641 – Sang Penunggang Kuda dan Santo Fransiskus Xaverius (menemukan dharma yang sama dari kisah para tokoh beda agama)
Penulis; Eduardus Laot, S.S.
Pada sebuah kesempatan saya terkesan dengan sebuah postingan di facebook berjudul ‘renungan kehidupan’ Dharma Master Ceng Yen. Postingan tersebut diunggah pada tanggal 27 Mei 2019. Artinya postingan tersebut sudah berumur 6 tahun ketika saya menemukannya tanpa sengaja di beranda facebook. Hal yang membuat saya terkesan adalah sebuah cerita tentang seorang kaisar dan seorang penunggang kuda. Ketika saya membaca kisah tersebut, sontak terjadi klik dalam hati saya karena ending kisah tersebut nyangkut dengan sebuah pernyataan yang selalu saya ingat dari seorang kudus yang kami sebut santo (bagi laki-laki) dan santa (bagi perempuan). Orang kudus yang saya maksud adalah seorang kudus laki-laki bernama Santo Fransiskus Xaverius. Pernyataan beliaulah yang membuatku klik ketika membaca kisah kaisar dan penunggang kudanya tersebut dalam renungan Buddhis. Namun bagi saya yang bukan Buddhis tentu sebuah mukjizat karena kisah tersebut menemukan benang merah serupa yang terdapat juga dalam ajaran saya. Berikut saya memposting ulang kisah kaisar dan penunggang kudanya tersebut tanpa mengubah kata, kalimat, dan juga susunan ceritanya. Berikut isi postingannya;
Ada seorang Kaisar yang sangat kaya raya dan punya tanah jajahan yang sangat luas, pada suatu hari ia berkata kepada seorang anggota barisan berkudanya yang terkenal terampil dan sangat tangkas dalam berkuda, dia akan memberikan semua wilayah yang berhasil ditempuh oleh si penunggang kuda. Tawaran Kaisar langsung diterima, dengan gesit si penunggang kuda itu melompat ke atas kudanya. Lalu memacu kudanya untuk lari secepat mungkin agar dia bisa menjangkau wilayah seluas mungkin. Si penunggang kuda itu tak mau kehilangan waktu sedikit pun dan terus saja dia memacu kudanya.
Sebenarnya ia lapar dan lelah, demikian juga dengan kudanya tapi ia tak mau berhenti makan, minum dan beristirahat. Ia terus saja memacu kudanya tanpa mengenal lelah. Sampai akhirnya badannya tak sanggup lagi menahan kelelahan dan dia jatuh tersungkur ke tanah. Ia sangat lelah, sampai bernafas pun susah. Dalam keadaan sekarat, si penunggang kuda itu merenung dirinya sendiri: “Mengapa memaksa diri begitu keras untuk mendapatkan tanah yang seluas mungkin. Sekarang sebentar lagi akan meninggal dan tak akan bisa menikmati tanah seluas ini, untuk menguburkan diri saya hanya perlu tanah sedikit saja.
