Merancang Kurikulum yang Transformatif : Jalan Strategis dalam Menyiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) Unggul dan Berkelanjutan
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan memiliki kedudukan yang sangat stratgeis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum dalam pendidikan, maka penyusunannya harus mengacu pada landasan yang kokoh dan kuat. Kurikulum adalah salah satu perangkat pendidikan yang memiliki fungsi penting dalam pendidikan. Dapat dikatakan kurikulumlah yang menjadi landasan dalam sebuah porses pelaksanaan pendidikan. Dalam perjalanannya, kurikulum terus dikembangkan untuk memmenuhi kebutuhan dan perubahan zaman. (M.Hosnan 2014, 193)
Landasan pengembangan kurikulum tidak hanya diperlukan bagi para penyusun kurilum (makro) atau kurikulum tertulis yang sering disebut juga sebagai kurikulum ideal. (Ade Ahmad Mubarok. 2021. Landasan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Indonesia. Vol.3: 104-105). Hornby dkk. Dalam “The Advance Learner’s Dictionary of Curren English” (Mudyahardjo, 2001:8) mengemukakan definisi landasan sebagai berikut : “Foundation …. That on which an idea or belief rest, an undrlying principle’s at the foundations of religious belief: the basis or starting pint…” Jadi menurut Hornby landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari, contohnya seperti landasan kepercayaan agama, dasar atau titik tolak. Dengan demikian landasan pengembangan pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan, suatu asumsi atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.
Robert S. Zais (1976) mengemukakan empat landasan pengembangan kurikulum, yaitu: Philosophy and the nature of knowledge, society and culture, the individual and learning theory. Keempat landasan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1 : Model Elektik Kurikulum dan Landasan-landasannya (Zais, 1976)
Kurikulum sebagai suatu sistem yang terdiri atas empat komponennya, yaitu: komponen tujuan (aims, goals, objectives), isi/materi (content), proses pembelajaran (learning activities dan komponen evaluasi (evaluation). Agar setiap komponen bisa menjalankan fungsinya secara tepat dan bersinergi, maka perlu ditopang oleh sejumlah landasan (foundations), yaitu landasan filosofis sebagai landasan utama, masyarakat dan kebudayaan, individu (peserta didik), dan teori-teori belajar.
Pengaruh perkembangan kurikulum selalu membawa warna baru pada kacamata dunia pendidikan, dengan silih bergantinya kurikulum memberikan sebuah landasan yang selalu berubah-berubah pada setiap moment dan implementasi di lapangan. Kurikulum memberikan warna baru dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap pendidikan dimana kurikulum selalu memberikan perubahan pada setiap pergantiannya tak terkecuali selalu memberikan materi atau bahan yang disampaikan dalam proses pendidikan serta menuntut lembaga pendidikan untuk mampu memberikan pengetahuan, keterampilan baru yang dikembangkan melalui pengembangan kurikulum. Keberhasilan suatu kurikulum sangat tergantung kepada bagaimana kurikulum itu dilaksanakan atau diimplementasikan. Sebaik apapun kurikulum dirancang, namun apabila didalam pelaksanaannya tidak didukung oleh berbagai macam unsur maka akan sulit mencapai hasil yang diharapkan.
Dalam abad 21 saat ini ditandai dengan berkembangnya teknologi, komunikasi dan informasi yang pesat sehingga dalam kehidupan di abad ke-21 ini menuntut berbagai keterampilan yang harus dikuasai oleh insan individu setiap manusia, sehingga diharapkan pendidikan dapat mempersiapkan siswa dan guru untuk menguasai kecakapan dan kompetensi-kompetensi di era modern abad 21 ini, supaya dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Di abad 21 pendidikan ditantang untuk dapat menciptakan pendidikan yang dapat menghasilkan sumberdaya pemikir yang mampu ikut membangun tatanan sosial dan ekonomi melalui pengembangan kurikulum sesuai dengan tuntutan kompetensi abad 21 dan memberikan tuntutan dalam setiap pembangunan berkelanjutan di masa yang akan datang. Ruang lingkup dan desain kurikulum perlu bersifat fleksibel dan kontekstual. Materi pembelajaran disusun dalam bentuk tematik dan berbasis masalah, sehingga peserta didik dapat memahami tidak hanya sebatas teori namun dapat mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. (Solih Hidayat 2013, 122).
