Pembelajaran STEM melalui Kegiatan Memasak Telur Dadar di Kelas Budaya Humanis

Praktik baik membuat telur dadar siswa kelas 5 saat pembelajaran Budaya Humanis bukan sekedar kegiatan memasak biasa, melainkan sarat dengan  nilai edukatif. Pembelajaran ini dapat dikategorikan sebagai pembalajaran berbasis STEAM yang kontekstual namun terintegrasi dalam pembelajaran Budaya Humanis. Secara sederhananya, Budaya Humanis adalah budaya yang memanusiakan manusia. Suatu pola pikir, sikap dan perilaku yang menempatkan manusia sebagai makhluk mulia yang harus dihargai, diberdayakan serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian seperti empati, keadilan, kebebasan, dan martabat dalam seluruh aspek kehidupan.

Pada aspek Budaya Humanis anak-anak diajarkan untuk mengenal dan melestarikan kuliner tradisional Indonesia, menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya bangsa karena telur dadar merupakan makanan merakyat yang menyatukan semua lapisan masyarakat dan sebagai kuliner yang sehat. Anak-anak juga belajar untuk memahami nilai gotong royong dan kerja sama secara berkelompok, yang paling penting dalam pembelajaran ini adalah menumbuhkan empati dan kepedulian sosial karena setelah selesai memasak mereka akan berbagi makanan dengan teman dalam kelompok. Nilai karakter yang diajarkan yaitu sabar saat proses memasak, teliti dalam menggunakan bahan-bahan yang telah disediakan, rendah hati saat menerima masukan dari teman, kemandirian yang dapat dipraktikan oleh siswa dirumah.

Pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) pada aspek Science siswa diberi kesempatan untuk mengamati, bertanya, menyimpulkan metode ilmiah sederhana (perubahan wujud, reaksi kimia, konduksi panas, dan sifat bahan). Technology yang digunakan yaitu alat memasak, resep, alat ukur bahan yang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Dalam aspek Engineering siswa dibimbing untuk merancang resep, langkah-langkah memasak, mengatur suhu kompor dan waktu memasak, mengatasi masalah bersama teman saat memecahkan telur sampai membaliknya ketika satu sisi sudah matang di suhu kompor yang panas. Pada aspek Math siswa mencoba untuk menerapkan konsep pengukuran dan membandingkan bahan-bahan yang diperlukan dalam 1 posri makanan sehingga tercipta pembelajaran yang konkret dan bermakna. Sedangan aspek Art yang siswa dapatkan yaitu estetika penyajian yang merupakan hasil kerja sama dalam kelompok, matang sempurnakah? Belum matang? Atau malah overcook? yang akan menjadi pengalaman pembelajaran bermakna yang tak terlupakan.

Pembelajaran STEAM terintegrasi dengan Budaya Humanis ini sangat ideal, karena mengajarkan disiplin, kemandirian, berbasis praktik dan proyek nyata, melatih keterampilan, pastinya menyenangkan dan bermakna bagi anak agar dapat berpikir ilmiah, teknis dan matematis melalui pengalaman memasak tersebut.

Membentuk peserta didik tidak hanya cakap secara teknis, namun berakar pada budaya, berhati humanis, mampu bekerja sama, menghargai dan memiliki karakter mulia sebagai generasi penerus bangsa. Pembelajaran STEAM dan Budaya Humanis sewajarnya berjalan seimbang beriringan agar Pendidikan dapat, menghasilkan generasi yang cerdas sekaligus berbudi pekerti agar tercipta esensi Pendidikan Holistik sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.

 

Kendala dalam mengatasi suatu permasalahan biasanya terletak pada “manusianya”, bukan pada “masalahnya”.

-Kata Perenungan Master Cheng Yen-

Add a Comment

Your email address will not be published.