Harmoni Kehidupan dalam Segelas Lei Cha
Hari Selasa, 7 Juli 2026, bertepatan dengan hari kedua pelatihan guru di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. Sebanyak 93 guru berkumpul bersama di Aula Gedung B lantai 2, bukan hanya mendengarkan materi tetapi belajar tentang arti filosofi kehidupan dari segelas ‘lei cha’.
Setiap Tradisi memiliki keberagaman cara menjaga kesehatan, salah satunya adalah lei cha atau dikenal dengan teh giling. Lei artinya mengaluskan semua bahan dalam satu wadah dengan stick kayu, dan cha berarti teh. Awalnya minuman ini dibuat dari 3 bahan utama yaitu teh mentah, jahe, dan beras, ketiga bahan ini kemudian digiling searah jarum jam menggunakan alu dan lesung hingga membentuk pasta.
Lei cha ditemukan pada abad ke 3 Masehi, dimana pada zaman tersebut masih banyak terjadi peperangan dalam memperebutkan daerah teritorial kekuasaan. Kisah menyebutkan bahwa pada masa peperangan tersebut ada satu pasukan yang dipimpin oleh jendral Zhang Fei. Diwaktu pasukan ini mempertahankan daerah teritorialnya, mereka terserang penyakit pandemic dan menyebabkan tubuh pasukan melemah. Melihat hal itu ada tabib kerajaan yang memiliki resep ramuan keluarga dan membuatkan minuman lalu memberikan minuman tersebut kepada seluruh pasukan jendral Zhang Fei hingga kondisi berangsur pulih.

Para guru mendengarkan dengan penuh perhatian dan kesungguhan hati. Terlihat wajah antusias untuk mempraktikkan bagaimana lei cha dibuat.
Terdapat 2 sesi , setiap sesi dibagi kedalam 13 kelompok dimana 1 kelompok terdiri dari 4 orang. Diatas meja sudah tersedia peralatan serta bahan-bahan pembuatan lei cha. Hari ini bahan pembuatan lei cha yaitu teh hijau bubuk, wijen putih, wijen hitam, biji labu, kacang almond, kacang mede, kacang walnut, multigrain powder dan rice crispy sebagai toping. Semua itu digiling hingga membentuk pasta kemudian dilarutkan menggunakan air panas sampai tercampur dan siap untuk dikonsumsi.
Para guru berusaha menggiling leicha dengan penuh kesungguhan hati, menggiling hingga halus hingga akhirnya dapat diminum. Pada sesi ini para guru belajar bahwa lei cha lahir bukan dari jalan pintas melainkan dari proses perjuangan dan kesabaran. Buah dari proses ini lah yang menghasilkan kenikmatan tersendiri ketika menikmati leicha yang ditemani dengan pudding dingin nan manis.
Masuk pada sesi menikmati minuman lei cha bersama, para guru menerima dengan rasa penuh syukur. Mencicipi keseimbangan rasa yang menyatu seimbang, ada rasa pahit dari daun teh, ada rasa gurih dari kacang-kacangan, serta manis dari toping rice crispy menjadikan memori rasa yang tidak terlupakan.

Dari sesi pelatihan ini dapat kita pelajari bahwa, setiap proses kehidupan bukan siapa yang lebih cepat mencapai tujuan melainkan tentang kesadaran menyeluruh dalam menjalani setiap prosesnya. Menggiling semua biji-bijian membutuhkan tekanan, disini kita tahu bahwa tekanan dalam proses kehidupan bukanlah akhir melainkan transformasi menuju versi diri yang lebih kuat.