Mengelola waktu, Mengelola Diri Pembelajaran Budaya Humanis di Era Digital

Pada era teknologi saat ini,  mengelola waktu menjadi tantangan tersendiri bagi siswa SMP. Padatnya jadwal sekolah dan tugas belajar, kegiatan ekstrakurikuler dan interaksi sosial, kehadiran telepon genggam atau gawai semakin mempengaruhi cara siswa menggunakan waktu. Teknologi yang seharusnya membantu proses belajar terkadang menjadi sumber gangguan yang tanpa disadari membuat perhatian mudah teralihkan dan tidak fokus.

Bagi generasi Z dan Alpha yang lahir dan tumbuh bersama perkembangan teknologi, gawai sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka membutuhkan dan menggunakannya saat mencari informasi, mengerjakan tugas, berkomunikasi dengan teman dan berdiskusi melalui grup kelas. Namun di antara kebutuhan tersebut, terdapat banyak hiburan dari aplikasi media sosial dan aplikasi game. Tanpa disadari waktu yang semula dijadwalkan untuk belajar dapat berkurang karena perhatian berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Fenomena ini menjadi perhatian dalam pembelajaran budaya humanis, khususnya ketika siswa diajak membuat manajemen waktu.

Dalam pembelajaran tentang manajemen waktu, siswa tidak hanya menerima pemahaman tentang pentingnya waktu tetapi juga melakukan praktik menyusun jadwal kegiatan harian selama 24 jam. Mereka diajak mengidentifikasi waktu untuk sekolah, belajar, beristirahat, membantu orang tua, menjalankan hobi, dan menggunakan gawai. Melalui kegiatan ini siswa mulai melihat bagaimana waktu yang mereka gunakan setiap hari. Mereka menyadari bahwa saat mengerjakan tugas atau belajar sembari membuka gawai dapat bercampur dengan aktivitas lain, seperti membalas pesan, membuka media sosial, atau mengikuti percakapan di grup teman. Akibatnya tugas yang seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu tertentu menjadi lebih lama, sementara kegiatan lain beresiko tidak terselesaikan.

Pengalaman ini mengajak siswa memahami bahwa persoalannya bukan hanya pada keberadaan teknologi, melainkan pada kemampuan mengendalikan penggunaannya. Gawai dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat apabila digunakan sesuai kebutuhan, tetapi dapat pula mengganggu konsentrasi ketika kita tidak dapat mengontrol diri dan menggunakannya tanpa batasan yang jelas.

Menyusun jadwal kegiatan adalah langkah awal, tetapi perubahan sesungguhnya dimulai ketika mereka mampu menjalankannya dengan disiplin dan konsisten. Mereka perlu belajar membedakan kegiatan yang penting, belajar menentukan prioritas serta menyadari kapan dirinya mulai kehilangan fokus.

Salah satu langkah yang sederhana adalah menetapkan waktu khusus untuk belajar, tanpa terganggu notifikasi, serta memeriksa pesan setelah menyelesaikan tugas. Ketika mengerjakan tugas, siswa juga dapat memisahkan penggunaan gawai untuk keperluan belajar dari kegiatan semacam hiburan.  Hal ini bukan bertujuan menjauhkan siswa dari teknologi. Sebaliknya siswa diarahkan agar mampu menggunakan teknologi secara bijak, bertanggung jawab dan sesuai kebutuhan. Mereka belajar bahwa mengelola waktu sesungguhnya merupakan bagian dari mengelola diri.

Dalam sudut pandang budaya humanis, manajemen waktu berkaitan erat dengan karakter yang bertanggung jawab, disiplin dan menghargai kehidupan. Waktu yang digunakan dengan bijak memungkinkan siswa memenuhi dan menyelesaikan kewajibannya, bisa menjaga kesehatan diri, memberikan perhatian kepada keluarga serta membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Sehingga guru tidak hanya mengingatkan siswa agar tidak bermain gawai terlalu lama. Siswa perlu diberikan pengalaman belajar yang membantu mereka mengenali kebiasaan sendiri, menceritakan kesulitannya, memikirkan pilihan yang lebih baik, merenungkan akibat dari setiap pilihan dan mempraktikkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya keberhasilan pembelajaran ini bukan hanya terlihat dari jadwal harian yang tersusun rapi. Terpenting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi dan setiap waktu yang berlalu tidak dapat diulang kembali.  Generasi yang lahir di era digital tidak harus menjauhi teknologi untuk dapat mengelola waktunya dengan baik. Mereka perlu belajar menempatkan teknologi pada porsinya, bisa menjaga fokus dan menentukan prioritas.

Pendidikan yang bermakna bukan hanya mempersiapkan siswa menjadi pribadi yang terampil dalam menggunakan teknologi, tetapi juga menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri, bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang lain, serta menjalani kehidupan secara seimbang. Hal ini sesuai dengan kata perenungan Master Cheng Yen  “Kita harus berlomba dengan waktu, menggenggam dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Jangan biarkan hari demi hari berlalu sia-sia tanpa menghasilkan sesuatu”. Mengelola waktu pada akhirnya adalah belajar menghargai kehidupan. Ketika siswa mampu mengatur waktunya, mereka sedang belajar mengambil kendali atas dirinya sendiri.

Penulis : Teguh Ika Rohyani, SP.

Add a Comment

Your email address will not be published.