Main Listrik dan Ngubek Museum Hakka

Jakarta, 22 September 2026 rombongan siswa kelas 5 dengan semangat membara mereka turun dari bus di Kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pada hari itu mereka menjalani hari penuh warna, mereka tidak hanya berkeliling museum, tetapi mereka mengikuti percobaan Sains yang mendebarkan sampai mempelajari sejarah budaya yang telah berakar ratusan tahun di Nusantara.

Perjalanan dimulai di Museum Listrik dan Energi Baru (Museum LEB), Museum yang dirancang dengan konsep “Struktur Atom” yaitu Anjungan Energi Baru, Anjungan Energi Fosil, dan Anjungan Energi Konvensional. Disana siswa langsung disambut oleh berbagai alat peraga interaktif yang membantu menjelaskan konsep energi tidak lagi abstrak sebatas teori dalam buku dan ruang peraga yang terbatas. Mereka belajar tentang konversi energi yang dapat menghasilkan energi Listrik. Siswa juga tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi ilmuan cilik yang menjadi peran utama. Banyak pengalaman seru yang mereka dapatnya contohnya dalam percobaan giant toothpaste, plasma ball, teater 5 dimensi, merakit paddlewheel boat dan masih banyak keseruan lainnya. Pada percobaan giant toothpaste, mereka menyaksikan reaksi kimia yang spektakuler dari campuran bahan-bahan kimia (hydrogen peroksida, sabun cuci piring, ragi kering dan air hangat) mereka terkesima saat melihat ledakan busa yang mengalir ke wadah penampung. Reaksi ini menjelaskan bahwa energi dilepaskan dalam reaksi kimia.

Setelah puas dengan percobaan giant toothpaste, siswa beralih ketantangan berikutnya yaitu membuat Paddle Wheelboat kit percobaan sains sederhana yang memungkinkan siswa merakit sendiri kapal dengan roda dayung sebagai penggeraknya (pembelajaran STEM) karena menggabungkan keterampilan merakit dengan pemahaman konsep fisika dasar. Dalam percoban ini siswa dapat mempelajari konsep perubahan Energi Potensial ke Energi Kinetik, Hukum Newton, dan Gaya Apung.

Puas dengan berbagai percobaan di Museum Listrik kita berpindah ke Museum Hakka Indonesia. Dari kejauhan bangun ini sangat menarik perhatian sebelum memasuki Museum kita disaguhi dengan banyak patung dan artefak peninggalan Sejarah, indahnya taman danau buatan dihalaman Museum serta tingginya pagoda serasa kita berada di Tiongkok. Museum Hakka diresmikan oleh Presiden RI ke-6 Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai wujud pelestarian Sejarah dan budaya komunitas Hakka di Indonesia. Dalam Sejarah yang ada di Museum Hakka komunitas Tionghoa dikenal sebagai perantau. Kelompok Tionghoa bermigrasi ke Asia Tenggara termasuk Indonesia. Mereka banyak berkontribusi dalam aspek perdagangan, budaya, dan Pendidikan. Bahkan budaya Betawi pun hasil pencapuran dari budaya Tionghoa juga misalkan seni tradisional dan makanan khas daerah. Banyak koleksi yang di pamerkan dalam Museum misalkan kerajianan kramik, budaya Betawi, alat musik, kaligrafi Bahasa Mandarin, seni tradisional. Komunitas Hakka mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial namun tetap menjaga identitas budaya mereka.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa, di Museum Listrik siswa belajar energi bisa berubah bentuk dan di Museum Hakka, kita dapat belajar bahwa manusia dapat beradaptasi dan berubah tanpa kehilangan jati diri. Dua Pelajaran berharga yang kita dapat dalam satu perjalanan.

 

“Jika selalu mempunyai keinginan untuk belajar, maka setiap waktu dan tempat adalah kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.”

-Kata Perenungan Master Cheng Yen-

Add a Comment

Your email address will not be published.