Alarm Darurat Kesehatan Mental Anak dan Tantangan Dunia Pendidikan

Oleh : Fatmi Fazriah, S.Pd.

Tepat di penghujung Januari 2026, Indonesia dikejutkan dengan kabar duka dari Kabupaten Ngada, NTT. Y (10), seorang siswa kelas 4 sekolah dasar, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. “Mama saya pergi dulu, mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama,” demikian penggalan surat yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Sementara ibunya yang seorang petani dan orangtua tunggal harus mengurus empat anak lainnya di kampung berbeda.

Fakta di balik Y (10) mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis untuk bersekolah. Kasus ini sudah menjadi bukti Alarm Darurat Nasional untuk Dunia Pendidikan, dalam dunia Pendidikan keterkaitan Kesehatan mental anak sangat di perlukan pada zaman sekarang yang dimana anak berkembang dengan teknologi dan memiliki zaman yang pola berfikir “hitam dan putih” . Maka jika orangtua tidak bisa memberikan singnal peringatan untuk dirinya kepada anak, maka Guru yang harus ikut bergerak, Guru memiliki peran srategis yang tidak bisa digantikan siapa pun dengan adanya “Bangun jembatan dengan keluarga”.

Keterlibatan aktif keluarga dalam proses pemilihan anak melalui komunikasi positif Guru dapat menjadi fasilitator yang menghubungkan anak dengan dukungan keluarga yang ia butuhkan. Namun kita lihat sekarang pada akhirnya kehadiran orang dewasa yang peduli di sekitar anak adalah faktor yang peling menentukan siap dan tidak siap. Sebagai guru kita memiliki kesempatan emas untuk menjadi orang dewasa yang hadir untuk melihat, mendengar, dan memeluk mereka sebelum semuanya terlambat.

Add a Comment

Your email address will not be published.