Mengapa Siswa Suka Pegang Slime atau Menggambar Saat Belajar? Temuan Mengejutkan di Balik Kebiasaan Mereka.

Oleh: Ima Patmawati

Pernahkah kalian melihat siswa di kelas yang tampak asyik memegang slime, bola kecil, atau bahkan menggambar saat guru sedang menjelaskan? Sekilas, perilaku ini mungkin tampak seperti tanda kurang fokus. Namun, ternyata, banyak penelitian di bidang psikologi pendidikan dan neurosains justru menemukan bahwa aktivitas motorik ringan seperti ini bisa membantu sebagian anak untuk tetap berkonsentrasi. Kegiatan sederhana itu menjadi cara mereka mengatur diri agar lebih siap menerima pelajaran.

Artikel ini akan mengajak kita melihat fenomena itu dari sudut pandang ilmiah, sekaligus menempatkan pengalaman siswa dalam bingkai pendidikan yang inklusif dan penuh rasa kemanusiaan.

Regulasi Diri dan Stimulasi Sensorik

Pada anak-anak sekolah dasar, kemampuan mengatur perhatian, emosi, dan dorongan hati (impuls) masih terus berkembang. Inilah yang disebut regulasi diri. Setiap anak belajar menemukan caranya sendiri agar bisa menyesuaikan diri dengan suasana belajar di kelas.

Beberapa anak ternyata membutuhkan rangsangan sensorik tambahan supaya tetap waspada dan tidak mengantuk di kelas. Misalnya, dengan meremas benda lunak atau memainkan sesuatu di tangan, energi mereka bisa tersalurkan tanpa mengganggu proses berpikir utama.

Penelitian soal ‘fidgeting’ alias gerakan-gerakan kecil yang tidak mengganggu membuktikan, aktivitas ini bisa membantu anak-anak—terutama yang mudah terdistraksi—untuk tetap fokus. Teori sensory integration juga menjelaskan bahwa rangsangan sensorik tambahan bisa membantu sistem saraf anak agar lebih seimbang dalam merespons lingkungan sekitarnya.

Menggambar dan Peningkatan Retensi Memori

Aktivitas menggambar saat belajar ternyata punya dasar ilmiah juga. Penelitian psikologi kognitif menyebut, menggambar materi pelajaran bisa membuat anak lebih mudah mengingatnya dibandingkan hanya menyalin atau membaca ulang saja.

Saat menggambar, otak anak bekerja secara visual, motorik, dan makna sekaligus. Proses itu memperkuat memori mereka. Di kelas, coretan-coretan kecil ketika mendengarkan guru justru bisa membuat mereka tetap terlibat dan aktif berpikir.

Tentu saja, aktivitas menggambar tetap perlu diarahkan agar tidak membuat anak lupa pada materi utama yang sedang dipelajari.

Pendidikan Inklusif dan Nilai Humanis

Di dunia pendidikan saat ini, guru didorong untuk menyesuaikan cara mengajar sesuai kebutuhan setiap siswa. Memberi ruang bagi anak untuk memegang slime atau menggambar, selama tetap terkontrol, adalah bentuk penghargaan atas keunikan cara belajar mereka.

Seperti diajarkan Master Cheng Yen, pendidikan itu bukan cuma soal nilai akademik, melainkan juga membina hati dan memahami kebutuhan setiap anak. Empati dan kebijaksanaan menjadi kunci dalam setiap keputusan guru di kelas.

 

Prinsip Implementasi di Lingkungan Sekolah

Supaya benda-benda seperti slime atau alat gambar bisa benar-benar membantu belajar, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan di sekolah:

  1. Digunakan untuk membantu fokus, bukan sebagai sarana bermain bebas.
  2. Tidak menimbulkan gangguan bagi lingkungan belajar.
  3. Dipantau secara berkala untuk memastikan efektivitasnya.
  4. Tidak digunakan dalam situasi yang memerlukan perhatian penuh tanpa distraksi, seperti ujian.

Dengan aturan yang jelas, sekolah bisa menjaga keseimbangan antara fleksibilitas dan kedisiplinan di kelas.

Proses belajar anak itu sebenarnya melibatkan pikiran, perasaan, dan pengalaman sensorik. Kalau dilakukan dengan pengawasan, kebiasaan seperti memegang slime atau menggambar ringan bisa menjadi strategi positif yang terbukti didukung penelitian psikologi dan pendidikan.

Sekolah yang mampu menggabungkan sains dengan nilai-nilai kemanusiaan akan menciptakan suasana belajar yang aman, suportif, dan ramah bagi semua murid. Dengan begitu, setiap anak punya peluang berkembang sesuai keunikannya masing-masing.

 

Referensi

Andrade, J. (2010). What does doodling do? Applied Cognitive Psychology, 24(1), 100–106. https://doi.org/10.1002/acp.1561

Barkley, R. A. (2015). Attention-deficit hyperactivity disorder: A handbook for diagnosis and treatment (4th ed.). Guilford Press.

Craik, F. I. M., & Tulving, E. (1975). Depth of processing and the retention of words in episodic memory. Journal of Experimental Psychology: General, 104(3), 268–294.

Dunn, W. (1997). The impact of sensory processing abilities on the daily lives of young children and their families. Infants & Young Children, 9(4), 23–35.

Sousa, D. A. (2017). How the brain learns (5th ed.). Corwin.

Add a Comment

Your email address will not be published.