PRADAKSINA – Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi

Penulis  : Junaidi ( SMK )

Setiap hari jumat, pukul 11.35-12.30 , seluruh siswa SMP, SMA dan SMK berkumpul untuk melaksanakan ibadah bersama. Suasa sekolah yang biasanya berubah menjadi lebih tenang. Kami biasanya membariskan siswa di depan gerbang belakang sekolah; setelah barisan agak rapi barulah mereka diarahkan jalan bersama menuju aula.

Untuk siswa beragama Buddha, ibadah dilaksanakan di Aula C lantai 2. Namun ada satu kegiatan khusus yang hanya dilakukan sekali setiap tiga minggu, yaitu Meditasi Pradaksina. Setiap kali jadwal ini muncul, suasana selalu beda. Dari pagi saja siswa Buddhis sering saling bertanya, “Hari ini Pradaksina, kan?”—kadang karena mereka memang suka suasana tenangnya, kadang mungkin juga karena mereka kurang nyaman dengan meditasi berjalan ini. Jujur saja, saya sendiri berharap siswa bisa benar-benar merasakan ketenangan dari praktik tersebut, bukan sekadar menjalankan rutinitas.

Apa itu Pradaksina?
Pradaksina adalah salah satu tradisi dalam ajaran Buddha, yaitu berjalan mengelilingi objek suci—biasanya patung Buddha atau altar—sebanyak tiga kali, searah jarum jam. Setiap langkah seharusnya dilakukan dengan sadar: memperhatikan napas, merasakan langkah kaki, dan mengarahkan pikiran pada niat baik.

Di lingkungan Yayasan Buddha Tzu Chi, Pradaksina sering dilakukan dalam berbagai kegiatan. Alasannya sederhana: kegiatan ini membantu membina hati. Dengan berjalan perlahan dan penuh perhatian, peserta diajak menenangkan pikiran, mengingat rasa syukur, dan melatih welas asih kepada sesama makhluk.

Pradaksina juga mengajak peserta untuk benar-benar sadar pada setiap langkah. Ketika pikiran fokus, batin menjadi lebih jernih dan tidak mudah goyah oleh hal-hal kecil.

Saat dilakukan bersama-sama, kegiatan ini menumbuhkan rasa kebersamaan. Langkah yang serempak, suasana yang hening, dan niat baik yang sama membuat semua orang seperti berada dalam satu hati yang harmonis.

Pada akhirnya, Pradaksina menjadi cara untuk kembali pada hati yang lembut—hati yang mampu melihat kebaikan, menjaga kedamaian, dan menebarkan cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Gerakan yang kelihatannya sederhana ini ternyata punya makna yang dalam:

  • Menghormati Triratna: Buddha, Dharma, dan Sangha
  • Melatih ketenangan batin supaya tidak mudah gelisah
  • Membangun konsentrasi dan kejernihan pikiran
  • Mensyukuri kehidupan, menumbuhkan welas asih, dan belajar rendah hati

Ketika Pradaksina dimulai, ruangan biasanya langsung hening. Para siswa berdiri membentuk lingkaran, kedua tangan dirapatkan di depan dada. Dengan langkah pelan mereka mulai mengelilingi area yang sudah ditentukan. Sambil berjalan, terdengar lantunan lagu yang menenangkan. Sesekali terdengar tarikan napas lembut dan langkah kaki yang bergerak hampir bersamaan.

Ada siswa yang menutup mata sebagian, ada yang benar-benar memejam karena ingin menghayati, ada juga yang sambil berdoa dalam hati. Walaupun sederhana, setiap putaran biasanya membawa perubahan kecil: pikiran jadi lebih jernih, hati lebih ringan, dan rasa gelisah perlahan menurun.

Setelah tiga putaran selesai, para siswa kembali duduk. Biasanya mereka belum langsung berbicara. Keheningan masih terasa beberapa menit. Ada rasa damai yang agak sulit dijelaskan—seperti beban selama satu minggu perlahan dilepaskan lewat langkah-langkah tadi.

Semoga melalui praktik Pradaksina ini, baik siswa maupun guru, kita semua bisa merasakan kedamaian yang lebih dalam: hati yang penuh cinta kasih, pikiran yang lebih tenang, dan langkah yang selalu mengarah pada kebaikan. Kebiasaan kecil yang dilakukan dengan kesadaran yang jernih, pada akhirnya bisa menuntun hidup kita menuju jalan yang lebih terang.

Sebab, kebiasaan kecil yang dilakukan dengan kesadaran yang murni, pada akhirnya mampu menuntun hidup menuju jalan yang lebih terang.

 

Add a Comment

Your email address will not be published.