PENGALAMANKU MENGAJAR DI SD
“Beri ruang untuk orang lain, beri ruang untuk diri sendiri”. Kalimat tersebut saya dapatkan ketika mengikuti Pelatihan 4 in 1 di PIK April 2026 lalu. Ketika mendengarkan kalimat tersebut yang timbul dalam pikiran adalah mengapa kita harus melakukan hal tersebut, mengapa kita harus memberi ruang untuk orang lain terlebih dahulu, bukankah kita juga membutuhkan hal itu ? Dan kalimat tersebut mengingatkan saya tentang pengalaman ketika pertama kali pindah unit mengajar di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. Dari unit SMA ke unit SD. Budaya Humanis bukan hal baru bagi saya tetapi mengajar budaya humanis adalah penghargaan sekaligus tantangan bagi saya. Selama menjadi guru saya selalu mengampu mata Pelajaran sesuai dengan latar belakang pendidikan, kali ini saya diberi kesempatan mempelajari hal yang baru sekaligus mengajarkannya kepada anak SD. Tentu saja kesempatan berharga ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Artikel ini menjadi refleksi bagi diri sendiri dan kesempatan untuk melihat seberapa banyak saya belajar hal baru dan pentingnya membangun komunikasi dengan semua orang. Terutama berhubungan dengan siswa dan teman sejawat. Ketika mendapatkan kesempatan untuk pindah unit dan mengajar materi baru saya sempat mengalami rasa takut, rasa tidak mampu dan rasa tidak percaya diri. Karena saya menghadapi hal baru yang berbeda dengan biasanya. Berbeda dalam materi ajar dan berbeda dalam usia penerima pelajaran. Tetapi ini menjadi menarik ketika sudah mengalaminya secara langsung. Oleh pimpinan saya mendapatkan tugas mengajar kelas 1,2,3 dan 6 yang bagi saya sangat wow. Di satu sisi saya takut di sisi lain saya juga sangat tertarik. Sebelumnya saya menghadapi anak remaja dengan rentang usia 15 – 18 tahun dan kali ini saya menghadapi anak-anak dengan rentang usia 6 – 12 tahun yang sempat membuat saya agak bingung.
Ketika menyampaikan materi pada anak remaja selama ini tidak terlalu susah menghadapinya karena secara kognitif mereka sudah sangat berkembang dan bisa diajak berpikir teratur dan memahami pemikiran abstrak. Sedangkan untuk anak-anak yang baru saja lulus TK pikirannya masih polos dan keterikatan kepada guru sangat besar. Selain itu tingkah laku mereka yang masih polos memerlukan kesabaran lebih. Berbeda dengan anak-anak SMA yang sudah paham kesepakatan kelas bersama kalau anak SD terutama kelas kecil kita yang harus lebih sabar sekaligus tegas. Saat mengajar anak SMA, ketika anak-anak berbicara keras kemudian saya diam maka mereka tahu bahwa itulah tandanya mereka harus focus lagi ke Pelajaran tanpa diperintah. Sebaliknya ketika saya mengajar SD ketika saya diam maka mereka justru semakin banyak bicara dan bermain. Pemilihan kosa kata untuk menyampaikan materi pada anak-anak usia SD menjadi tantangan bagi saya, apalagi untuk kelas 1 dan kelas 2. Minggu-minggu pertama menghadapi mereka saya benar-benar gugup takut membuat mereka tidak nyaman karena materi yang baru dan murid baru juga.
Anak-anak kelas kecil dengan segala kepolosannya sering membuat kaget, lucu atau kesal. Tetapi saya harus mengatasinya dengan cepat, tidak boleh hal ini merugikan anak-anak, caranya saya konsultasi pada teman-teman yang sudah berpengalaman mengajar di SD, mengamati bagaimana teman-teman bersikap pada anak kecil, bagaimana teman-teman mengatasi anak-anak dengan pendekatan personal yang belum pernah saya lakukan.
Terutama bekerja sama dengan para wali kelas yang banyak memberikan informasi seputar mengajar anak-anak SD. Saya banyak belajar dari teman-teman, bertanya, meminta masukan dan saran, serta menonton youtube bagaimana guru-guru lain mengajar anak SD.
Ada anak yang terus bertanya kapan waktunya istirahat, ada yang bertanya mamanya mana, ada yang berkali-kali tanya saya tinggal dimana, tingkah mereka juga lucu-lucu. Untuk hal itu saya perlu memberikan ruang untuk anak-anak dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengenal gurunya dan memberi ruang pada saya untuk lebih memahami anak-anak dengan cara
- Menghargai privasi siswa
Setiap individu mempunyai privasi termasuk anak-anak, meskipun usianya sangat muda mereka sudah bisa memahami mana yang menjadi milik mereka mana yang bukan, oleh karena itu kita tidak boleh melewati privasi tersebut misalnya seorang anak tidak suka alat tulisnya dipegang maka kita tidak boleh lancang membuka kotak pensilnya tanpa izin karena hal itu dapat membuat anak tersebut kehilangan mood untuk belajar.
- Mengapresiasi usaha siswa, pengalaman berkesan mengajar kelas 1 adalah ketika seorang siswa berhasil meraut pensilnya setelah beberapa kali mencoba, dengan penuh senyum dia menunjukkan pensilnya pada saya. Hal yang sederhana bagi orang dewasa tetapi sebuah usaha bagi anak tersebut maka dia layak mendapatkan apresiasi dengan kata-kata positif misalnya kamu hebat, keren, luar biasa. Saya yang terbiasa melihat siswa remaja mengerjakan tugasnya tanpa bantuan jadi punya pandangan lain tentang usaha siswa sesuai level usianya.
- Memvalidasi perasaan
Memvalidasi perasaan membuat siswa merasa nyaman tanpa meremehkan dan mengecilkan perasaannya. Daripada mengatakan “Masa menulis satu kalimat saja lama sekali !” lebih baik kita mengatakan “ Tidak apa-apa sekarang belum bisa menulis cepat, kamu bisa berlatih dan lebih konsentrasi !”
- Menunjukkan empati
Dilakukan dengan cara memberikan senyuman, menepuk bahu, kata-kata penguatan, memberikan gesture yang mendukung yang membuat anak lebih nyaman.
- Memberikan Batasan
Batasan yang kita berikan kepada siswa adalah dengan cara mengajukan syarat yang bisa mereka lakukan misalnya kamu boleh menggambar kalu sudah menyelesaikan tugas.
Setelah beberapa bulan berlalu, saya dapat merasakan dan memahami kesulitan yang dialami guru-guru yang mengajar di SD, tetapi rasa” hangat “ perlahan juga tumbuh di hati saya dari antusiasme anak-anak yang mulai menyapa saya di manapun saya bertemu mereka, celetukan-celetukan khas anak-anak yang lucu memunculkan rasa sayang tanpa diminta. Para pimpinan dan teman-teman yang banyak membantu saya menghadapi pengalaman baru ini membuat saya semakin nyaman.
Penulis: Heny Triwulandari