Melibatkan Anak dalam Mengatur Keuangan Keluarga

Kondisi perekonomian keluarga terkadang menjadi suatu kendala dalam kehidupan. Banyak keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi namun tetap berusaha dan berjuang supaya persoalan ekonomi dapat terselesaikan dengan baik dan tanpa menambah beban dengan berhutang yang hanya sekejap menyelesaikan masalah keuangan namun dampak besar yang dihadapi kedepan jauh lebih berat. Dalam kondisi ekonomi yang agak sulit, terkadang sebagai orang tua kita tidak ingin anak mengetahui apa yang sedang bergejolak di pikiran kedua orang tuanya. Apalagi anak-anak yang masih kecil yang tidak mudah diberikan pengertian jika orang tua sedang tidak baik-baik saja keuangannya. Mereka hanya berpikir bahwa apa yang mereka inginkan harus terpenuhi, misalnya mereka ingin jajan, saat itu juga harus ada.

Oleh karena itu, pentingnya melibatkan anak-anak dalam mengatur keuangan sejak dini ini perlu kita pertimbangkan. Mungkin di sebagian orang akan merasa tidak tega ketika anak-anak ikut memikirkan keuangan keluarga, namun disini kita tidak meminta anak-anak untuk membantu keuangan keluarga. Kita hanya ingin anak-anak tahu bahwa tidak selalu kedua orang tuanya mempunyai uang. Cara penyampaian harus disesuaikan dengan usia anak. Kita bisa menggunakan  bahasa yang sederhana atau kegiatan yang menyenangkan agar anak tidak merasa terbebani misalnya bermain peran sebagai penjual dan pembeli. Tujuannya bukan membuat anak khawatir tentang keuangan, tetapi mengenalkan konsep dasar secara positif.

Melibatkan anak bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengajak mereka menabung. Orang tua dapat memberikan celengan dan mengajarkan bahwa uang tidak selalu harus dihabiskan. Anak juga bisa diajak membuat tujuan sederhana, misalnya menabung untuk membeli buku cerita atau botol minum yang diinginkan. Dengan begitu, mereka belajar tentang proses dan kesabaran.

Selain itu, orang tua dapat mengenalkan konsep kebutuhan dan keinginan. Jelaskan bahwa kebutuhan adalah hal yang harus dipenuhi, seperti makanan dan pakaian, sedangkan keinginan adalah hal yang bisa ditunda. Misalnya: membeli mainan atau baju baru. Melalui penjelasan ini, anak akan belajar membuat pilihan yang bijak dalam menggunakan uang.

Melibatkan anak dalam diskusi ringan tentang pengeluaran keluarga juga dapat menjadi pembelajaran yang berharga. Misalnya, orang tua bisa menjelaskan mengapa harus menghemat listrik atau air. Anak akan belajar memahami dampak jika kita boros menggunakan listri atau air. Semakin boros menggunakan sumber daya listrik dan air, maka akan berdampak pada keuangan keluarga juga.

Orang tua juga harus memberikan contoh yang baik, karena anak cenderung meniru kebiasaan orang tua, sehingga sikap hemat, disiplin, dan bertanggung jawab dalam mengelola uang akan menjadi teladan yang kuat bagi anak-anak kita.

 

Fitri Kurniawati

Add a Comment

Your email address will not be published.