Kebosanan: Pintu Menuju Kreatifitas dan Produktifitas

Seringkah Anda merasa bosan? Apakah Anda selalu menonton konten saat makan? Apakah Anda mendengarkan lagu atau podcast saat sedang berkendara? Atau bahkan saat Anda sekadar mencuci piring? Apakah Anda memiliki masalah untuk bisa tidur atau sering terbangun di malam hari?

Di zaman serba digital sekarang, kita cenderung lebih mudah merasa bosan. Berdasarkan beberapa sumber di internet, masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 7,5 jam sehari untuk melihat layar ponselnya. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan ponsel pintar (smartphone) yang berlebih berpengaruh langsung pada kualitas tidur. Sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa orang-orang dewasa muda memiliki kualitas tidur yang lebih buruk daripada generasi yang lebih tua. Ditemukan bahwa orang-orang dewasa muda memang menggunakan ponsel pintar lebih banyak. Sinar dari layar ponsel tersebut memengaruhi ritme sirkadian, yang berdampak langsung pada cara otak mengenali waktu tidur.

Tidak berhenti di sana, selain berkurangnya kualitas tidur, waktu layar (screentime) berlebih juga berpengaruh pada kemampuan otak, terutama dalam hal fokus. Banyak media yang sudah memaparkan bahaya waktu layar yang dapat membuat rentang fokus anak menjadi sangat singkat. Namun pada kenyataannya, waktu layar tidak hanya memengaruhi fokus anak, tetapi juga orang dewasa. Baik anak maupun orang dewasa memiliki struktur otak yang sama, jadi jangan terkecoh dan berpikir bahwa kita sebagai orang dewasa “aman” dari dampak negatif waktu layar berlebih.

Tapi tunggu dulu, jika digali lebih dalam, masalah waktu layar berlebih hanyalah permukaannya saja. Akar masalah utamanya adalah bagaimana kita menghadapi rasa bosan. Ketika seseorang merasa bosan, hal apa yang dia lakukan? Itulah yang memengaruhi fokus seseorang. Di era digital ini, jalan keluar dari rasa bosan yang paling mudah adalah melalui ponsel pintar. Entah itu mendengarkan musik, podcast, atau menonton konten; itu semua adalah jalan keluar yang diambil kebanyakan orang untuk lari dari rasa bosan.

Otak manusia bekerja dengan sangat luar biasa. Otak sudah terlatih untuk melakukan sebuah rutinitas. Semakin sering seseorang membuka ponsel pintarnya saat merasa bosan, maka akan semakin sering pula rasa bosan itu muncul karena otak kita sudah terlatih dengan rutinitas yang baru tersebut. Maka, jalan keluarnya pun cukup mudah: kita harus melatih otak ke arah yang berlawanan.

Global Leaders Institute menemukan bahwa kebosanan memiliki beberapa manfaat:

Yang pertama adalah keativitas. Ketika kita merasa bosan dan memilih untuk tidak menggunakan ponsel pintar, mungkin pikiran kita akan melayang ke mana-mana. Namun, hal itulah yang menjadi bahan bakar dari sebuah kreativitas. Dalam bahasa Inggris, kita sering mendengar istilah “shower thought”; saat kita mandi dan pikiran melayang-layang, tiba-tiba kita mendapatkan ide. Konsepnya mirip seperti itu. Ketika kita sedang bosan, pikiran kita akan berkembang dan memunculkan ide-ide baru yang, jika direspons dengan benar, akan menambah produktivitas kita. Contohnya, setelah mendapatkan sebuah ide atau rencana, kita bisa menuangkannya ke dalam tulisan. Semua itu tidak akan terjadi jika kita menggunakannya hanya untuk melihat ponsel pintar.

Yang kedua adalah motivasi. Saat kita merasa bosan, kita akan termotivasi untuk mencari sesuatu untuk dilakukan. Kita bisa memanfaatkannya untuk melakukan hal positif seperti berolahraga atau aktivitas bermanfaat lainnya.

Yang ketiga adalah menyelesaikan masalah. Ketika pikiran kita bebas dan tidak berfokus pada satu hal, sering kali kita secara tiba-tiba mendapatkan jalan keluar dari masalah kita. Hal ini serupa dengan cerita para ilmuwan yang justru menemukan solusi atas masalah mereka ketika sedang tidak berpikir keras.

Yang keempat adalah perbaikan mental. Jika kita memilih untuk menggulir layar (scrolling) saat sedang emosi, bisa jadi kita akan semakin larut atau hanya kabur sementara. Ketika merasa bosan, otak kembali pada “setelan awal” (tidak bekerja keras) dan mengisi ulang tenaganya. Di saat ini pula perasaan kita menjadi lebih mudah dikendalikan.

Yang terakhir adalah defleksi diri. Dalam masa kebosanan, kita sering menghabiskan waktu untuk memikirkan tentang diri sendiri maupun orang lain, yang mana hal itu bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Setelah membaca sejauh ini, sudah berapa kali Anda terdistraksi? Sudah berapa kali Anda membaca pesan di ponsel pintar Anda? Mungkin itu bisa menjadi tolak ukur awal tentang seberapa fokus Anda. Maka dari itu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi waktu layar, meningkatkan kualitas tidur, menjadi lebih produktif, serta menjadi pribadi yang lebih baik dan kreatif? Caranya cukup sederhana:

  • Matikan notifikasi ponsel Anda

Matikan notifikasi getar dan fitur lockscreen yang menyala saat ada notifikasi masuk. Putar ponsel Anda menghadap ke meja saat Anda sedang melakukan pekerjaan. Lalu Anda mungkin akan berpikir, “Bagaimana jika ada hal penting dan saya tidak membaca notifikasinya?”. Dalam ruang lingkup kerja, membalas dalam waktu 30–60 menit masih dalam batas normal. Anda bisa mengatur pengingat (timer) untuk mengecek notifikasi, misalnya setiap 45 menit. Namun perlu diingat, mengembalikan fokus akan sangat sulit jika Anda terlalu lama mengecek notifikasi.

  • Jalani hidup yang “membosankan”

Makanlah tanpa sambil menonton konten. Lakukan semua hal tanpa mendengarkan musik atau podcast, baik saat Anda sedang bekerja, berkendara, mencuci piring, dan lain-lain.

  • Atur waktu penggunaan ponsel pintar

Hentikan penggunaan ponsel pintar satu jam sebelum Anda tidur. Jangan cek notifikasi sesaat setelah Anda bangun tidur. Beranjaklah segera, cuci muka, sikat gigi, minum segelas air, hirup udara segar, dan kalibrasi hati Anda.

Master Cheng Yen berkata, “Dalam perjalanan hidup ini, kita harus dapat memanfaatkan setiap detik yang kita miliki, menjalaninya dengan langkah mantap dan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, tidak ada hal yang patut disesalkan dalam hidup ini.”

Mari kita belajar menjadi diri yang lebih baik. Latih otak kita agar tidak dimanjakan dengan stimulasi yang berlebih, jangan sampai kita menyesalinya di masa mendatang.

________________________________________

Penulis: Giovanni Kristian

Sumber:

Ooma – Countries Around the World Ranked by Average Screen Time

National Center for Biotechnology Information (NCBI)

Global Leaders Institute – The Surprising Power of Boredom

Add a Comment

Your email address will not be published.