Belajar Moderasi dari Falsafah Tzu Chi
Oleh ; Umi As’adah, S. IP ( Ka. Perpus)
Sebuah kesempatan yang istimewa bisa bergabung dengan sebuah Lembaga yang menjunjung tinggi nilai keberagaman. Lemabaga Pendidikan ini berada di bawah Yayayan Buddha Tzu Chi Indonesia. Tzu Chi memiliki 4 misi besar, amal social, kesehatan, pendidikan dan budaya humanis.
Misi Pendidikan memiliki beberapa sekolah, salahsatunya Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi yang berada di Cengkareng. Bergabung sejak 2009 dalam Lembaga ini, banyak nilai-nilai yang diajarkan dalam setiap sendi Pendidikan. Salah satunya yang menjadi visi Pendidikan yaitu Ci Bei Xi Shi ( cinta kasih, welas asih, suka cita, keseimbangan batin).
Cinta kasih adalah nilai yang dimiliki semua agama di dunia. Atas dasar nilai cinta kasih maka manusia memiliki kedudukan yang sama dan setara. Dari nilai ini pula maka toleransi terbangun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga kehidupan antar sesama dapat hidup damai dan berdampingan walau meliki banyak perbedaan, baik perbedaan agama, suku ras dan bangsa.
Ada nilai lain yang juga diajarkan dari Tzu Chi yaitu San Jie Bao Rong (berpengertian, berlapang dada, memaafkan, toleransi). Sebagai penguat dari nilai tersebut ada 4 in 1 yaitu, He xin ( Sungguh hati), He qi(harmonis, Hu ai( menyayangi), Xie Lie(gotong royong). Nilai-nilai tersebut menjadi modal besar untuk hidup damai berdampingan dalam banyak perbedaan.
Gagasan moderasi beragama sebenarnya dapat diambil dari nilai-nilai tersebut. Karena nilai toleransi, memahami, lapang dada, mengasihi, gotong royong bahkan harmonis tertuang didalamnya. Jika semua nilai tersebut dapat diamalkan dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, moderasi beragama dapat berjalan dengan baik dan menarik.
Selain dalam Tzu Chi, nilai senada juga tertuang dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an, yang salah satunya adalah ;
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ
Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat: 10).
Secara umum moderasi beragama adalah cara pandang, sikap dan prilaku beragama yang dianut dan dipraktikkan oleh sebagian besar penduduk negeri ini, dari dulu hingga sekarang. Sedangkan Menurut Quraish Shihab, dalam penerapan moderasi beragama setidaknya ada tiga unsur utama yang harus diperhatikan, atau ada tiga syarat yang harus dipenuhi sebelum menerapkan moderasi beragama. Pertama, adalah mempunyai pengetahuan. Ini adalah syarat yang sangat mutlak untuk bisa menerapkan moderasi beragama. Bagaimana mungkin seseorang akan bisa menjalankan moderasi beragama jika dia tidak tahu soal agamanya, soal moderasi beragama, dan sejenisnya? Maka, ini adalah hal yang sangat wajib demi menciptakan masyarakat yang moderat.
Kedua, adalah mengendalikan emosi. Pada dasarnya tidak hanya moderasi beragama yang membutuhkan pengendalian emosi, tapi lebih pada semua hal. Emosi sangat penting untuk dikendalikan, sebab emosi yang tidak terkontrol akan menghalalkan segala cara agar ego bisa terpenuhi. Demikian halnya dengan moderasi beragama, saling menghargai praktik keagamaan pemeluk agama lain adalah hal yang dibutuhkan, dan di dalamnya terdapat pengendalian emosi.
Ketiga, adalah berhati-hati secara konsisten. Tentu ini adalah sebuah hal yang tidak bisa ditawar lagi bagaimanapun keadaannya. Moderasi beragama membutuhkan kehati-hatian yang konsisten, selalu memperhatikan apa-apa yang didengar dan dilihat, kemudian memahaminya dengan baik-baik.
Dari beberpa nilai-nilai serta penjelasan diatas, maka moderasi dapat diterapkan seiring sejalan antara nilai Tzu Chi dan nilai-nilai dalam islam. Pandangan tentang moderasi dan syarat moderasi yang disampaikan oleh Prof. Quraish Shihab, dapa dirumuskan secara sederahana bahwa pertama, memahami nilai agama dan falsafah Tzu Chi menjadi dasar utama untuk penerapan moderasi beragama, kedua kesungguhan hari, kosistensi menjadi Langkah selanjutnya, ketiga meredakan ego dan emosi dengan nilai kasih sayang, toleransi, lapang dada, berlaku adil, rasa persaudaran menjadi penyeimbang perilaku dalam segala kondisi, keempat gotong royong, hidup harmonis akan mudah terrealisasi jika semua nilai dapat dibumikan dengan baik.
Terakhir, moderasi dapat mendamaikan konflik jika nilai luhur dari agama ataupun falsafah luhur dari Tzu Chi atau pun dari agama Islam dapat diamalkan dengan baik. Bersikap moderat dan pikiran moderat menjadikan masyarakat yang moderat yang berkehidupan madani.