Menumbuhkan Cinta Al-Qur’an Melalui Pembelajaran Agama Islam dengan Pembuatan Frame Al-Qur’an
Pembelajaran agama Islam (PAI) di sekolah tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penguatan spiritual pada diri peserta didik. Salah satu tantangan dalam pembelajaran PAI adalah bagaimana menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, bermakna, dan yang dapat diterima dalam hati anak-anak.
Salah satu inovasi yang saya lakukan didalam pembelajaran adalah pembuatan frame Al-Qur’an (bingkai gambar Al-Qur’an). Kegiatan ini mengintegrasikan unsur seni, kreativitas, literasi Al-Qur’an, serta internalisasi nilai-nilai keislaman dalam satu aktivitas yang menarik dan aplikatif.
Kamis, 12 Februari 2026, saya mengajak anak-anak kelas 1SD membuat project dari bahan sederhana untuk pembuatan frame Al-qur’an tersebut. Bahannya tidak susah dicari, mulai dari kardus bekas, stik es krim, gambar sketsa Al-Qur’an serta lem dan gunting serta pita untuk menggantungkan frame yang sudah jadi untuk dipajang di kelas ataupun di rumah masing-masing.
Kegiatan ini bukan hanya sekadar aktivitas seni, melainkan proses pembelajaran yang utuh. Siswa tidak hanya membaca ayat, tetapi juga memahami makna mencintai Al-Qur’an, dengan menuangkannya dalam karya visual yang mereka buat sendiri. Dalam proses tersebut, pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Anak-anak merasa memiliki kedekatan emosional dengan sketsa Al-Qur’an yang mereka warnai dan hias, sehingga bentuk rasa mencintai dan memiliki Al-Qur’an dapat dirasakan dalam benak hati anak-anak. Kehadiran frame ayat Al-Qur’an tersebut menjadi pengingat visual yang terus menerus tentang nilai-nilai kebaikan. Secara tidak langsung, pembelajaran melampaui batas ruang kelas dan masuk ke dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Dalam kegiatan project ini saya berharap dapat memberikan dampak yang luas untuk anak-anak . Dari sisi spiritual, siswa belajar mencintai Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai pedoman hidup. Dari sisi kognitif, mereka terlatih memahami bahwa sebagai umat Islam kita harus senantiasa mencintai dan melihat Al-Qur’an setiap harinya. Dari sisi psikomotorik, keterampilan motorik halus dan kreativitas mereka berkembang melalui proses menghias dan merancang bingkai. Mereka pun sangat antusias sekali saat ada project seperti ini. Mereka saling bertukar pikiran menceritakan karya projectnya bersama teman-temannya di kelas. Tak hanya itu, ada yang menyebutkan “Aku ingin memiliki Al-Qur’an dengan warna seperti yang aku warnai”.
Dalam pelaksanaan pembuatan project ini tentunya terdapat tantangan, seperti keterbatasan waktu atau perbedaan kemampuan siswa. Namun, dengan perencanaan yang baik, kegiatan ini dapat dibagi dalam 2x pertemuan. Saya pun awalnya memberikan contoh sederhana agar semua siswa mampu mengikuti proses dengan percaya diri. Bahan yang digunakan pun sangat sederhana, yang terpenting adalah makna yang terkandung di dalamnya.
Pembelajaran Agama Islam melalui pembuatan frame Al-Qur’an menunjukkan bahwa pendidikan agama tidak harus selalu disampaikan melalui ceramah. Ketika anak-anak diberi ruang untuk berkreasi dan terlibat aktif, nilai-nilai Islam dapat tertanam lebih dalam dan lebih membekas di kehidupan mereka dalam kesehariannya. Al-Qur’an tidak lagi terasa jauh atau sulit, tetapi hadir dekat dengan kehidupan mereka, diberi warna dengan tangan mereka sendiri, dihias dengan kreativitas mereka, dan dipahami dengan hati mereka.
Melalui langkah sederhana namun bermakna ini, saya tidak hanya mengajarkan ayat Al-Qur’an, tetapi juga menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an sebagai cahaya kehidupan sejak usia dini.