Kesetaraan Gender Dalam Teori Praktik Futsal pada Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) Kelas 8 SMP Cinta Kasih Tzu Chi
Berbicara tentang aspek gender, artinya berbicara tentang perbedaan peran, status, tanggungjawab, fungsi perilaku laki-laki dan perempuan yang merupakan konstruksi (rekayasa) sosial (Du, 2022). Gender bukan didasarkan padaperbedaan biologis hanya saja sering disalah artikan (Olaonade et al., 2021). Kesetaraan gender merupakan upaya menyamakan atau menyeimbangkan peran, status, tanggung jawab, dan fungsi baik laki-laki dan perempuan dalam posisi yang sama. Kesetaraan meliputi kesamaan hak dan kewajiban dari segala aspek kehidupan, baik itu dari segi politik, sosial, ekonomi, pemerintah dan juga bidang olahraga. Olahraga merupakan suatu wadah aktualisasi diri bagi para pelakunya. Pelaku olahraga diantaranya adalah atlet, pelatih dan tim official, olahraga yang dimaksud adalah olahraga prestasi. Namun olahraga kesehatan, rekreasi maupun olahraga pendidikan juga terkadang masih sering menjumpai ketimpangan tentang gender, ketimpangan gender sering terjadi dalam bidang olahraga prestasi misalnya kegiatan ekstrakurikuler yang memberikan manfaat bagi banyak orang sedangkan di sekolah diantaranya siswa dan guru pada mata pelajaran olahraga serta warga sekolah yang menyukai olahraga.
Dalam beberapa tahun terkahir, semakin sulit untuk melibatkan siswa perempuan dalam kelas pendidikan jasmani. Penting untuk menentukan sikap peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani olahraga dan Kesehatan (PJOK). Sehingga pendidik dapat mendorong peserta didik untuk berpartisipasi yang berkelanjutan dalam aktivitas sepanjang hidup. Memberikan kesempatan yang berarti bagi peserta didik sekolah menengah pertama dalam Pendidikan jasmani sangat penting untuk memotivasi mereka untuk terus aktif secara fisik sepanjang hidup mereka. Pendidikan jasmani dan aktivitas fisik dapat meningkatkan beberapa aspek kepercayaan diri yang lebih besar dan peningkatan kemampuan untuk berpikir lebih mandiri. Anak – anak dan remaja lebih mungkin untuk melanjutkan partisipasi dalam aktivitas fisik ketika pengalaman mereka terkait dengan hal tersebut positif, oleh karena itu sangat penting bagi mereka untuk memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengaruh positif dari keterlibatan mereka dalam aktivitas selama masa kanak-kanak. Partisipasi di luar dalam aktivitas fisik yang terorganisir juga meningkatkan afek positif, pilihan, dan harapan di masa depan secara tidak langsung melalui pencapaian dan mediator sosial. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan atau berkontribusi pada persepsi siswa, termasuk motivasi, kelas pendidikan jasmani yang bersifat terpisah dan keseuaian gender, pengaruh pilihan dan minat serta pengaruh dari guru mereka.
Motivasi tampaknya menjadi salah satu faktor terbesar yang berperan dalam persepsi anak perempuan sekolah menengah mengenai kelas pendidikan jasmani mereka. Motivasi untuk belajar dapat didefinisikan dalam konteks pedagogis sebagai kesediaan siswa untuk terlibat dalam konten.
Ranah afektif adalah tempat di mana motivasi intrinsik paling mudah diamati. Minat pribadi dan kenikmatan keseluruhan dari suatu kegiatan dapat berasal dari motivasi intrinsik. Hal ini dianggap sebagai hasil yang lebih positif daripada hasil yang didapat dari motivasi ekstrinsik. Hasil yang terkait dengan motivasi ekstrinsik cenderung lebih banyak hasil negatif karena peran pengaruh dari luar. Motivasi intrinsik berasal dari persepsi dan antusiasme internal, sedangkan motivasi ekstrinsik berasal dari pengaruh luar.
Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (PJOK) memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa. Salah satu pendekatan yang relevan untuk meningkatkan partisipasi dalam keaktifan peserta didik perempuan dalam praktik permainan futsal melalui “sport education” dengan peraturan yang dimodifikasi berupa menggabungkan peserta didik perempuan dan laki-laki dalam satu tim. Pendekatan ini mengintegrasikan kegiatan olahraga dengan pendidikan karakter, sehingga menjadikan peserta didik tidak hanya terampil secara fisik tetapi juga memiliki nilai – nilai pembentukan karakter, sosial, tenggang rasa, saling menghargai dan menghormati, memanajemen emosi dan mendorong partisipasi aktif.
Isu gender dalam PJOK
Gender atau jenis kelamin merupakan isu yang tidak asing lagi dalam PJOK. Perempuan dianggap hanya mampu di beberapa jenis cabang olahraga. Misalnya peserta didik laki-laki lebih dominan pada materi futsal atau sepak bola. Dampak isu tersebut yaitu angka partisipasi dan kontribusi peserta didik perempuan terhadap permainan aktivitas fisik dan olahraga menurun. Dalam hal ini guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) memiliki peran penting dalam memotivasi dan memberikan kesempatan kepada peserta didik perempuan untuk mencoba dan merasakan keterlibatan aktif dalam berbagai teori praktik dengan membentuk tim permainan futsal yang formasi terdiri dari peserta didik laki – laki dan perempuan.
