GURU JUGA MANUSIA

Dahulu guru menjadi sebuah kata yang sangat Istimewa. Tak salah meamang sehingga  ada idiom dalam Bahasa Jawa; guru — “digugu dan ditiru“. Artinya guru dipercaya dan dijadikan tauladan. Maka tak heran ketika itu guru sangat dihormati, disegani dan dihargai secara luas oleh semua lapisan masyarakat.

Guru dalam hal ini guru zaman dulu, sebagian besar dapat berkiprah disemua lini kehidupan masyaraakat. Menggerakan sosial masyarakat sangat mahir. Menggerakan keagamaan masyarakat sangat piawai. Menggerakan rasa dan jiwa patriotisme dan nasionalime masyarakat sangat mengagumkan. Dan tentu kemampuan menggerakan masyarakat untuk menerima pengetahuan dan teknologi (meskipun masih sederhana) juga sangat diandalkan.

Semua kemampuan dalam menggerakan masyarakat tersebut berhasil karena dilandasi kesadaran,  keikhlasan dan mempraktikan langsung di masyarakat sehingga masyarakat dapat melihat dan menyaksikan sendiri. Masyarakat dari semua lapisan usia dapat betul-betul menyaksikan betapa nyata kiprah guru. Gerak gerak, gaya berpakaian, penampilan, role model dan tingkah laku, dan kebiasaan guru dapat dijadikan contoh bagi semua lapisan umur  masyarakat. Guru bisa menempatkan diri dari semua lini kehidupan. Murid pun benar-benar mencontoh total guru.  Itu dulu.

Lalu bagaimana dengan guru sekarang? Sebagian masih ada guru yang mampu menggerakkan disemua lini kehidupan. Karakter, etik, moral, penampilan, dan gaya masih bisa dijadikan sebagai teladan. Namun seiring dengan kemajuan teknologi, sebagian guru justru terdegradisi secara etik dan moral oleh kemajuan teknologi dan aplikasi media yang menyertainya.

Semua kemajuan teknologi tentu membawa dampak positif atau pun dampak negatif. Demikianpun guru sangat terdampak. Membantu mempermudah mengakses pengetahuan dan penyampaian materi pembelajaran yang menarik tentu karena kemajuan teknologi. Di sisi lain guru terdampak negatif oleh kemajuan teknologi. Tentu guru yang begini karena tidak memiliki jiwa dan etik dan moral yang kuat. Bagaimana memiliki jiwa dan etik moral yang kuat disaat pembelajaran berlangsung di kelas live tik-tok, live youtube, live facebook yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran murid. Hanya ingin memperbanyak pengikut atau follower.

Dampak lain yang bisa kita lihat, guru merasa cemas dan rasa takut, jika tidak ikut serta pada trend masa kini yang oleh anak sekarang dikata FOMO. Sehingga guru justru meniru-niru anak murid atau anak seusia sekolah. Dari segi apapun niru, mulai dari kata-kata, gerakan tarian, mode pakaian, bahasa atau kosa kata, guru justru meniru murid. Kalau seorang guru sudah meniru-niru murid ini tandanya guru ada mengalami gangguan keguruanya.

Guru juga manusia. Tetapi setidaknya jiwa dan etik moral profesi guru harus disematkan dengan kuat di jiwa dan raga seorang guru. Sangat boleh mengikuti perkembangan teknologi, demi mendukung profesi, demi peningkatan kualitas kehidupan, dan kesejahteraan. Namun harus dapat menempatkan diri. Kalau guru di sekolah, di kelas terlalu banyak live dan scroll tik-tok, live youtube, live facebook, tanpa ada kaitannya dengan pembelajaran mungkin ini perlu dipertanyaakan profesi keguruannya.

Penulis: Sri Juliastuti

Add a Comment

Your email address will not be published.