlihat bersemangat menunggu giliran sambil berusaha menyebutkan kelipatan dengan benar agar dapat melanjutkan lompatan ke kotak berikutnya. Melalui aktivitas ini, mereka belajar menghubungkan antara penjumlahan berulang, kelipatan, dan bentuk perkalian.
Melalui pembelajaran sederhana dengan benda nyata dan permainan tradisional, siswa tidak hanya belajar menghitung hasil perkalian, tetapi juga memahami bagaimana suatu perkalian terbentuk. Pengalaman belajar yang melibatkan aktivitas langsung dapat membantu anak membangun pemahaman yang lebih kuat dan bermakna. Pemahaman konsep matematika sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun kemampuan berpikir marematis anak pada jenjang berikutnya. Saat anak memahami prosesnya, mereka akan lebih percaya diri dalam menghadapi soal-soal maupun materi yang lebih kompleks di masa mendatang. Sejalan dengan hal tersebut, Master Cheng Yen mengatakan dalam kata perenungannya bahwa:
Pendidikan anak adalah mengajarkan tata krama, mengasuh budi pekerti, menunjukkan jalan dan memandu ke arah yang benar.
Melalui pembelajaran yang bermakna dan dekat dengan kehidupan anak, guru tidak hanya mengajarkan angka, tetapi juga membantu anak belajar memahami proses, berpikir, dan bertumbuh dengan penuh semangat dalam belajar.
Penulis: Widiastuti