Menghasilkan Cuan dari Hobi Memasak Sambal

Sebagai ibu rumah tangga, memasak adalah rutinitas sehari-hari yang tidak bisa ditolak, apalagi jika kita memiliki anak-anak. Hal yang paling utama adalah nilai gizi yang didapatkan oleh anak-anak dalam makanan mereka. Itulah alasannya mengapa sebagian besar ibu rumah tangga akan memilih memasak sendiri di rumah daripada membeli di warung atau restoran.

Bagi saya pribadi, memasak bukan hanya sekadar kewajiban dan rutinitas sebagai seorang ibu, tetapi juga sebagai penyalur hobi. Saya sangat senang mencoba resep-resep yang sering muncul di beranda Facebook, Instagram, maupun TikTok saya. Resep-resep praktis yang mudah dipraktikkan dan disukai anak-anak sering menjadi pilihan saya untuk dicoba. Selain menomorsatukan menu untuk anak-anak, saya juga memasak untuk suami dan diri saya sendiri. Karena kami lebih suka makanan yang pedas, jadi saya sering menambahkan menu tumis dan sambal dalam setiap menu yang saya buat. Menurut saya, sambal adalah salah satu menu yang membuat nafsu makan bertambah, apalagi saat kondisi badan kurang fit.

Saya sering membuat sambal dalam porsi banyak. Saya memberikan sambal-sambal itu ke beberapa teman untuk mencobanya. Ternyata, respon mereka baik. Bahkan ada yang bilang, “Coba kamu jualan sambal, pasti laku.” Awalnya, saya ragu mau membuat sambal untuk dijual, karena saya takut selera orang tidak sama dan takut risiko jika sambal itu tidak laku.

Saya bertemu dengan salah satu teman, kebetulan teman saya ini berjualan makanan. Saya mencoba menawarkan sambal buatan saya. Ternyata, responnya juga baik. Teman saya memesan 10 botol sambal. Dengan senang hati, saya membuat sambal pesanan itu. Nah, dari situ saya mulai menerima pesanan-pesanan sambal baru. Memang tidak banyak hasilnya, namun saya senang karena orang menyukai masakan saya.

Nilai penting yang bisa saya ambil dari hobi saya ini adalah bahwa sebuah hobi, jika dikembangkan dan ditekuni, bisa membuahkan hasil. Begitu juga dengan pekerjaan kita; jika kita bekerja dengan kesungguhan hati, hasilnya juga pasti akan maksimal. Karena saya sebagai seorang guru, maka hal yang bisa saya petik adalah sekecil apapun dan sesulit apapun karakter seorang anak didik, jika kita bisa mendidik dengan ketulusan hati, melakukan pendekatan, memberinya semangat, dan selalu mengerti apa yang sedang anak didik kita rasakan, untuk membuat mereka mencintai kita sebagai orang tua di sekolah akan sangat mudah kita dapatkan. Jika mereka merasa kita mencintai mereka, maka merekapun akan mencintai kita sebagai mama di sekolah.

Jangan menganggap remeh diri kita sendiri, terus berusaha untuk melakukan yang terbaik. Semangat!

Penulis: Fitri Kurniawati