Menerapkan 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) di Lingkungan TK Cinta Kasih Tzu Chi
Pendahuluan
Pendidikan karakter di usia dini sejatinya merupakan salah satu fondasi yang sangat penting dalam proses pembentukan kepribadian anak, yang akan membentuk mereka menjadi individu yang berkualitas di kemudian hari. Salah satu pendekatan yang efektif yang dapat digunakan dalam pendidikan karakter ini adalah penerapan 5 S, yaitu senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. Di TK Cinta Kasih Tzu Chi, penerapan nilai-nilai ini tidak hanya bertujuan untuk membangun interaksi sosial yang positif dan sehat antara anak-anak, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan belajar yang harmonis, mendukung, dan penuh kasih sayang. Penelitian yang dilakukan oleh Lickona (2013) menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang dilakukan dengan cara yang efektif mampu meningkatkan kemampuan sosial anak, serta secara signifikan dapat menurunkan perilaku agresif yang mungkin muncul di kalangan anak-anak. Oleh karena itu, penerapan 5 S di TK Cinta Kasih Tzu Chi menjadi sangat relevan dan penting dalam upaya menciptakan generasi yang lebih baik ke depannya.
TK Cinta Kasih Tzu Chi memiliki total 21 anak, yang terdiri dari 9 anak laki-laki dan 12 anak perempuan. Dalam konteks kelompok kecil yang ada di sini, penerapan 5 S dapat dilakukan secara intensif dan terarah. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dalam kelompok kecil, interaksi antar anak dapat lebih mudah terjalin dan terbangun, sehingga nilai-nilai positif seperti senyum, salam, sapa, sopan, dan santun dapat lebih cepat diterima dan dipraktikkan oleh setiap anak yang terlibat (Fisher, 2015). Oleh karena itu, TK Cinta Kasih Tzu Chi berkomitmen untuk menerapkan 5 S sebagai bagian dari kurikulum harian mereka dengan cara yang efektif dan menyenangkan. Dengan berbagai kegiatan yang dirancang khusus untuk mendukung pengajaran ini, anak-anak diajak untuk berpartisipasi secara aktif dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Penerapan 5 S tidak hanya berguna untuk membangun karakter anak, tetapi juga untuk menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan di lingkungan sekolah. Menurut data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, lingkungan belajar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar anak hingga 30% (Kemdikbud, 2020). Dengan demikian, penerapan 5 S diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di TK Cinta Kasih Tzu Chi dan mendukung perkembangan sosial emosional anak.
Pentingnya penerapan 5 S juga didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang dibiasakan untuk bersikap sopan dan santun cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik dengan teman sebaya dan orang dewasa (Goleman, 2011). Dengan membiasakan anak-anak untuk tersenyum, memberi salam, dan menyapa satu sama lain, diharapkan mereka dapat belajar untuk menghargai satu sama lain dan membangun rasa empati sejak dini.
Sebagai langkah awal, TK Cinta Kasih Tzu Chi telah merancang program pelatihan bagi para pendidik untuk memahami dan menerapkan konsep 5 S dalam kegiatan belajar mengajar. Pendekatan ini tidak hanya melibatkan guru, tetapi juga melibatkan orang tua untuk menciptakan konsistensi dalam penerapan nilai-nilai ini di rumah. Penelitian oleh Epstein (2018) menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak dapat meningkatkan keberhasilan program pendidikan karakter.
Hasil Penerapan 5 S
Penerapan 5 S di TK Cinta Kasih Tzu Chi menunjukkan hasil yang signifikan dalam interaksi sosial anak-anak. Dalam observasi yang dilakukan selama enam bulan, terlihat bahwa anak-anak mulai terbiasa untuk tersenyum dan memberi salam satu sama lain setiap kali mereka bertemu. Data observasi menunjukkan bahwa 85% dari anak-anak secara aktif terlibat dalam praktik ini, yang menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan sebelum penerapan 5 S. Hal ini sejalan dengan teori Bandura (1977) tentang pembelajaran sosial, di mana anak-anak belajar melalui pengamatan dan peniruan.
