GURU ADALAH KUNCI: Membangun Pendidikan Berkarakter di Tengah Polemik Nasionalisme
Oleh : fatmi fazriah, S.Pd.
Jakarta, 22 Februari 2026 Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan Indonesia tahun 2026, dua peristiwa besar menyita perhatian publik: upaya masif pemerintah meningkatkan kualitas guru dan kontroversi viral seorang alumni LPDP yang mempersoalkan kewarganegaraan anaknya. Dua peristiwa ini, meski berbeda ranah, sama-sama berpusat pada satu kata kunci: guru sebagai kunci masa depan bangsa. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti kembali menegaskan komitmen pemerintah bahwa “pendidikan yang bermutu hanya bisa terwujud jika gurunya bermutu dan sejahtera. Guru adalah kunci”.
Di tengah upaya pemerintah membangun mutu pendidikan, publik dikejutkan oleh pernyataan Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas, seorang alumni penerima beasiswa LPDP. Dalam sebuah unggahan video yang viral, ia memperlihatkan surat resmi dari Home Office Inggris yang menyatakan anak keduanya resmi menjadi warga negara Inggris . “Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA,” katanya dalam konten tersebut . Pernyataan ini sontak memicu amarah netizen, terlebih karena statusnya sebagai penerima beasiswa yang dibiayai uang rakyat.
Dua peristiwa ini—penguatan peran guru dan kontroversi nasionalisme alumni LPDP—saling terkait erat. Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan rasa cinta tanah air peserta didik. Guru adalah kunci dari keduanya. Guru yang berkualitas akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara karakter dan nasionalisme. Dengan alokasi anggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya dan perhatian serius dari berbagai pemangku kepentingan, harapan besar tersemat pada para guru Indonesia untuk menjadi penjaga sekaligus pembentuk masa depan bangsa.