Nah itulah kisahnya yang mungkin aslinya lebih panjang. Dari kisah di atas saya menemukan sebuah pesan moral yakni keserakahan, ketamakan, kerakusan, ketidakpuasan mendatangkan penderitaan bagi diri sendiri. Sifat tersebut tentu tidak hanya milik satu agama tetapi semua manusia dari agama manapun memahami sifat tersebut. Semua penganut agama A-Z setuju jika sifat-sifat tersebut di atas adalah negatif. Master Cheng Yen mengatakan bahwa ketamakan bukan hanya menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri, namun juga dapat menjatuhkan akhlak seseorang. Manusia menjadi berkelakuan tidak seperti manusia lagi ketika memiliki sifat tamak. Lebih tepatnya manusia bertingkah layaknya hewan yang kelaparan. Homo homini lupus. Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Hal ini terlihat jelas ketika sang kaisar memberi opsi kepada sang penunggang kuda untuk menjangkau wilayah seluas-luasnya. Semakin luas terjangkau semakin luas pula kepemilikan/kepunyaan. Dan tanpa berpikir panjang, sang penunggang kuda memacu kudanya tanpa kasihan bahkan dirinya yang kelaparan dan kelelahanpun diabaikan agar menjangkau ‘kerakusan’ seluas-luasnya. Hasil akhir adalah sekarat dan tidak memiliki apa yang dikejar. Pada titik inilah saya terkesima sebab akhir cerita dalam kisah tersebut muncul dalam pernyataan Santo Fransiskus Xaverius. Santo Fransiskus yang hidup tahun 1550-an pernah menyatakan demikian “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikan sebagai pengganti nyawanya?“ Kalimat ini sebenarnya bukan kalimat ciptaan beliau, tetapi bahan refleksi beliau yang didasarkan pada tulisan dalam Alkitab khususnya Injil Matius 16:26 dan Markus 8:36. Mengapa kalimat ini yang direfleksikan oleh Santo Fransiskus? Perlu diketahui bahwa beliau bukanlah orang sembarangan sebab masa mudanya dipenuhi huru hara dan juga beliau seorang terdidik di Universitas Paris yang bergengsi. Akibat berteman dengan Santo Ignatius Loyola maka kalimat tersebut sering diulang ulang oleh Loyola agar Fransiskus menjadi sadar akan makna kehidupan ini. Dan di situlah titik baliknya bahwa ungkapan tersebut menjadi pengingat mendalam bagaimana kepopularitasan, kekuasaan, kekayaan duniawi sifatnya hanya semu. Tidak ada yang kekal. Ia menyadari bahwa segala sesuatu harus diabadikan pada nilai-nilai yang kekal. Apakah dulunya kaisar dan sang penunggang kuda serta Fransiskus pernah bertemu atau ajaran ketamakan itu menyebar dari Taiwan hingga Eropa atau pernah berguru pada seorang guru bijak yang sama? Wallahualam. Tidak ada yang tahu pasti. Yang pasti tidak. Fransiskus tentu tidak mengenal kaisar dan juga sang penunggang kuda tersebut namun isi pemikiran mereka tentang sifat serakah manusia persis sama. Bagi saya inilah titik temu di antara pemikiran dan praktik dharma kedua tokoh dalam kisah di atas. Ajaran Master tentang ketamakan, keserakahan yang menghilangkan akhlak manusiawi pada dasarnya bukanlah hal asing bagi saya sebab melalui dharma santa-santo, merekapun melakukan hal yang sama dan apa yang dilakukan itu tertulis jelas dalam Alkitab. Kisah Santo Fransiskus selanjutnya benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak lagi memikirkan keduniawian. Ia bergabung menjadi seorang anggota biarawan Jesuit, meninggalkan kastilnya di Spanyol dan diutus ke Hindia Belanda (Indonesia) menjadi misionaris. Selain itu dalam kesederhanaannya ia berkelana ke negara-negara benua Asia. Pada suatu saat Ia mendapatkan hadiah dari seorang raja Portugal namun menolaknya secara halus dengan mengatakan “cara terbaik bagi seseorang untuk mendapatkan martabat sejati adalah dengan mencuci baju serta memasak makanannya sendiri” Kalimat ini begitu sederhana namun menjadi pukulan telak untuk raja tersebut karena begitu berkuasa hingga lupa diri dan penuh dengan gengsi. Bentuk dharma yang ditonjolkan oleh Santo Fransiskus berbanding lurus dengan makna kalimat-kalimat bijak Master Cheng Yen yakni martabat manusia yang didapat dari gengsi atau memperebutkan (mungkin yang dimaksud master adalah mencari muka) muka adalah hal yang semu. Harga diri dan martabat sejati hanya dapat diperoleh melalui pembinaan diri secara terus-menerus dan perbuatan baik. Salah satu bentuk pembinaan diri itu adalah mencuci baju dan memasak makanannya sendiri seperti yang diungkapkan Santo Fransiskus.