Mengukir Harapan di Balik Keterbatasan

Kunjungan bakti sosial dan penyaluran donasi yang dilaksanakan oleh Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi  bersama dengan DAAI TV dan partner kolaborasu lainnya ke Sekolah SD 3 Wanajaya dan PKBM Bunga Bangsa memberikan pengalaman yang sangat mendalam dan bermakna. Kegiatan ini berlandaskan pada ajaran Master Cheng Yen yang mengajarkan pentingnya welas asih universal dan berbagi tanpa pamrih. Sekolah secara konsisten menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, menjadikan bakti sosial sebagai salah satu implementasi nyata dari pendidikan karakter yang dijalankan. SD 3 Wanajaya dan PKBM Bunga Bangsa yang berada relatif dekat dengan Ibu Kota yang itu Karawang, namun memiliki tantangan besar dalam akses dan fasilitas, menjadi tujuan utama aksi nyata ini.

Penulis disambut oleh pemandangan yang menunjukkan dualitas antara semangat yang membara dan infrastruktur yang memprihatinkan. Jalan utama menuju SD 3 Wanajaya dan PKBM Bunga Bangsa adalah jalan tanah merah yang sulit dilalui terutama saat musim hujan, mencerminkan isolasi geografis yang mereka hadapi. Namun, dedikasi peserta didik jauh lebih menyentuh; mereka harus menempuh perjalanan kaki hingga dua jam setiap harinya untuk menuju ke Sekolah. Perjuangan harian ini, yang dilakukan dengan ketulusan hati, adalah bukti nyata betapa tingginya nilai ilmu di mata mereka. Komitmen tanpa batas inilah yang semakin menguatkan keyakinan bahwa donasi yang dibawa, yang dikumpulkan melalui upaya kolektif seluruh peserta didik dan patner kolaborasi akan sangat berarti.

Secara infrastruktur, sekolah ini menghadapi keterbatasan yang sangat serius dalam menunjang kegiatan pendidikan yang ideal. Total ruang kelas yang tersedia sungguh memprihatinkan: hanya tiga ruang kelas untuk SD, dua ruang kelas untuk SMP, dan satu ruang kelas untuk SMA. Kondisi ini memaksa para guru untuk menerapkan sistem pengajaran gabungan. Strategi ini, meskipun menunjukkan kreativitas dan dedikasi guru yang luar biasa, secara inheren mengurangi efektivitas pembelajaran.

Fasilitas pendukung pendidikan lainnya juga menyoroti keterbatasan. Perpustakaan yang ada di lokasi merupakan salah satu unit paling esensial. Melihat perpustakan membuat kita terinspirasi ketika mengetahui bahwa fasilitas tersebut bukan dibangun melalui dana struktural, melainkan sepenuhnya merupakan hasil inisiatif dan donasi dari komunitas relawan yang peduli. Perpustakaan yang sederhana ini dengan koleksi buku seadanya berfungsi sebagai oase pengetahuan dan pusat literasi yang vital bagi peserta didik. Kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan relawan merupakan pilar kuat yang menopang keberlangsungan pendidikan, mengajarkan bahwa gotong royong dapat mengisi kesenjangan infrastruktur.

Melalui kunjungan penuh welas asih ini, peserta didik dengan tulus telah menyalurkan bantuan yang sudah dikumpulkan menjadi satu. Berharap donasi yang telah dikumpulkan ini dapat meringankan beban operasional sekolah, meningkatkan semangat belajar siswa, dan memberikan mereka akses yang lebih baik terhadap sumber daya pendidikan yang lebih memadai. Pengalaman ini bukan hanya tentang memberikan, tetapi juga tentang menerima pelajaran berharga mengenai arti sejati dari dedikasi, ketahanan, dan praktik nyata dari welas asih.

Melalui kunjungan penuh welas asih ini, relawan dengan tulus telah menyalurkan donasi yang sudah dikumpulkan. Berharap donasi yang telah dikumpulkan ini dapat meringankan beban operasional sekolah, meningkatkan semangat belajar siswa, dan memberikan mereka akses yang lebih baik terhadap sumber daya pendidikan yang lebih memadai. Pengalaman ini mengingatkan penulis pada perenungan Master Cheng Yen “Bukanlah besarnya kekuatan yang terpenting, tetapi seberapa besar hati welas asih yang ada di dalamnya.” Ini adalah pelajaran berharga mengenai arti sejati dari praktik nyata dari welas asih.

 

Penulis: Pretty Klara Elizabeth

Add a Comment

Your email address will not be published.