Gen Z Malas Angkat Telepon? Mitos atau Fakta?
Jakarta – Perkembangan dan kemajuan teknologi mengharuskan manusia untuk terus-menerus melakukan penyesuaian terhadap perubahan tersebut. Salah satu hal yang paling menonjol dari perkembangan teknologi adalah perubahan pola dan cara berkomunikasi. Sebelum memasuki era digitalisasi, manusia cenderung melakukan komunikasi dengan bertemu secara langsung atau bertatap muka untuk saling bertukar informasi. Namun, kebiasaan tersebut kini tergerus dan mengalami pergeseran; masyarakat mulai terbiasa menggunakan teknologi untuk memberi dan menerima informasi.
Berbagai aplikasi dan platform mulai bermunculan dan menawarkan sejumlah kemudahan, mulai dari desain user interface yang memberikan kenyamanan bagi pengguna, atau lebih dikenal dengan istilah user-friendly. Akses aplikasi yang mudah diperoleh, dan berbagai keuntungan yang ditawarkan oleh penyedia layanan komunikasi atau platform media sosial. Maraknya aplikasi dan layanan komunikasi seolah memberi kebebasan kepada pengguna untuk memilih dan menentukan aplikasi apa yang digunakan untuk saling bertukar informasi. Selain sebagai media komunikasi, beberapa aplikasi juga memberikan layanan dengan fitur-fitur tambahan yang dapat membantu masyarakat untuk memudahkan pengguna itu sendiri, seperti fitur mengirim gambar, pesan suara atau voice note, mengirimkan video, atau sekadar menggunakan fitur untuk mengekspresikan keadaan atau suasana yang sedang dirasakan melalui fitur emoji dan GIF atau gambar bergerak.
Akan tetapi, kemudahan ini tidak menjadi perubahan komunikasi yang membawa dampak baik di kalangan Generasi Z. Generasi Z merupakan generasi yang lahir mulai tahun 1997 sampai tahun 2012. Generasi ini tentunya bertumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan teknologi. Generasi Z atau yang lebih dikenal dengan Gen Z, cenderung melakukan komunikasi yang sedikit berbeda dari komunikasi yang lazim terjadi. Bagi generasi sebelumnya, panggilan suara merupakan hal yang menyenangkan dan paling umum digunakan untuk sekadar menanyakan kabar atau berbicara banyak hal bahkan berjam-jam lamanya. Selain itu, menelepon kembali apabila melewatkan panggilan telepon merupakan etika yang terbentuk di kalangan generasi sebelumnya.
Gen Z memiliki perubahan dan pola yang berbeda dalam menyikapi “komunikasi” itu sendiri. Generasi ini cenderung melakukan komunikasi menggunakan pesan teks atau pesan singkat dan enggan menjawab panggilan telepon atau panggilan suara, meski tidak semua Gen Z melakukan hal tersebut. Kebiasaan ini muncul dan terjadi tidak hanya di kalangan internal seperti keluarga, orang tua, sanak saudara, kerabat dekat, atau lingkungan sekitar, tetapi kebiasaan ini terjadi di hampir seluruh lini kehidupan Gen Z, misalkan lingkungan kerja, organisasi, kelompok, atau lingkungan pertemanan. Hal ini mengakibatkan etika berinteraksi dengan orang melalui panggilan telepon mulai hilang. Kebiasaan melewatkan panggilan atau menolak panggilan suara adalah hal yang lumrah terjadi.
Ada beberapa hal yang memicu generasi ini untuk tidak menerima panggilan suara secara langsung. Beberapa orang beranggapan bahwa panggilan telepon membuat mereka menjadi tidak nyaman dan tidak percaya diri dalam berkomunikasi. Hal lain juga dipicu oleh maraknya penawaran-penawaran produk dan jasa atau penipuan yang dilakukan oleh beberapa perusahaan yang menawarkan layanan mereka melalui panggilan telepon yang terjadi secara acak. Di sisi lain, beberapa Gen Z beranggapan bahwa komunikasi melalui sambungan telepon seluler secara langsung membuat mereka tidak memiliki privasi atau waktu untuk berpikir ketika hendak menyampaikan pendapat. Selain itu, komunikasi menggunakan pesan teks menjadi favorit karena pesan dapat direspon sesuai dengan keinginan dan memberi jeda waktu kepada mereka untuk berpikir terlebih dahulu.
Dikutip dari CBS News, survei yang dilakukan oleh Australia menunjukkan sebanyak 90% Gen Z merasa cemas dan canggung ketika berbicara secara langsung melalui panggilan telepon. Faktanya, panggilan telepon merupakan salah satu hal yang paling dihindari dalam kehidupan mereka.
Keadaan tersebut juga dipicu oleh hal lain mengenai isu kesehatan mental. Gen Z cenderung menghindari hal-hal yang dianggap memengaruhi kesehatan mental mereka. Kecemasan berlebih, gugup, tidak percaya diri, dan ketakutan menjadi faktor utama yang terjadi apabila mereka hendak melakukan panggilan telepon atau menerima panggilan telepon. Di sisi lain, menerima atau melakukan panggilan telepon sangat menyita perhatian mereka karena mereka menganggap tidak dapat melakukan banyak hal dalam satuan waktu yang sama atau multitasking.
Beberapa ahli menilai bahwa Gen Z tidak melakukan panggilan secara langsung karena memiliki ketakutan yang berlebihan terhadap hal yang nantinya akan diterima, misalnya penghinaan dan ketidakmampuan untuk merespons secara cepat dan tepat apabila mereka mendapatkan pertanyaan. Pesan teks menjadi pilihan terbaik untuk berkomunikasi, dan mengirimkan emotikon atau stiker adalah hal yang menyenangkan bagi Gen Z sebagai bentuk komunikasi dan mengekspresikan diri.
Penulis: Thomas Aquino Ceufin