Jangan Lupakan Awal yang Sederhana: Celengan Bambu sebagai Nafas Tzu Chi
Enam puluh tahun perjalanan Tzu Chi bukanlah waktu yang singkat. Dari sebuah tekad sederhana di sebuah griya kecil di daerah Hualien, Taiwan, kini Tzu Chi telah berkembang menjadi gerakan kemanusiaan yang menjangkau berbagai belahan dunia. Dalam ceramahnya Master Cheng Yen di awal tahun 2026 pada Pemberkahan Akhir Tahun disebutkan sudah mencapai 139 negara yang mendapat bantuan dari Misi amal Yayasan Tzu Chi. Sehingga di tengah gemilangnya jejak kemanusiaan, tema tahun ini mengingatkan kita kembali : Jangan Lupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu. Selamanya Mengingat Ikrar Agung Silsilah Dharma dan Mazhab Tzu Chi.
Segala sesuatu berawal dari kesederhanaan sebuah tindakan kecil yang konsisten dan mengajak banyak orang berdana menggugah hati tanpa mempengaruhi ekonominya. Ketika Master Cheng Yen menyaksikan penderitaan orang sakit dan kemiskinan di sekitarnya, beliau tidak memulai dengan dana atau organisasi besar. Beliau memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana; Bagaimana menumbuhkan hati welas asih dalam kehidupan sehari-hari ? Jawabannya lahir melalui gerakan kecil yaitu tiga puluh ibu rumah tangga menyisihkan 50 sen setiap hari ke dalam celengan bambu.
Mengapa setiap hari? Mengapa bukan sebulan sekali dengan jumlah yang sama? Karena yang ingin ditanamkan bukan sekadar jumlah dana, melainkan niat baik setiap hari. Setiap pagi sebelum ke pasar, ketika seseorang menyisihkan uang belanja, pada saat itulah ia menanam satu benih welas asih. Sedikit demi sedikit bukan hanya uang yang terkumpul, tetapi hati yang terlatih untuk peduli. Inilah makna terdalam dari filosofi “Dana kecil , amal besar.”
Masa celengan bambu bukan sekadar catatan sejarah awal berdirinya Tzu Chi pada 14 Mei 1966. Ia adalah nafas yang terus menghidupi Mazhab Tzu Chi sebagai praktik nyata hingga hari ini. Dari Griya Jing Si yang sederhana lahirlah prinsip kemandirian “Sehari tidak bekerja, sehari tidak makan.” Dari kehidupan dan tekad yang besar untuk membantu menghilangkan penderitaan orang lain, maka tumbuhlah empat misi dan 8 jejak langkah Dharma yang kini dikenal luas oleh dunia. Namun akar semuanya tetap satu yaitu tekad awal yang murni dan sederhana.
Griya Jing Si disebut sebagai akar Tzu Chi bukan karena bangunannya, melainkan karena nilai yang bertumbuh di dalamnya. Di sanalah praktik hidup sederhana, disiplin, dan welas asih dijalankan secara nyata. Jing Si bukan hanya tempat, namun adalah sumber semangat. Celengan bambu menjadi simbol bagaimana akar itu mulai menumbuhkan dan menyebarkan kebajikan, serta mengajak banyak orang untuk kebaikan dunia yang kini tersebar di berbagai negara dengan jutaan relawan di seluruh dunia.
Semangat masa celengan bambu bukanlah kisah yang berhenti di masa lalu, namun terus mengakar dan bertumbuh dari generasi ke generasi. Di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, nilai ini tidak hanya diajarkan sebagai materi sejarah, tetapi dihidupi dalam keseharian. Celengan bambu tetap dijalankan sebagai praktik nyata menanamkan kepedulian, welas asih dan kebiasaan berdana sejak dini. Setiap keping yang dikumpulkan menjadi simbol niat baik yang dipupuk secara konsisten setiap hari.

Gambar : Penuangan celengan bambu di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng
Melalui generasi muda, tekad sederhana itu terus diwariskan. Anak-anak belajar bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari hal besar, melainkan dari niat kecil yang dilakukan bersama dan terus-menerus. Mereka belajar bahwa satu kebajikan dapat menghalau ribuan bencana. Disini mereka memahami bahwa warisan terbesar Tzu Chi adalah hati yang terlatih, tumbuh untuk peduli dan mau bersumbangsih.
Master Cheng Yen pernah mengatakan “Kesungguhan hati dalam mencermati, mendengar, dan mengerjakan sesuatu akan memberikan manfaat selama hidup”. Maka ketika para siswa dengan tulus menyisihkan sebagian kecil dari miliknya ke dalam celengan bambu, mereka sedang melatih kesungguhan hati itu. Mereka sedang menjaga agar akar Tzu Chi tetap kuat dan tidak hilang oleh perkembangan jaman. Di tengah perjalanan panjang enam puluh tahun ini, menjaga tekad awal menjadi tanggung jawab bersama. Jadi jangan lupakan tekad awal yang sederhana, karena dari bumbung kecil itulah tumbuh kebajikan yang hari ini telah membantu meringankan penderitaan banyak orang dan menaungi dunia.
Penulis : Teguh Ika Rohyani, SP.