Mengajar sebagai Panggilan: Ketika Materi Hanya Menjadi Alat

Saya mulai mengajar sejak tahun 2009. Kurang lebih 17 tahun, jika dihitung, sudah cukup panjang perjalanan yang saya lalui bersama ruang kelas, sekolah , peserta didik, buku pelajaran, tugas, penilaian, dan berbagai dinamika yang terjadi selama itu. Pada awal menjadi guru, pemahaman saya tentang mengajar masih sangat sederhana. Saya merasa tugas utama seorang guru adalah menyampaikan materi dengan baik. Saya menyiapkan bahan ajar, saya datang ke kelas dan menjelaskan di depan kelas, memberikan latihan, lalu memastikan peserta didik mampu menjawab soal.

Saat itu, keberhasilan pembelajaran sering saya ukur dari seberapa banyak materi yang berhasil diselesaikan. Saya merasa lega dan senang apabila seluruh pokok bahasan dapat disampaikan sesuai rencana , sesuai dengan buku pegangan guru dan buku paket siswa . Sebaliknya, saya merasa tertinggal , saya merasa cemas ,ketika waktu pembelajaran habis sementara materi belum selesai. Namun, semakin lama menjalani profesi ini, semakin saya memahami bahwa mengajar tidak sesederhana memindahkan isi buku ke dalam pikiran peserta didik. Materi memang penting, tetapi materi bukanlah tujuan akhir. Materi hanyalah alat yang mempertemukan guru dengan peserta didik dalam sebuah proses pertumbuhan.

Di dalam satu kelas, kita tidak pernah benar-benar berhadapan dengan sekumpulan peserta didik yang sama. Mereka mungkin mengenakan seragam yang sama, duduk di ruangan yang sama, dan mempelajari materi yang sama. Namun, setiap anak membawa cerita, kemampuan, kebiasaan, ketakutan, harapan, dan persoalannya masing-masing.

Ada peserta didik yang cepat memahami penjelasan, tetapi sulit bekerja sama. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi, tetapi sangat tekun dan rajin. Ada yang aktif bertanya, ada yang memilih diam.Ada yang tidak bisa duduk diam di bangku kelas, ada pula yang tampak tidak peduli, padahal sebenarnya sedang menghadapi masalah yang tidak pernah ia ceritakan. Pengalaman mengajar membuat saya belajar untuk tidak terlalu cepat memberikan penilaian.

Anak yang diam belum tentu tidak memahami. Anak yang banyak berbicara belum tentu tidak serius. Anak yang terlambat mengumpulkan tugas belum tentu malas. Terkadang, di balik perilaku mereka, terdapat alasan yang tidak langsung terlihat oleh guru. Karena itu, mengajar membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan materi. Mengajar membutuhkan kesediaan untuk mengenal, mendengarkan, dan memahami setiap siswa di dalam kelas.

Dahulu, saya merasa harus selalu memiliki jawaban atas setiap pertanyaan. Saya berpikir bahwa guru harus terlihat paling dan harus mengetahui apapun di dalam kelas. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa guru tidak harus menjadi satu-satunya orang yang berbicara dan memberikan jawaban.

Ada kalanya peserta didik justru perlu diberi kesempatan untuk mencari, mencoba, bertanya, berdiskusi, dan menemukan jawabannya sendiri. Pada titik itulah peran guru mulai berubah. Guru tidak lagi hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga menjadi pembimbing dan coach di dalam kelas. Sebagai coach, guru tidak selalu langsung memberikan jawaban. Guru dapat memberikan pertanyaan yang membantu peserta didik berpikir:

“Apa yang sudah kamu pahami?”

“Bagian mana yang masih membuatmu bingung?”

“Mengapa kamu mengambil kesimpulan tersebut?”

“Adakah cara lain untuk melihat persoalan ini?”

“Apa yang dapat kamu perbaiki?”

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat mengajak peserta didik mengenali cara berpikirnya sendiri. Mereka belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari proses, melainkan bagian dari perjalanan untuk memahami sesuatu dengan lebih baik. Tugas guru bukan sekadar memberi informasi jawaban yang benar, tetapi mendampingi peserta didik sampai mereka mampu menemukan alasan di balik jawaban tersebut.

Setiap mata pelajaran memiliki tujuan akademik. Peserta didik perlu memahami konsep, menguasai keterampilan, dan mencapai kompetensi tertentu. Namun, di balik semua itu, terdapat proses yang lebih besar: membentuk manusia yang berkarakter. Ketika peserta didik mengerjakan tugas kelompok, mereka bukan hanya sedang menyelesaikan sebuah produk. Mereka sedang belajar berbagi tanggung jawab, mendengarkan pendapat, mengelola perbedaan, dan menyelesaikan konflik. Ketika mereka melakukan presentasi, mereka bukan hanya sedang menyampaikan materi. Mereka sedang belajar membangun keberanian dan menyampaikan gagasan dengan bertanggung jawab. Ketika mereka melakukan kesalahan, mereka bukan hanya sedang kehilangan nilai. Mereka sedang belajar menerima konsekuensi, mengevaluasi diri, dan memperbaiki cara bekerja. Bahkan ketika peserta didik mempelajari suatu peristiwa, konsep, atau teks, sesungguhnya guru memiliki kesempatan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, ketekunan, kejujuran, empati, dan tanggung jawab.

