Berburu Kata di Antara Rak Buku: Petualangan Literasi Siswa Kelas X SMK Cinta Kasih Tzu Chi

Oleh: Khusnun A’nillah, M.Pd. (Guru Bahasa Indonesia), SMK Cinta Kasih Tzu Chi

Senin, 4 Juli 2025 – menjadi hari yang bermakna bagi saya dan siswa kelas X SMK Cinta Kasih Tzu Chi. Pagi itu, kami melaksanakan kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia yang berbeda dari biasanya kami berpindah kelas ke perpustakaan sekolah, tempat di mana buku, suasana tenang, dan rasa ingin tahu berpadu menjadi ruang belajar yang hidup.

Kegiatan kali ini berfokus pada pencarian kosakata baru, kata-kata yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya. Tujuannya sederhana namun penting: memperkaya perbendaharaan kata siswa agar kemampuan komunikasi mereka, baik lisan maupun tulisan, semakin berkembang. Namun di balik itu, saya ingin menanamkan kesadaran bahwa mencintai Bahasa Indonesia berarti juga menghargai setiap kata di dalamnya.

Siswa duduk melingkar di lantai perpustakaan, masing-masing membawa buku bacaan yang mereka pilih sendiri. Ada yang membaca novel, buku motivasi, hingga bacaan sejarah. Di tengah keheningan, sesekali terdengar mereka saling bertanya, berdiskusi tentang arti kata yang mereka temukan, atau mencatat maknanya di buku kerja. Momen itu membuat saya merasa bangga bahwa mereka mulai menemukan kebahagiaan dalam membaca, bukan sekadar karena tugas.

Saya menyadari bahwa dalam era digital sekarang, perhatian anak muda terhadap Bahasa Indonesia sering kali teralihkan oleh bahasa asing dan istilah media sosial. Oleh karena itu, kegiatan literasi ini menjadi langkah kecil namun bermakna untuk menumbuhkan kembali rasa cinta dan kebanggaan terhadap bahasa nasional. Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan jati diri, cara berpikir, dan budaya bangsa. Melalui kegiatan literasi di perpustakaan, saya berusaha menanamkan bahwa setiap kata memiliki kekuatan: kata membentuk kalimat, kalimat membentuk pikiran, dan pikiran membentuk karakter. Saat siswa menemukan satu kata baru dan memahami maknanya, sesungguhnya mereka sedang memperluas cara pandang terhadap dunia.

Beberapa siswa bahkan tampak antusias membagikan hasil temuan mereka. “Bu, saya baru tahu arti kata ‘niscaya’ dan ‘abdi’,” ujar seorang siswa dengan semangat. Saya tersenyum, karena di situlah esensi pembelajaran sejati rasa ingin tahu yang tumbuh dari diri sendiri. Sebagai guru, saya percaya bahwa pengembangan Bahasa Indonesia melalui literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi tentang membangun kesadaran berbahasa yang utuh. Literasi mengajarkan anak untuk berpikir kritis, berkomunikasi dengan santun, dan menghargai makna di balik setiap kata.

Sebagai penutup, saya menyiapkan games literasi “Tebak Kata Rahasia”, saya menyebutkan arti sebuah kata, lalu siswa harus menebak kata yang dimaksud. Setiap kelompok yang menjawab dengan benar mendapat poin tambahan dan tepuk tangan dari teman-temannya. Ruangan yang semula hening berubah menjadi penuh tawa, antusiasme, dan semangat kebersamaan. Dari kegiatan ini, saya kembali diingatkan bahwa belajar Bahasa Indonesia bisa menjadi pengalaman yang hidup dan menyenangkan. Bahasa bukan sekadar kumpulan aturan, tetapi napas yang menghubungkan manusia dalam berpikir, merasa, dan berinteraksi.

Sebagai guru, saya merasa bersyukur menyaksikan bagaimana siswa mulai berani bereksperimen dengan kata, mencoba menggunakannya dalam percakapan, dan bahkan menuliskannya dalam catatan pribadi. Mereka belajar bahwa setiap kata memiliki keindahan dan kekuatan tersendiri. Kegiatan hari itu berakhir dengan refleksi bersama. Saya mengajak siswa untuk menuliskan satu kalimat tentang kesan mereka. Salah satu dari mereka menulis, “Saya senang mngetahui kata baru hari ini. Ternyata walaupun kita orang Indonesia,  tetap perlu belajar bahasa Indonesia”.

Saya tersenyum membaca kalimat itu. Karena di situlah inti dari literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi menumbuhkan rasa, menumbuhkan makna, dan membangun hubungan antara kata, pikiran, dan kehidupan.

Add a Comment

Your email address will not be published.