Mengajar Tanpa Batas: Strategi Mendidik dan Mengajar Anak Inklusi
Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng menyelenggarakan Pelatihan Guru Tahun Ajaran 2025/2026 dengan mengusung tema “Sekolah Berwawasan Global yang Berbudaya Humanis”. Kegiatan ini berlangsung pada hari Senin dan Selasa, 7–8 Juli 2025, bertempat di Aula Gedung C Lantai 2, Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. Dalam kegiatan ini, kurang lebih 150 guru dan karyawan turut berpartisipasi sebagai bagian dari upaya peningkatan kompetensi dan wawasan dalam membangun lingkungan belajar yang humanis dan berorientasi global.
Salah satu sesi yang paling menarik bagi saya adalah materi bertajuk “Strategi Mendidik dan Mengajar Anak Inklusi” yang dibawakan oleh Bapak Untung Subroto, M.Psi., Psikolog. Dalam sesi ini, beliau menjelaskan bahwa anak inklusi adalah anak-anak dengan kebutuhan khusus, baik dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, maupun perilaku, yang belajar bersama anak-anak lainnya di sekolah umum.
Pak Untung menekankan pentingnya pemahaman guru terhadap berbagai jenis kebutuhan khusus pada anak inklusi, seperti:
- Gangguan Spektrum Autisme (GSA/ASD)
- Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
- Disabilitas Intelektual (tuna grahita)
- Disleksia
- Gangguan Emosi dan Perilaku (GEP)
- Gangguan Pendengaran (tuna rungu)
- Gangguan Penglihatan (tuna netra)
- Slow Learner
Dengan memahami karakteristik masing-masing, guru dapat menerapkan prinsip dasar dalam menghargai keberagaman, bersikap fleksibel dalam metode pembelajaran, serta memfokuskan pendekatan pada potensi anak yang dapat dikembangkan, bukan pada keterbatasan mereka. Guru juga didorong untuk menjalin komunikasi yang efektif dengan orang tua demi mendukung kemajuan belajar anak.
Di akhir sesi, Pak Untung menyampaikan pesan yang menyentuh:
“Anak-anak mungkin tidak akan mengingat semua materi yang kita ajarkan, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa nyaman dan dihargai.”
Pernyataan ini menjadi pengingat bagi saya bahwa keberhasilan seorang guru bukan hanya diukur dari pencapaian akademik murid, tetapi juga dari bagaimana guru dapat menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan penuh kasih bagi semua anak.
Refleksi Pribadi
Sesi ini membuka wawasan saya bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan ruang belajar yang penuh empati dan penerimaan. Saya tersadar bahwa setiap anak datang dengan keunikan dan tantangannya masing-masing, dan sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai pendidik untuk mengakomodasi kebutuhan mereka, bukan menuntut mereka menyesuaikan diri sepenuhnya dengan sistem yang ada.
Saya juga belajar bahwa mengenali jenis-jenis kebutuhan khusus bukanlah untuk memberi label, tetapi untuk memahami cara terbaik mendampingi mereka. Kelembutan, kesabaran, dan kreativitas guru menjadi jembatan penting dalam menjangkau hati dan pikiran anak inklusi.
Pesan Pak Untung benar-benar membekas di hati saya. Sebagai guru, saya ingin menjadi sosok yang tidak hanya dikenang karena pelajaran yang saya ajarkan, tetapi karena saya mampu membuat murid merasa aman, didengar, dan diterima apa adanya. Inilah esensi mengajar tanpa batas: mendidik dengan hati, tanpa mengabaikan keberagaman, dan selalu berusaha menjangkau setiap anak—di mana pun mereka berada dalam proses belajar mereka.
Penulis: Farida Hariyanto
Unit: TK
paparan yang sangat menarik dan memperkaya wawsan guru dalam menemani anak belajar di sekolah
Comments are closed.