Di sinilah saya semakin memahami bahwa materi hanyalah alat. Tujuan yang lebih besar adalah membantu peserta didik bertumbuh menjadi pribadi yang mampu berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan dengan lebih baik.

Semakin lama menjadi guru, saya justru semakin merasa bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari. Perubahan zaman menghadirkan peserta didik dengan kebiasaan dan kebutuhan yang berbeda. Teknologi berkembang. Informasi semakin mudah diperoleh. Cara anak berkomunikasi dan belajar juga terus berubah. Guru tidak dapat hanya mengandalkan cara yang sama dari tahun ke tahun. Ada metode yang berhasil digunakan pada satu kelas, tetapi tidak berjalan baik pada kelas lain. Ada rencana pembelajaran yang terlihat sempurna di atas kertas, tetapi perlu diubah ketika berhadapan dengan kondisi nyata. Ada pula saat ketika seorang guru harus mengakui bahwa pendekatannya belum tepat. Bagi saya, mengakui bahwa kita belum tahu bukanlah kelemahan. Justru dari sanalah proses belajar dimulai.

Peserta didik juga mengajarkan banyak hal kepada saya. Mereka mengajarkan kesabaran, fleksibilitas, kejujuran, dan kemampuan melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Tidak jarang, sebuah pertanyaan sederhana dari peserta didik membuat saya kembali memikirkan cara saya mengajar. Karena itu, ruang kelas bukan hanya tempat peserta didik belajar dari guru. Ruang kelas juga menjadi tempat guru belajar bersama peserta didiknya.

Setelah menjalani profesi ini sejak 2009, saya menyadari bahwa mengajar telah menjadi bagian yang sangat dekat dengan diri saya. Ada rasa nyaman ketika berada di dalam kelas. Bukan karena setiap hari selalu berjalan mudah, tetapi karena saya menemukan makna di dalam prosesnya. Ada kebahagiaan ketika melihat peserta didik yang semula ragu mulai berani mencoba. Ada rasa haru ketika peserta didik yang sering mengalami kesulitan akhirnya mampu menyelesaikan tugasnya. Ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika seorang anak mulai percaya bahwa dirinya mampu.

Menjadi guru tentu memiliki tantangan. Ada kelelahan, perubahan kebijakan, tanggung jawab administrasi, perbedaan karakter peserta didik, dan harapan yang tidak selalu mudah dipenuhi. Namun, di tengah semua itu, selalu ada alasan untuk kembali masuk ke kelas dan mencoba sekali lagi.Perlahan, mengajar tidak lagi saya pandang hanya sebagai pekerjaan. Mengajar menjadi panggilan untuk hadir dalam proses pertumbuhan orang lain.

Guru mungkin tidak selalu mengetahui seberapa besar pengaruhnya bagi peserta didik. Tidak semua hasil dapat terlihat saat itu juga. Bisa jadi, nasihat yang diberikan baru dipahami bertahun-tahun kemudian. Bisa jadi, perhatian kecil yang menurut guru biasa saja justru menjadi hal yang diingat seorang anak. Karena itu, saya belajar untuk tidak hanya bertanya, “Apakah materi hari ini sudah selesai?”

Saya juga perlu bertanya:

“Apakah hari ini peserta didik merasa didengar?”

“Apakah mereka memperoleh kesempatan untuk berpikir?”

“Apakah mereka merasa aman untuk mencoba?”

“Apakah saya sudah membantu mereka mengenali potensi dirinya?”

Pada akhirnya, materi pelajaran akan terus berubah dan berkembang. Buku dapat diperbarui, metode dapat berganti, dan teknologi akan terus bergerak maju. Namun, kebutuhan seorang anak untuk didampingi, dipercaya, dan diarahkan akan selalu ada. Di sanalah seorang guru mengambil peran. Bukan hanya sebagai orang yang menyampaikan materi, tetapi sebagai pembimbing yang menemani perjalanan, sebagai coach yang membantu peserta didik menemukan kemampuannya, dan sebagai sesama pembelajar yang terus bertumbuh bersama mereka.

Setelah bertahun-tahun berada di ruang kelas, saya sampai pada satu pemahaman sederhana: kita mengajar materi, tetapi yang kita hadapi adalah manusia.

Dan bagi saya, di situlah letak panggilan seorang guru.

 

Oleh: Maria Fescilita, S.Pd.

Add a Comment

Your email address will not be published.