Kathina Day 2025 – Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi

Penulis  : Junaidi ( SMK )

Hari Sabtu, 15 November 2025, terasa sedikit berbeda di lingkungan Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi. Sejak siang, suasana sudah mulai ramai. Di depan aula lantai 2 Gedung C, tampak para siswa, orang tua, dan beberapa kalyanamitta berdatangan satu per satu. Ada yang datang dengan ekspresi penasaran, ada juga yang terlihat sudah familiar dengan suasana Kathina karena pernah mengikuti tahun-tahun sebelumnya.

Begitu masuk ke aula, saya sempat terdiam sebentar. Ruangannya dipasang dekorasi sederhana, tidak berlebihan, tapi rapi dan teduh—ciri khas acara-acara Tzu Chi. Para relawan (RohBud ) sudah berjaga di beberapa titik, memastikan semua tertib. Anak-anak duduk di bagian tengah aula, sementara orang tua dan tamu berada di kursi samping. Menjelang pukul 13.00, aula semakin penuh, namun tetap terasa tenang.

Acara dimulai dengan pemutaran video singkat mengenai makna Kathina. Banyak siswa SMP dan SMK yang baru pertama kali mengikuti tampak memperhatikan layar dengan serius, mungkin karena ingin tahu apa sebenarnya maksud dari upacara ini. Setelah video selesai, suasana hening ketika para anggota Sangha memasuki aula. Semua peserta memberi hormat bersama—momen ini membuat aula terasa sangat sakral.

Sesi Pertama adalah petugas dari RohBud memulai perayaan ini dengan membacakan doa. Diikuti dengan acara yang menyenangkan seperti bernyanyi bersama dan lain-lainnya.

Sesi berikutnya adalah Pemberian Sanghadana. Siswa-siswa yang telah dipilih bergantian maju, membawa persembahan dengan kedua tangan. Saya sendiri setiap tahun mempersembahkan Jubah untuk para Sangha. Mempersembahkan jubah adalah bentuk penghormatan kepada Sangha sekaligus latihan dāna untuk melatih kemurahan hati. Tindakan sederhana ini membantu menopang kehidupan para bhikkhu, menumbuhkan syukur dan kerendahan hati, serta menjadi ladang kebajikan yang menghubungkan umat dengan praktik Dharma. Ada yang terlihat gugup, ada yang berjalan sangat pelan supaya tidak salah langkah. Tetapi di balik itu semua, terlihat rasa hormat yang sangat kuat. Melihat anak-anak seusia mereka bisa menunjukkan sikap sebaik itu rasanya cukup menyentuh.

Setelah Sanghadana, salah satu bhikkhu memberikan wejangan Dharma. Beliau mengingatkan tentang pentingnya melatih rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari. “Hidup yang baik dimulai dari hati yang bersih,” begitu kira-kira salah satu kalimat yang saya ingat. Entah kenapa, kata-kata sederhana seperti itu terasa sangat pas didengar saat suasana ruangan begitu hening.

Kathina tahun ini bukan hanya acara seremonial. Dari apa yang saya lihat, banyak siswa yang mulai belajar menghargai tradisi, menghormati Sangha, dan memahami nilai-nilai kebajikan yang diajarkan. Bukan karena dipaksa, tetapi karena suasananya memang mengajak untuk merenung.

Jadi benar, Kathina juga dilaksanakan di Yayasan Buddha Tzu Chi, bahkan menjadi salah satu kegiatan penting yang menghubungkan relawan, siswa, dan keluarga dengan nilai-nilai Dharma seperti kesederhanaan, kebersihan hati, serta semangat memberi tanpa pamrih.

Saya pribadi merasa kegiatan seperti ini sangat perlu untuk anak-anak.Melalui momen sederhana seperti Kathina, mereka bisa belajar memperlambat langkah, menenangkan diri, dan merasakan kedamaian yang mungkin jarang mereka dapatkan di hari-hari biasa.

Semoga kegiatan ini terus berjalan setiap tahunnya, dan makin banyak siswa yang bisa merasakan manfaatnya—baik untuk pikirannya, hatinya, maupun perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Sādhu, sādhu, sādhu. Semoga semua makhluk berbahagia.

Add a Comment

Your email address will not be published.