Belajar Filosofi Bunga Krisantium di kelas Cha Dao
Oleh : Maya Sugmawati
Kegiatan Cha Dao di kelas budaya humanis bersama siswa 4E menjadi pengalaman baru bagi siswa. Proses dimulai dari berbaris rapi di depan kelas, dilanjutkan mencuci tangan secara bergantian dengan bantuan shigu, sebagai bentuk latihan disiplin dan penghormatan terhadap kebersihan.
Suasana kemudian ditenangkan melalui meditasi singkat, mengajak siswa untuk belajar lebih peka mengenali persaan dan pikiran diri sendiri (mindfulness). Dalam tradisi Cha Dao, ketenangan batin menjadi dasar utama, karena teh tidak hanya diminum, tetapi “dirasakan” dengan kesadaran penuh.
Saat menyeduh teh krisantium yang dicampur goji berry, siswa diajak memahami filosofi teh krisantium dalam budaya Tiongkok. Bunga krisan melambangkan ketenangan, keteguhan, dan kemurnian hati. Mekarnya bunga krisan di musim gugur juga mengajarkan ketahanan, tetap indah dan kuat meski berada di masa yang dianggap “sepi”.
Selain itu, Cha Dao mengandung nilai harmoni, rasa saling menghormati, kemurnian, dan ketenangan. Nilai-nilai ini tercermin dalam setiap tahap: cara duduk, menyeduh, hingga menyajikan teh kepada teman. Siswa belajar bahwa setiap gerakan kecil memiliki makna, belajar tidak tergesa-gesa, rasa syukur, dan dilakukan dengan penuh perhatian.
Kegiatan diakhiri dengan menikmati teh bersama puding yang disajikan secara estetik. Di sinilah nilai-nilai itu menjadi nyata: siswa belajar melayani dengan menyeduhkan dan memberikan teh kepada teman, serta belajar menerima dengan rasa syukur.
Dari secangkir teh, mereka memahami bahwa keindahan hidup terletak pada kesederhanaan, kebersamaan, dan sikap saling menghargai.