“Si Landak dan Si Rubah: Belajar Kembali dari Seminar yang Mencerahkan Pikiran”

Oleh: Imelda, S.S, Guru Bahasa Mandarin SD Cinta Kasih Tzu Chi di Jakarta Barat

Isaiah Berlin (1909-1997) adalah seorang filsuf politik dan sejarawan pemikiran asal Latvia-Inggris yang dianggap sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh di abad ke-20. Dalam esainya yang terkenal, The hedgehog and the Fox.

Isaiah Berlin menggunakan landak dan rubah sebagai metafora untuk menjelaskan tipe manusia dibagi menjadi 2 tipe tersebut. Yaitu si Landak yang berfokus ke satu hal dan terus menggunakan cara yang sama untuk semua hal yang dihadapi. Sedangkan si Rubah yang fleksibel menggunakan banyak cara dan strategi yang berbeda untuk menghadapi bebagai hal yang berbeda pula.

Pernahakah kita merasa adakalanya terjebak dalam metode mengajar kita? Atau justru bingung memilih metode apa dari sekian banyaknya metode? Beberapa waktu lalu dalam sebuah Seminar yang saya ikuti, baru saja menjawab kegalauan saya dengan sebuah metafora sederhana, yaitu: The hedgehog and the Fox.

Merenungkan masa sekolah saya di era 90an, saya mengenyam Pendidikan SD sampai SMA, guru-guru saya adalah seorang Landak sejati dalam mengajar. Metode mereka semuanya seragam, yaitu hanya ceramah, mencatat dan menghafalkan. Alhasil mengakibatkan saya tidak ada satu pun mata pelajaran yang saya sukai. Yang ada saya belajar hanya mengejar nilai demi dapat naik kelas. Tidak ada satu pun mata pelajaran yang benar-benar berkesan dan bermakna di ingatan saya.

Oleh karena itu, sekarang saya menjadi seorang pengajar di abad ke-21 ini. Saya tidak ingin siswa-siswi saya merasakan hal yang sama dengan saya. Lantas, manakah yang lebih baik? Menjadi seorang Guru Landak yang teguh hanya menggunakan satu metode mengajar ataukah menjadi seorang Guru Rubah yang kreatif dan fleksibel dalam kelas? Jawabannya pasti Anda dapat menebaknya! Ya, benar. Bukan menjadi salah satunya, tetapi menjadi keduanya pada momen yang tepat.

Mulailah menjadi seorang Rubah diawal kelas dengan memberikan ice breaking yang menyenangkan. Sajikan materi dengan berbagai media seperti gambar, video dan lagu. Serta menjadi teman yang saling berdiskusi, membebaskan siswa-siswi kita bebas berargumen. Lalu kita dapat bertransformasi diri menjadi seorang Landak pada saat menyampaikan inti dari pelajaran, menjadi teguh dan fokus agar materi itu tersampaikan dengan jelas dan mendalam. Kemudian ditutup dengan bertransformasi kembali menjadi Guru Rubah untuk memberikan berbagai bentuk soal variasi serta tugas proyek kreatif dengan berdiskusi dahulu dengan siswa-siswi kita agar mereka dengan senang hati mengerjakannya sendiri di rumah.

Dengan demikian, saya rasa kita tidak hanya mengajarkan ilmu dengan tepat (Semangat Landak), namun juga menanamkan kecintaan belajar serta kemampuan beradaptasi (kelincahan Rubah) pada siswa-siswi kita. Pada akhirnya, kelas akan menjadi sangat ideal bilamana guru dapat memainkan peran antara Si Landak dan Si Rubah. Menciptakan pengalaman belajar yang berkesan dan menyenangkan untuk siswa-siswi kita.

 

Add a Comment

Your email address will not be published.