Hadiah Tanpa Kata

Peringatan Hari Guru Nasional Nasional 2025 dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” penuh dengan berbagai kegiatan reflektif dan apresiasi sederhana dari siswa di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. Di tengah suasana peringatan tersebut, ada sebuah momen yang memberikan pelajaran berharga mengenai perkembangan karakter anak dan makna ketulusan.

Pada hari itu, salah satu guru menerima sebuah kejutan kecil berupa sebungkus Beng-Beng dengan tempelan bunga kertas origami yang diletakkan rapi di meja kerja. Tidak ada kartu ucapan maupun pesan yang ditinggalkan. Tetapi ada seorang guru yang melihat siswa meletakkan hadiah di meja tersebut, ternyata hadiah tersebut berasal dari seorang siswa yang selama ini dikenal memiliki tantangan dalam mengelola emosi dan menghadapi masalah.

Siswa tersebut kerap menunjukkan reaksi impulsif seperti berteriak, marah, atau membanting barang ketika mengalami tekanan. Bukan tipe anak yang mudah mengekspresikan penghargaan, perhatian. Namun pada momen Hari Guru, ia berusaha mencari guru yang ingin ia beri hadiah. Ketika tidak menemukannya, ia tetap melanjutkan niatnya dengan menaruh hadiah tersebut diam diam di meja kerja.

Tindakan kecil tersebut menunjukkan adanya perubahan positif dalam dirinya, sebuah upaya yang mungkin tidak terlihat besar bagi orang lain, tetapi sangat berarti dalam konteks perkembangan emosinya. Gestur kecil namun penuh keberanian tersebut mencerminkan:

  • munculnya kemampuan mengelola dorongan emosinya,
  • adanya niat baik yang ia sampaikan dengan cara yang mampu ia lakukan,
  • serta bentuk penghargaan tulus yang mengisyaratkan bahwa ia sedang berproses menuju pengendalian diri yang lebih baik.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh pendidik bahwa setiap anak memiliki perjalanan emosional dan sosial yang unik. Terkadang, kemajuan tidak tampak dalam pencapaian besar, tetapi dalam tindakan kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan usaha nyata. Anak dengan tantangan emosi sekalipun memiliki potensi untuk menunjukkan kebaikan dan penghargaan, meski melalui cara yang sunyi dan sederhana.

Hari Guru tahun ini menguatkan kembali bahwa peran guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mendampingi perkembangan karakter siswa secara sabar, konsisten, dan penuh empati. Hadiah sederhana tersebut menjadi simbol bahwa bimbingan yang diberikan guru, meski tidak selalu terlihat hasilnya secara langsung, tetap memberi dampak penting bagi perkembangan siswa.

Melalui momen ini, penulis berharap seluruh pendidik terus termotivasi untuk menghadirkan pendidikan yang humanis, berpihak pada perkembangan anak, serta mampu membaca makna kecil di balik setiap perilaku siswa. Seperti yang disampaikan master cheng yen dalam kata perenungannya “Gunakan hati yang penuh welas asih dalam menghadapi setiap orang, karena kita tidak pernah tahu pergulatan apa yang sedang mereka alami.”

 

Penulis: Pretty Klara Elizabeth

 

Add a Comment

Your email address will not be published.