Siapa yang Memadamkan Rasa Ingin Tahu Anak di Ruang Kelas?

Coba luangkan waktu lima menit memperhatikan anak umur empat atau lima tahun saat melihat iring-iringan semut di lantai teras rumah.

Mereka bisa betah jongkok sampai kakinya kesemutan, menatap jengkal demi jengkal tanah, lalu menodong orang tuanya dengan pertanyaan bertubi-tubi: Bu, semutnya mau ke mana? Kok jalannya bisa rapi? Mereka punya rumah nggak di dalam tanah? Jawaban kita sering kali belum tuntas, tetapi kepala kecil itu sudah punya rentetan tanda tanya baru.

Namun, entah di titik mana, binar penasaran itu mendadak raib begitu seragam putih-merah mulai mereka kenakan.

Masuklah ke ruang kelas sekolah dasar mana pun hari ini. Selesai guru menulis rangkuman bab panjang di papan tulis dan melontarkan kalimat sakti, “Ada yang mau ditanyakan?”, seisi ruangan seketika membeku. Anak-anak kompak menunduk. Sebagian pura-pura sibuk mencoret-coret buku tulis, sebagian lagi mendadak sangat tertarik menatap ujung sepatu mereka sendiri. Semua berharap mata guru tidak mendarat ke meja mereka.

Suasana hening seperti itu sering kali kita puji sebagai tanda kelas yang tertib dan kondusif. Padahal, keheningan itu sering kali lahir dari rasa gentar. Anak-anak cepat membaca pola ruang kelas kita: membuat kesalahan adalah aib. Dalam sistem yang cuma menghargai satu jawaban persis seperti kunci jawaban di buku paket, berpendapat beda terasa terlalu berisiko. Lebih aman diam dan mengangguk daripada diejek teman sekelas atau dicap membuang waktu pelajaran.

Pola ini pelan-pelan mencetak anak-anak menjadi penghafal ulung yang patuh, tetapi gugup luar biasa saat diminta mengambil keputusan sendiri.

Mengubah kebiasaan ini sebenarnya tidak butuh perubahan kurikulum yang muluk-muluk. Kuncinya sering kali cuma ada pada kesediaan guru untuk menahan diri. Ketika ada seorang murid melontarkan celetukan aneh yang melenceng dari topik bab hari itu, jangan buru-buru memotongnya atau langsung memberi ceramah panjang. Tahan dorongan untuk menjadi kamus berjalan. Lempar balik rasa bingung itu ke seluruh kelas: “Kira-kira kalau menurut kalian, kenapa bisa begitu?”

Saat anak-anak tahu bahwa tebakan keliru mereka tidak akan ditertawakan, ruang kelas yang tadinya kaku perlahan mencair. Tidak apa-apa jika kelas jadi sedikit berisik oleh perdebatan kecil atau suara gesekan bangku saat mereka sibuk menguji sesuatu. Keberhasilan seorang guru bukan dinilai dari seberapa cepat seisi ruangan mencatat semua materi sampai habis, melainkan ketika bel pulang sudah berbunyi nyaring, tetapi mereka masih asyik berdiri di dekat pintu mendebatkan satu misteri kecil yang belum selesai mereka pecahkan.

Add a Comment

Your email address will not be published.