Nilai Life Skill Education dalam Satgas Humanis
Pembelajaran yang disisipkan pada program Satgas Humanis tidak hanya mempelajari budaya humanis dan pengetahuan akademik yang ada dalam kurikulum Merdeka di tahun ajaran saat ini. Namun, pembelajaran ini dapat menggabungkan dan mengadaptasi nilai-nilai budaya humanis dan materi kurikulum Merdeka sehingga menciptakan iklim akulturasi di SDS Cinta Kasih Tzu Chi. Salah satunya adalah adanya faktor pembelajaran Life Skill Education yang sangat penting untuk diperkenalkan pada anak sedini mungkin.
Life Skill Education (Pendidikan Kecakapan Hidup) adalah proses pembelajaran yang membantu anak mengembangkan keterampilan praktis, sosial, emosional, dan kognitif yang diperlukan untuk menghadapi tantangan sehari-hari. Pendidikan kecakapan hidup bermanfaat untuk membentuk kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan melatih anak untuk belajar memecahkan masalah sejak dini. Dalam kesempatan ini, guru mengajarkan Life Skill Education pada siswa kelas 4 melalui permainan tradisional.
Tidak dapat dipungkiri, di era digital sekarang ini, banyak anak-anak yang lebih sering bermain game pada HP atau gawai yang mereka miliki daripada bermain di luar rumah bersama teman-teman sebayanya. Permainan tradisional tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memiliki banyak manfaat untuk perkembangan fisik, sosial, dan kreativitas anak. Melalui program Satgas Humanis ini, guru memperkenalkan beberapa permainan tradisional yang seru dan edukatif untuk siswa. Permainan yang diperkenalkan pada kesempatan ini di antaranya adalah:
Congklak: Dimainkan di papan berlubang dengan biji-bijian.
- Ketapel: Terbuat dari kayu bercabang dan karet, alat ini digunakan untuk melontarkan batu atau biji-bijian. Meski menyenangkan, permainan ini juga memiliki risiko yang perlu diperhatikan, terutama bagi anak-anak. Namun, dalam permainan ini, kita juga dapat memanfaatkan momen bermain ketapel untuk mengajarkan tanggung jawab, kreativitas, dan sportivitas. Batu atau biji-bijian yang berbahaya jika mengenai teman atau properti dapat kita ganti menggunakan kertas atau spons sehingga lebih aman.
- Gasing (atau gangsing): Salah satu permainan tradisional tertua di Indonesia yang dimainkan dengan memutar sebuah benda pada porosnya hingga mencapai keseimbangan.
- Lato-lato: Permainan ini terdiri dari dua bola plastik keras yang diikat dengan tali dan dimainkan dengan cara diayunkan hingga saling berbenturan, menghasilkan suara “tok-tok” yang khas.
- Yoyo: Terdiri dari dua cakram yang dihubungkan dengan poros dan tali, permainan ini mengandalkan keahlian memutar dan mengendalikan gerakan yoyo dengan trik-trik kreatif.
Itulah beberapa permainan tradisional yang diperkenalkan dan dipraktikkan oleh siswa kelas 4 yang memiliki banyak manfaat dalam Life Skill Education, yaitu siswa lebih aktif bergerak, belajar bersosialisasi, dan mengenal budaya. Permainan tradisional tidak kalah seru dari game online, bahkan lebih sehat dan mendidik serta melestarikan warisan budaya Indonesia. Pendapat siswa saat bermain:
“Permainannya seru, dan baru tahu cara memainkannya!” kata Candy.
“Ternyata gak harus main game di HP terus, banyak mainan tradisional yang bisa dimainkan! Terlebih untuk main lato-lato, yoyo, dan gangsing butuh kesabaran mencoba sampai bisa memainkannya,” kata Carissa.
Dan untuk saya sebagai tenaga pendidik, sesi ini juga merupakan kesempatan untuk bernostalgia, mengenang masa-masa kecil yang penuh kebahagiaan.
Kata Perenungan Master Cheng Yen
“Pendidikan anak adalah mengajarkan tata krama, mengasuh budi pekerti, menunjukkan jalan, dan memandu ke arah yang benar.”