Partisipasi Siswa-siswi SDS Cinta Kasih Tzu Chi dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional: “Belajar, Berkarya, dan Percaya Diri: Pengalaman Berharga di FLS3N”

Pada masa sekolah dasar, anak-anak berada dalam fase eksplorasi yang penting untuk mengenali serta mengembangkan bakat dan minatnya. Pada tahap ini, mereka membutuhkan ruang yang tepat untuk mengekspresikan potensi diri sekaligus memperoleh pengalaman baru. Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional atau disingkat FLS3N hadir sebagai wadah yang tidak hanya memberikan kesempatan bagi anak untuk berpartisipasi dalam ajang perlombaan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.

Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat mengasah keterampilan, membangun keberanian tampil di depan umum, serta meningkatkan rasa percaya diri. Tidak hanya itu, FLS3N juga menjadi ruang bagi siswa untuk belajar menghargai proses, mengelola emosi saat menghadapi tantangan, serta menjalin relasi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang. Dengan demikian, FLS3N tidak sekadar kompetisi, melainkan juga bagian dari proses pembentukan karakter dan pengembangan diri siswa secara menyeluruh.

Jenis mata lomba yang dikompetisikan dalam FLS3N mencakup berbagai bidang seni dan keberagaman budaya, seperti seni tari, bernyanyi solo, pantomim, seni kriya, menggambar, mengarang cerita, hingga mendongeng. Ragam lomba ini memberikan kesempatan yang luas bagi siswa untuk mengekspresikan diri sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Setiap cabang lomba menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda, baik dalam hal kreativitas, keberanian, maupun ketekunan dalam berlatih.

Dalam pelaksanaannya, terlihat antusiasme dan keberanian siswa untuk terlibat aktif, di antaranya ditunjukkan oleh Elora, Fiorenz, dan Delisa. Meskipun berasal dari jenjang kelas yang berbeda, mereka mampu menjalin kerja sama yang baik, saling memberikan dukungan, serta menunjukkan semangat kebersamaan dalam proses persiapan hingga pelaksanaan lomba. Hal ini mencerminkan tidak hanya perkembangan keterampilan seni, tetapi juga penguatan sikap sosial dan rasa percaya diri siswa.

Pengalaman mereka pun menjadi bagian yang berkesan dalam rangkaian kegiatan FLS3N, terlebih karena waktu persiapan yang terbatas. Mereka hanya memiliki waktu latihan selama dua minggu, yang penuh dengan tantangan dan membutuhkan komitmen yang tinggi. Elora mengungkapkan bahwa keterbatasan waktu sempat membuatnya merasa khawatir. “Latihannya cuma dua minggu, jadi awalnya aku takut belum siap. Tapi kami tetap berusaha dan saling bantu mengingat gerakan,” tuturnya. Sementara itu, Fiorenz merasakan bahwa proses tersebut justru melatih kedisiplinan dan kerja sama tim. “Walaupun waktunya singkat, kami jadi lebih fokus saat latihan. Kami juga saling menyemangati supaya bisa tampil maksimal,” ujarnya. Delisa menambahkan bahwa tantangan tersebut membuat pengalaman mereka semakin bermakna. “Memang capek karena harus cepat menghafal dan menyesuaikan gerakan, tapi karena dilakukan bersama-sama, rasanya tetap seru dan menyenangkan,” ungkapnya.

Salah satu penampilan yang diikuti adalah lomba tari dengan judul “Melodi dan Gerak dalam Kehidupan Masyarakat”. Tarian ini mengangkat tema kehidupan sosial yang sarat dengan keberagaman aktivitas sehari-hari, yang divisualisasikan melalui perpaduan harmonis antara gerak dan irama. Setiap rangkaian gerakan dirancang untuk merepresentasikan dinamika masyarakat, mulai dari interaksi antarindividu, semangat kebersamaan, hingga nilai gotong royong yang menjadi ciri khas kehidupan sosial. Iringan musik yang selaras turut memperkuat suasana keceriaan dan kehangatan, sehingga keseluruhan penampilan tidak hanya menghadirkan keindahan artistik, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya hidup berdampingan secara harmonis dalam keberagaman.

Secara keseluruhan, keikutsertaan dalam FLS3N memberikan pengalaman belajar yang utuh bagi siswa, tidak hanya dari sisi hasil, tetapi juga dari proses yang dijalani. Melalui kegiatan ini, siswa belajar untuk berani mencoba, menghadapi tantangan, serta menghargai setiap usaha yang telah dilakukan. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga dalam membentuk karakter yang tangguh, kreatif, dan percaya diri di masa depan.

Add a Comment

Your email address will not be published.