Upaya untuk mendorong Peserta didik perempuan dalam meningkatkan partisipasi aktif dalam rangka kesetaraan gender pada praktik pembelajaran futsal, diimplementasikan melalui “futsal competition eight” yang dilaksanakan pada bulan januari sampai Februari 2025 di semester 2 (dua).
- Pembelajaran di mulai dari penjelasan, diskusi dan ceramah tentang teori futsal dan praktik pembelajaran futsal.
- Turnamen mini : Peserta didik menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam “futsal competition eight” dengan peran seperti panitia, atlet, dan wasit.
- Simulasi kompetisi : Peserta didik mengadakan simulasi pertandingan dengan mengikuti prosedur resmi seperti briefing, diskusi strategi, dan evaluasi.
- Melakukan modifikasi aturan pada pembentukan tim pertandingan futsal dengan menggabungkan Peserta didik perempun dan laki – laki di dalam satu tim.
- Evaluasi tim : Setelah kegiatan, peserta didik bersama-sama mengevaluasi kinerja tim, sikap sportivitas, dan pelajaran yang dapat di peroleh selama kegiatan berlangsung.
“Saya sangat antusias dan sangat semangat, karena dalam kompetisi ini tidak ada yang namanya golongan laki-laki maupun perempuan, sehingga menunjukkan bahwa sebenarnya tim campuran perempuan dan laki laki dalam olahraga juga bisa menjadi tim yang baik.” Tutur Jessica Santoso kelas 8D yang menjadi salah satu atlit pada futsal competition eight.
“Apalagi di dalam tim ada laki-laki yang dimana kita bisa saling melengkapi untuk memenangkan perlombaan, perempuan bisa diberikan posisi yang sesuai porsinya dan laki-laki bisa membantu, sehingga kita semua bisa saling bekerja sama.” Tambah Jessica Santoso.
“Menurut saya sih dengan tim campuran seperti kemarin pastinya terasa lebih adil ya bu. Karena pasti pemikiran orang-orang lain bahwa futsal itu kebanyakan permainan yang cukup maskulin, dan kebanyakan dilirik oleh laki-laki. Pastinya kalau di buat campur dalam satu tim akan menghilangkan pemikiran seperti itu dan membuktikan bahwa permainan futsal juga bisa dimainkan oleh laki – laki dan perempuan secara adil.” Tutur Chelses Felicia kelas 8C.
“Menurut saya saat terlibat dalam kompetisi ini dimana tim nya di gabungkan antara perempuan dan laki-laki sehingga suasana semangat dan kebersamaannya bisa kami rasakan. Saya merasakan setiap pemain baik perempuan maupun laki-laki saling memberikan semangat dan usaha yang maksimal untuk memenangkan pertandingannya.” Tutur Vincent Leo kelas 8D.
“Dengan adanya tim gabungan memberikan kesempatan yang adil bagi semua pemain untuk berkontribusi, tanpa memandang gender. Ini juga menjadi pengalaman yang positif karena memungkinkan setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya di lapangan.” Sambung Vincent Leo.
Manfaat penentuan tim dengan formasi peserta didik perempuan dan laki – laki pada futsal competition
- Memberikan kesempatan yang adil kepada peserta didik perempuan untuk mengambil peran dan tanggung jawab dalam permainan futsal.
- Meningkatkan komunikasi dan kerjasama tim. Futsal membutuhkan komunikasi yang baik antara anggota tim untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu, karena lapangan terbatas, pemain harus bekerja sama dalam menciptakan peluang dan mencegah gol dari tim lawan. Dalam prosesnya, pemain belajar untuk mendengarkan, berbicara, dan berkontribusi dalam situasi yang dinamis.
- Mendorong pemecahan masalah. Seperti halnya dalam olahraga lainnya, futsal juga mengajarkan peserta didik untuk melakukan pemecahan masalah dalam situasi yang dapat berubah dengan cepat. Mereka perlu berpikir cepat dan mengambil keputusan yang baik dalam waktu yang terbatas. Ini membantu mereka mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan efektif dan efisien.
- Meningkatkan kedisiplinan : Futsal melibatkan aturan-aturan yang harus diikuti oleh para pemain. Hal ini mengajarkan peserta didik tentang pentingnya kedisiplinan dalam mencapai tujuan tim. Mereka belajar untuk menghormati aturan, mengontrol emosi, dan menjaga sikap positif dalam tim.
Dengan adanya pembelajaran PJOK yang dikembas dalam even “futsal competition eight” dengan melibatkan seluruh gender dalam satu tim, memberikan kesempatan dan mendorong kepada seluruh peserta didik khususnya perempuan untuk turut serta berpartisipasi dalam permainan futsal.
Dengan demikian peserta didik perempuan merasakan pengalaman bertanding pada cabang olahraga futsal, meningkatkan rasa percaya diri, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap posisinya. Dalam dimensi lain, peserta didik laki – laki membantu dalam proses mengarahkan dan mendorong peserta didik perempuan untuk terlibat secara aktif.
Oleh : Tju Suminar Ayu