642 – Let Them Scroll (Sharing pengalaman galau)
Oleh Eduardus Laot/Guru Agama Katolik
Judul di atas sebenarnya saya kutip tanpa perubahan dari sebuah judul tulisan berbahasa Inggris yang pernah saya baca dalam sebuah website. Pertama kali membaca judul tersebut saya tersenyum sendiri bukan karena isi tulisannya tetapi karena pikiran tertuju kepada situasi kelas yang saya ampuh; sebagai guru mapel dan juga sebagai walikelas. Sejujurnya saya tidak terlampau mendalami isi tulisan dalam website itu tetapi judulnya bisa menggambarkan apa yang saya amati dan alami dalam keseharian di kelas. Let Them Scroll; biarkan mereka menggulir/menelusuri konten (tanpa lelah). Mungkin itulah arti yang mendekati makna yang saya pahami walau mungkin di antara kita tidak terlalu setuju dengan makna itu sebab rasa bahasanya sedikit ‘terpeleset’ dari bahasa Indonesia. Di sini saya tidak mengartikan atau menulis ulang isi tulisan dalam bahasa Inggris tersebut tetap ingin menguraikan pengalaman dan kegalauan saya sebagai seorang pendidik ketika melihat kelakuan murid-murid yang sangat menikmati kegiatan scroll medsos (entah apapun itu applikasinya) bersamaan dalam waktu pembelajaran, uniknya konten yang discroll tidak ada sangkut pautnya dengan pembelajaran. Sebagai seorang pendidik tentu bukan hal baru dan sedikit menguji kewarasan ketika kelas selalu dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan ‘tak pantas’ dalam sebuah pembelajaran. Tentu kelas bukanlah ruang suci di mana semua anak harus duduk tenang dan mendengarkan pidato yang tak berkesudahan seorang manusia tua di podium. Kelas merupakan ruang aktifitas akademik yang membutuhkan reaksi dua pihak; pendidik dan yang dididik. Harapan saya adalah kelas berfungsi seperti yang diharapkan di mana ada aktifitas reaksi dua pihak yang memunculkan nilai-nilai akademik.
Sebagai seorang pendidik untuk anak-anak Katolik dan juga sebagai walikelas, pada umumnya sumber belajar tidak hanya buku fisik tetapi juga sumber-sumber online yang sangat kaya; games, video, kuis, documenter, website, dll. Tentu sangat memudahkan bagi saya untuk menemukan sumber belajar tanpa harus berpeluh tenaga mengunjungi perpustakaan, museum, tempat ziarah, makam para pahlawan/santo santa, dan lain-lain yang sangat menyita waktu. Sekali klik semua keinginan tersaji. Bagi saya sangat mungkin untuk mengatur dan tentu akan berjalan lancar perencanaan pembelajaran. Secara umum dapat dikatakan berjalan lancar namun dibalik kelancaran itu banyak waktu tersendat dan terjadi penguluran waktu karena waktu terus berjalan sementara murid masih terus scrolling (tentunya bukan bahan pelajaran). Ok.. ini sebuah duri kecil dari sekian banyak duri dalam aktifitas belajar hybrid. Sikap mengulur waktu karena scroll hal tidak bermanfaat tentu sangat tidak mengenakan tetapi sedikit diterima karena membantu mereka meluweskan kembali saraf-saraf yang terjepit karena berpikir monoton. Masalah muncul ketika rasa penasaran akademik diubah meloncati proses panjang untuk menemukan hasil. Inilah yang menyakitkan dan membuat saya galau sebab kerja otak dalam rasa penasaran itu sama sekali tidak bermanfaat, tidak digunakan. Sebagai guru, saya merasa tidak ada harganya saat ada bersama mereka ketika proses transfer ilmu memunculkan celetukan; “itukan bisa dari google”, “ada AI Pak”, “untuk apa capek berpikir jika sekali klik muncul penjelasan”. Celetukan itu benar. Memang benar. Tetapi yang saya pikirkan adalah brain rot seorang murid. Ini sangat mengerikan. Membayangkan seorang manusia sapiens tanpa ‘daya pikir’ mengingatkan saya pada mitos praktik Voodoo pada abad 17. Seorang dukun yang disebut bokor menggunakan racun ikan buntal untuk merusak saraf seseorang hingga mati suri. Kemudian korban akan dikuburkan sementara sebelum digali kembali dan diberi obat penawar untuk hidup namun pikirannya rusak sehingga dipekerjakan sebagai budak. Kenapa hal ini dilakukan? Karena budak hasil bokor tidak pernah kenal lelah dan tidak memiliki daya berpikir dalam otaknya. Apapun dilakukan tanpa sadar. Dengan scrolling hasil dari google, AI, Chat