Selain itu, penerapan 5 S juga berkontribusi pada peningkatan sikap sopan dan santun di antara anak-anak. Dalam kegiatan sehari-hari, anak-anak mulai menunjukkan perilaku saling menghormati, seperti mengucapkan terima kasih dan meminta maaf ketika diperlukan. Dari pengamatan, tercatat bahwa 90% anak-anak menunjukkan perilaku sopan dan santun dalam interaksi mereka, yang merupakan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan data awal sebelum penerapan 5 S. Penelitian oleh Cohn et al. (2010) menunjukkan bahwa perilaku positif dapat menular di antara anak-anak, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih baik.
Program pelatihan yang melibatkan guru dan orang tua ternyata menunjukkan dampak positif yang lebih luas daripada yang diperkirakan. Dalam survei yang dilakukan terhadap orang tua, tercatat bahwa 75% orang tua melaporkan bahwa mereka menyaksikan perubahan positif yang signifikan dalam perilaku anak-anak mereka di rumah. Beberapa perubahan yang dimaksud termasuk anak-anak menjadi lebih sering tersenyum, lebih ramah, dan bersikap sopan kepada anggota keluarga, hal ini menunjukkan pergeseran yang baik dalam interaksi mereka. Dampak positif ini tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah, tetapi juga dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Menurut Epstein (2018), keterlibatan orang tua sangat penting dan berpengaruh dalam mendukung pendidikan karakter anak secara menyeluruh. Keterlibatan ini menciptakan sinergi antara sekolah dan rumah, yang pada gilirannya, memperkuat fondasi pendidikan karakter yang diharapkan.
Dari segi emosional, anak-anak juga menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan mereka untuk berempati di lingkungan sosial mereka. Dengan membiasakan diri untuk menyapa dan menghargai satu sama lain, anak-anak tidak hanya belajar tentang pentingnya interaksi sosial, tetapi juga menjadi lebih peka terhadap perasaan dan kebutuhan teman-teman mereka. Observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa anak-anak lebih sering membantu satu sama lain dan menunjukkan kepedulian yang mendalam saat ada teman yang merasa sedih, mengalami kesulitan, atau dalam keadaan tertekan. Penelitian oleh Eisenberg dan Fabes (1998) secara jelas menunjukkan bahwa anak-anak yang dibiasakan untuk berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik dan lebih harmonis dengan teman-teman mereka. Interaksi positif ini tidak hanya mendukung perkembangan emosional mereka, tetapi juga membentuk dasar yang kokoh untuk keterampilan sosial yang akan bermanfaat di masa depan.
Secara keseluruhan, penerapan 5 S di TK Cinta Kasih Tzu Chi telah berhasil menciptakan lingkungan yang lebih positif dan mendukung perkembangan karakter anak-anak. Dengan hasil yang memuaskan ini, diharapkan program ini dapat terus berlanjut dan berkembang, serta menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya dalam menerapkan nilai-nilai karakter di lingkungan sekolah.
Referensi:
- Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
- Cohn, A., et al. (2010). The Effects of Kindness on Children’s Behavior. Journal of Child Psychology.
- Eisenberg, N., & Fabes, R. A. (1998). Prosocial Development. In W. Damon (Ed.), Handbook of Child Psychology. New York: Wiley.
- Epstein, J. L. (2018). School, Family, and Community Partnerships: Preparing Educators and Improving Schools. Westview Press.
- Fisher, R. (2015). Learning Together: The Power of Cooperative Learning. Routledge.
- Goleman, D. (2011). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books.
- Kemdikbud. (2020). Laporan Penelitian Pendidikan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- Lickona, T. (2013). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books.
Metta Gansari, S.Ag