Pembangunan berkelanjutan menuntut perubahan cara pandang dalam merancang masa depan. Tantangan global seperti perubahan iklim, ketimpangan sosial, krisis ekonomi dan degradasi lingkungan tidak dapat diatasi dengan pembangunan konvensional. Ditengah kompleksitas tersebut, sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor kunci yang menentukan keberhasilan pembangunan jangka panjang. Sumber daya manusia yang unggul tidak hanya ditandai oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga oleh karakter, nilai dan kesadaran berkelanjutan.
Dalam konteksi ini, kurikulum memegang peranan strategis sebagai fondasi utama pembentukan Sumber daya manusia. Kurikulum tidak lagi dapat diposisikan sekedar sebagai dokumen akademik, melainkan sebagai instrumen transformasi sosial. Kurikulum yang transformatif mampu membentuk cara berfikir kritis, sikap bertanggung jawab, serta kemampuan adaptif dalam menghadapi perubahan. Pengembangan kurikulum transformatif bertujuan untuk menjawab kebutuhan pembangunan masa kini dan masa depan. Dengan tujuan utama dari kurikulum ini diharapkan membentuk sumber daya manusia yang memiliki keseimbangan antara kompetensi intelektual, keterampilan praktis dan nilai-nilai kemanusian.
Selain landasan dan tujuan membentuk suatu kurikulum transformatif, kita juga harus mengetahui sasaran dari kurikulum transformastif itu sendiri yang dimana dapat mencakup seluruh lapisan pembelajar, baik di lingkungan pendidikan formal maupun nonformal. Dan yang terpenting yaitu memiliki sasaran utama yang harus terpenuhi yaitu meliputi peserta didik, pendidik serta pemangku kepentingan pendidikan lainnya. Urgensi pengembangan kurikulum transformatif pun akan semakin nyata terlihat pada lapangan dengan melihat perubahan global yang cepat dan kompleks. Dikarenakan kurikulum berkembang tidak hanya berpotensi menghasilkan lulusan yang cakap skill saja tetapi dapat menghasilkan lulusan yang dibutuhkan dan siap dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan dunia masyarakat.
Oleh karena itu, merancang kurikulum yang transformatif merupakan langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkelanjutan, selain itu kurikulum transformatif juga dapat merancang sebuat sistem pembelajaran yang mampu menjawab tantangan masa depan yang dapat membekali peserta didik dengan kompetensi abad ke-21, seperti kemampuan berifikir kritis, kolaborasi, kreativitas dan literasi global. Tidak hanya cakap dalam bidang ilmu pengetahuan tetapi juga berkarakter, beretika dan memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan kehidupan. Pemanfaatan teknologi digital, pembelajaran berbasis proyek serta kolaborasi lintas disiplin menjadi strategi penting dalam memperkuat kurikulum transformatif. Inovasi ini diharapkan memungkinkan peserta didik belajar aktif, reflektif dan berkelanjutan.
Merangkul bersama dalam merencakan implementasi dalam tahapan pengembangan kurikulum transformatif dapat dilakukan secara bertahap dan sistematis. Tahap awal dimulai dengan analisis kebutuhan dan evaluasi kurikulum yang telah berjalan. Dan tahap selanjutnya adalah penyusunan berbasis partisipasi, melibatkan pendidik, pakar dan pemangku kepentingan. Setelah itu, dilakukan uji coba dan evaluasi berkelanjutan untuk memastikan efetifitas kurikulum. Implementasi juga harus disertai dengan peningkatan kapasistas pendidik serta sistem monitoring dan evaluasi yang terukur. Dengan perencanaan yang matang, diharapkan kurikulum transformatif ini dapat diimplemntasikan secara konsisten dan melahirkan hasil yang nyata dari apa yang sudah dirancang dengan baik dan sistematis. Dan dengan komitmen bersama dan implementasi yang konsisten, kurikulum transformatif akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab, beretika dan siap membangun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.