gbt, gemini, dan sejenisnya menjadikan murid lebih banyak mengikuti jalan pintas ketika berhadapan dengan sebuah tantangan untuk dilakukan. Hasilnya bagus namun ketika hasil itu divalidasi dengan tantangan kecil seperti mewawancarai, mempresentasikan, mengungkapkan secara lisan, disinilah kerusakan berpikir tampak. Hasil yang begitu rapih bukanlah hasil dari proses berpikir akademik tahap per tahap tetapi hasil sekali klik dari scrolling berbagai website karena kerja jari tangan bukan otak. Sarkastiknya adalah otak berpindah ke jari. Bisa jadi benar dalam konteks idiom namun secara denotatif saya sangat yakin otak tidak mungkin berpindah ke jari. Melakukan sesuatu yang berbeda konteks bersamaan dalam satu waktu bukan multiple task sesungguhnya dalam kisah ini. Ini lebih mengarah pada perilaku neurosis di mana scrolling menjadi semacam pelarian sementara karena arus ketertarikan yang mungkin belum selesai sebelumnya sehingga selalu memunculkan dorongan untuk gulir, gulir, dan terus gulir saat konsumsi konten berkualitas rendah. Akibatnya adalah kehilangan ketertarikan dalam aktifitas real sehari-hari. Sudah pasti penghabisan waktu yang sia-sia karena otak tidak mau diajak berproses. Materi pelajaran dianggap berat karena menuntut ketelitian mendalam, membaca menjadi sangat membosankan karena menuntut fokus serta daya kritis menjadi menurun karena otak menjadi malas berpikir sebab tidak terbiasa difungsikan. Dan selanjutnya mengarah pada respon emosi yang sangat tidak patut.
Saya berikan satu contoh; sebagai walikelas untuk jurusan rekayasa perangkat lunak, hampir setiap saat ketika saya masuk kelas, respon anak-anak sangat datar bahkan tanpa suara. “Selamat pagi anak-anak..” Responnya adalah menunduk memperhatikan laptop, jari berseliweran di atas tuts laptop, tersenyum senyam sendiri di depan layer HP tanpa ‘peduli’ asal suara tersebut. Situasi ini akan berlangsung beberapa detik tanpa balasan hingga saya mengulang kedua, ketiga, hingga respon itu muncul. Namun ini tidak melulu semua bersikap sempurna saat itu tetapi lebih kepada sikap antipati karena aktifitas mereka terganggu dengan sapaan tadi. Kesan pertama pasti tidak santun/sopan/dan sejenisnya. Dan sering kali terdengar paduan suara (keras dan penuh bantahan) dalam kelas yang berbunyi, “saya dengar pak, saya dengarrrrrr” namun arah mata/wajah tertuju pada screen bukan pada orang di depan. Jika saya perhatikan secara seksama, sejujurnya saya utarakan bahwa reaksi yang muncul ketika dicut seketika adalah respon spontan yang mengarah kepada perasaan terganggu tanpa peduli siapa yang mengganggu. Lagi enak-enak baku hantam di game ML tiba-tiba dicut guru. Kan menyakitkan murid gamers. Jika ini dilakukan berulang maka akan menjadi habit, kebiasaan yang melekat. Situasi yang selalu saya amati adalah saat pelajaran dan istirahat seringkali kelas terasa hening, kemudian sepersekian menit menjadi berisik, sangat berisik. Hebatnya, mereka berisik dengan diri sendiri. Berisik dalam konteks ini adalah keramaian dengan diri sendiri bukan karena reaksi face to face dengan teman. Fenomena ini sangat menarik bagi saya sebagai pengamat dadakan karena melihat seseorang meloncat-loncat, tertawa terbahak-bahak, berteriak tanpa arah, berlari tanpa arah, marah, namun dalam keadaan realnya, dia tidak berhubungan dengan siapapun. Dia tidak ada dalam kerumunan. Dia melakukannya untuk dirinya sendiri. Persis seperti mengamati spesies lain yang centil mirip manusia. Sebab yang membuatnya marah adalah HP dan laptop di tangan. Sesuatu yang membuat saya sadar bahwa manusia pada evolusi selanjutnya bukan lagi makhluk sosial tetapi makhluk ansos. Demikian pengalaman galau saya sebagai seorang pendidik, semoga tulisan ini membawa kita untuk terus memantau dan mengarahkan anak didik kita menggunakan medsos secara tepat guna. Saya bukanlah guru tipe kompeni yang semua serba fisik tetapi inti ajakan saya adalah mari bersama-sama memperbaiki perilaku anak didik dalam berkonten ria, sebab medsos adalah sarana dan tidak akan pernah menggantikan ‘membaca buku’ yang menuntut kerja otak.