Bakti pada Orang Tua, Akar Semua Kebajikan: Perayaan Hari Bakti TK Cinta Kasih Tzu Chi

Perayaan Hari Bakti menjadi salah satu momen paling bermakna dalam perjalanan pendidikan anak-anak di TK Cinta Kasih Tzu Chi. Pada hari Jumat, 19 Desember 2025, kegiatan ini dilaksanakan dengan penuh kehangatan dan makna, mengusung tema “Bakti pada Orang Tua adalah Akar Semua Kebajikan.” Tema ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi sungguh dihidupi dan dialami oleh setiap anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 109 anak TKB bersama 109 orang tua hadir dan menjadi bagian dari perayaan yang sarat nilai cinta kasih, penghormatan, dan rasa syukur. Seluruh rangkaian acara dipersiapkan dengan sepenuh hati oleh anak-anak TKB TK Cinta Kasih Tzu Chi melalui berbagai latihan dan proses pembelajaran yang bermakna.
Perayaan Hari Bakti tidak dimulai begitu saja di aula. Sejak pagi, anak-anak terlebih dahulu diajak untuk mengalami dan merasakan peran sebagai seorang ibu hamil. Kegiatan ini dirancang agar anak dapat memahami perjuangan dan pengorbanan seorang ibu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penuh antusias, anak-anak mencoba melakukan berbagai aktivitas rumah tangga sambil membawa “perut kehamilan”, seperti menyapu lantai, menggosok pakaian, memasak sederhana, dan melakukan kegiatan ringan lainnya. Dari pengalaman ini, anak-anak belajar bahwa pekerjaan yang dilakukan orang tua setiap hari membutuhkan tenaga, kesabaran, dan kasih yang besar. Melalui praktik langsung ini, anak-anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi benar-benar merasakan bagaimana menjadi seorang ibu. Hal ini menumbuhkan empati, rasa hormat, dan kesadaran bahwa orang tua adalah sosok yang patut dihargai dan disayangi.
Jauh sebelum hari pelaksanaan, anak-anak TKB telah menjalani berbagai latihan dengan penuh kesungguhan. Mereka berlatih menyanyi, membaca puisi, bermain drama, hingga mempersiapkan prosesi basuh kaki orang tua. Semua latihan dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan anak, dan dipenuhi dengan pendampingan penuh kasih dari para guru. Bagi anak-anak, proses latihan ini bukanlah hal yang mudah. Mereka belajar menghafal lagu, mengingat dialog, serta mengatur emosi agar dapat tampil dengan percaya diri di hadapan orang tua. Namun, melalui proses ini, anak-anak belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan ketulusan hati. Guru-guru TK Cinta Kasih Tzu Chi dengan sabar membimbing anak-anak, menanamkan pemahaman bahwa setiap penampilan bukan untuk menunjukkan kehebatan, melainkan sebagai ungkapan cinta dan bakti kepada orang tua.

Setelah kegiatan pagi, acara dilanjutkan di Aula Gedung C. Anak-anak memasuki aula sambil menggandeng tangan orang tua, sebuah simbol sederhana namun penuh makna tentang kedekatan dan ikatan antara anak dan orang tua. Mereka kemudian duduk berdampingan untuk bersama-sama menikmati rangkaian acara Hari Bakti. Acara diawali dengan suasana yang tenang dan khidmat. Wajah-wajah orang tua terlihat penuh harap dan rasa haru, menyadari bahwa momen ini adalah hasil dari proses panjang yang dilalui anak-anak mereka. Anak-anak TKB mempersembahkan berbagai penampilan yang menyentuh hati. Mereka menyanyikan lagu “Bunda” dengan suara polos dan tulus, menyampaikan cinta yang mungkin selama ini belum terucap dengan kata-kata. Selain itu, anak-anak juga membacakan puisi sederhana tentang mama dan papa, berisi ungkapan terima kasih atas kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan orang tua, serta melakukan isyarat tangan dengan judul “mama wo ai ni”. Meski dengan bahasa yang sederhana, setiap kata yang terucap mampu menyentuh hati para orang tua. Penampilan dilanjutkan dengan drama singkat tentang peran mama dan papa dalam kehidupan anak. Drama ini menggambarkan keseharian keluarga, bagaimana orang tua bekerja, merawat, dan mendampingi anak dengan penuh cinta. Banyak orang tua yang tampak menitikkan air mata, tersentuh oleh kepolosan dan ketulusan anak-anak mereka.
Puncak dari perayaan Hari Bakti adalah prosesi basuh kaki orang tua. Dengan penuh kesungguhan, anak-anak berlutut di hadapan orang tua mereka, lalu perlahan mencuci kaki mama dan papa. Prosesi ini dilakukan dengan suasana yang sangat khidmat. Anak-anak melakukannya dengan hati yang tulus, sementara orang tua menerima dengan perasaan haru dan penuh syukur. Air mata kebahagiaan terlihat mengalir, bukan karena kesedihan, melainkan karena cinta yang begitu dalam antara orang tua dan anak. Melalui prosesi ini, anak-anak belajar bahwa bakti bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata. Mereka diajak untuk memahami bahwa menghormati orang tua adalah fondasi dari semua kebajikan dalam kehidupan.

Perayaan Hari Bakti ini memberikan dampak yang mendalam bagi seluruh pihak. Bagi anak-anak, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga yang akan mereka kenang sepanjang hidup. Mereka belajar tentang empati, rasa syukur, dan pentingnya menghormati orang tua sejak usia dini. Bagi orang tua, momen ini menjadi pengingat bahwa setiap usaha dan pengorbanan yang dilakukan selama ini tidaklah sia-sia. Melihat anak-anak dengan tulus mengungkapkan cinta dan bakti menjadi hadiah yang tak ternilai. Sementara bagi para guru, kegiatan ini menjadi wujud nyata dari pendidikan karakter yang hidup dan bermakna. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan yang akan menjadi bekal anak-anak di masa depan. Perayaan Hari Bakti di TK Cinta Kasih Tzu Chi bukan sekadar acara tahunan, melainkan bagian dari proses menanam akar kebajikan dalam diri anak-anak. Melalui pengalaman nyata, seni, dan prosesi penuh makna, anak-anak belajar bahwa bakti kepada orang tua adalah dasar dari kehidupan yang penuh cinta dan kebajikan. Semoga nilai-nilai yang ditanamkan dalam perayaan ini terus tumbuh dan berbuah dalam kehidupan anak-anak, sehingga kelak mereka menjadi pribadi yang berbakti, berbelas kasih, dan membawa kebaikan bagi sesama.
Penulis : Noviska Arfa, S.H