Mendidik di Tengah Zaman yang Berlari: Antara Nilai dan Realita

Penulis: Ruly Mediana Manurung, S.Pd.

Di sebuah ruang kelas yang sunyi, seorang guru berdiri di depan papan tulis. Di tangannya tergenggam spidol, di hatinya tergenggam harapan. Namun di hadapannya, para siswa menunduk bukan karena khidmat, melainkan karena sibuk menatap layar gawai. Di sinilah dilema itu bermula: bagaimana mendidik generasi yang hidup dalam dunia yang tak lagi sama, dengan nilai-nilai yang terus diuji oleh zaman?

Zaman bergerak cepat, bahkan terlalu cepat. Teknologi melesat, informasi membanjir, dan dunia seolah tak memberi jeda untuk bernapas. Di tengah derasnya arus digital, guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. YouTube, TikTok, dan ChatGPT kini menjadi “guru” alternatif yang lebih cepat, lebih menarik, dan lebih instan. Maka pertanyaannya bukan lagi “apa yang harus diajarkan?”, melainkan “bagaimana agar ajaran itu tetap bermakna?”

Dilema terbesar guru hari ini bukanlah kurangnya materi, melainkan bagaimana menjaga makna. Kita hidup di zaman ketika nilai-nilai seperti kesopanan, kerja keras, dan kejujuran sering kali kalah pamor dibanding popularitas, viralitas, dan kecepatan. Di sinilah guru diuji: apakah akan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur, ataukah ikut arus demi relevansi?

Saya teringat pada sebuah kasus di sebuah SMA negeri di Jakarta. Seorang guru menegur siswanya karena membuat konten TikTok di kelas saat pelajaran berlangsung. Teguran itu berujung pada viralnya video sang guru yang dipotong sepotong-sepotong, seolah ia marah tanpa sebab. Komentar netizen pun terbelah: sebagian membela guru, sebagian lagi menyalahkan. Di sinilah ironi itu terasa: guru yang mendidik dengan niat baik, justru disalahpahami karena tak “sesuai zaman”.

Apakah guru harus belajar menari di TikTok agar dianggap dekat dengan siswa? Apakah nilai kedisiplinan harus dinegosiasikan demi “engagement”? Apakah karakter bisa dibentuk lewat konten 15 detik?

Tentu, guru tak bisa menutup mata dari perubahan. Adaptasi adalah keniscayaan. Namun, adaptasi bukan berarti menyerah pada arus. Justru di tengah derasnya perubahan, guru harus menjadi jangkar yang meneguhkan arah. Pendidikan bukan sekadar mengikuti zaman, tapi juga membentuk zaman.

Kita bisa belajar dari kisah inspiratif seorang guru di Yogyakarta yang mengintegrasikan literasi digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Ia tidak melarang siswanya membuat konten, tapi mengajak mereka membuat konten yang mengangkat nilai-nilai lokal: cerita rakyat, puisi tentang toleransi, atau ulasan buku. Hasilnya? Siswa tetap merasa relevan, namun nilai-nilai tetap terjaga. Inilah contoh bahwa mendidik sesuai zaman bukan berarti tunduk pada zaman, melainkan mengolahnya menjadi ladang nilai.

Dilema mendidik sesuai zaman juga menuntut guru untuk terus merefleksikan peran dan pendekatannya. Kita tak bisa lagi hanya mengandalkan metode ceramah atau hafalan. Siswa hari ini butuh ruang dialog, bukan sekadar monolog. Mereka ingin didengar, bukan hanya disuruh mendengar.

Namun, refleksi saja tak cukup. Guru juga harus kritis. Tidak semua yang baru itu baik, dan tidak semua yang lama itu usang. Ketika siswa lebih percaya pada informasi dari media sosial daripada buku pelajaran, guru harus hadir sebagai penuntun literasi. Ketika siswa lebih tertarik pada selebgram daripada pahlawan nasional, guru harus mampu menjembatani nilai-nilai dengan cara yang kontekstual.

Dalam sebuah wawancara, seorang guru senior pernah berkata, “Tugas kita bukan mewariskan abu, tapi menjaga api.” Abu adalah tradisi yang tak lagi bermakna, sementara api adalah semangat yang terus menyala, meski bentuknya berubah. Maka, mendidik sesuai zaman bukan berarti membuang nilai-nilai lama, tapi menyalakan kembali apinya dalam bentuk yang baru.

Kita bisa mengajarkan kejujuran lewat proyek kolaboratif, bukan hanya lewat ceramah. Kita bisa menanamkan empati lewat proyek sosial, bukan hanya lewat definisi. Kita bisa membentuk karakter lewat pengalaman, bukan hanya lewat ujian.

Dalam konteks ini, kutipan Ki Hadjar Dewantara terasa semakin relevan: “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.” Maka tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi menuntun. Menuntun bukan berarti menarik paksa, melainkan berjalan bersama, memahami arah, dan menjaga nilai.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer pun pernah menulis, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah.” Dalam konteks pendidikan, kutipan ini mengingatkan kita bahwa mendidik bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga tentang membentuk jejak pemikiran, karakter, dan kontribusi yang abadi.

Dan kepada kalian, para pembelajar zaman ini. anak-anak kami yang tumbuh di tengah dunia yang berlari, izinkan kami tetap hadir sebagai pelita kecil. Kami tidak ingin mengekang, hanya ingin menuntun. Kami percaya kalian punya potensi besar, tapi jangan lupakan akar. Jadilah generasi yang terbang tinggi dengan nilai-nilai yang menancap dalam. Jika suatu hari dunia terasa terlalu bising, ingatlah: kami ada di sini, bukan sebagai hakim, tapi sebagai teman perjalanan.

Menjadi guru hari ini adalah menjadi penari di atas tali: menjaga keseimbangan antara nilai dan realita, antara idealisme dan pragmatisme. Tapi justru di situlah keindahannya. Karena setiap langkah yang kita ambil, sekecil apa pun, adalah bagian dari tarian besar bernama pendidikan.

Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tapi satu hal yang tak boleh hilang adalah hati. Selama guru masih mendidik dengan hati, selama kita masih percaya bahwa setiap anak adalah benih harapan, maka pendidikan akan selalu menemukan jalannya. Dan mungkin, di tengah segala dilema ini, kita tak perlu menjadi guru yang sempurna. Cukuplah menjadi guru yang terus belajar, terus bertanya, dan terus mencintai. Karena pada akhirnya, mendidik bukan soal siapa yang paling tahu, tapi siapa yang paling peduli.

Add a Comment

Your email address will not be published.