Merayakan Keberagaman melalui Kegiatan Five Fingers Five Facts About Me and My Friend: Mengenal Identitas Diri dan Toleransi terhadap Perbedaan
Oleh: Ainaya Fulfia, S.Pd.
Sebagai siswa di sekolah, kita tidak bisa lepas dari interaksi dengan teman-teman setiap hari. Di dalam kelas, saat bermain, maupun saat bekerja kelompok, kita akan bertemu dengan berbagai macam karakter teman. Setiap anak memiliki identitas yang unik, seperti latar belakang keluarga, budaya, kebiasaan, cara berbicara, cara berpikir, hingga pendapat yang berbeda-beda. Perbedaan-perbedaan tersebut adalah hal yang wajar dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Justru melalui perbedaan itulah, suasana belajar menjadi lebih berwarna dan menarik. Kita bisa belajar hal baru dari teman, memahami sudut pandang yang berbeda, serta melatih diri untuk saling menghargai.
Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk memahami, menerima, dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Dengan menumbuhkan sikap saling menghormati, kita dapat membangun hubungan yang harmonis, meminimalkan terjadinya konflik, serta menciptakan lingkungan sosial yang aman, nyaman, dan saling mendukung. Selain itu, keterbukaan terhadap perbedaan juga akan membantu kita berkembang menjadi pribadi yang lebih bijaksana, toleran, dan mampu bekerja sama dengan berbagai macam karakter individu.
Hal ini sejalan dengan peran SD Cinta Kasih Tzu Chi sebagai sekolah Laboratorium Pancasila, di mana nilai-nilai Pancasila tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihidupkan dalam keseharian siswa. Sekolah menjadi ruang nyata bagi siswa untuk belajar menghargai keberagaman, membangun empati, serta menjalin hubungan yang harmonis dengan teman-teman dari latar belakang yang berbeda.
Namun, sebelum mampu menghargai orang lain, penting bagi anak untuk terlebih dahulu mengenal dan memahami identitas dirinya sendiri. Dari sana, anak akan mulai menyadari bahwa setiap orang memiliki identitas yang berbeda, namun perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk tetap menjalin hubungan pertemanan yang baik.
Pemahaman ini dikembangkan melalui kegiatan proyek sederhana dalam mata pelajaran Bimbingan dan Konseling, yaitu “Five Fingers Five Facts About Me” dan “Five Fingers Five Facts About My Friend”. Pada kegiatan “Five Fingers Five Facts About Me”, siswa diminta untuk menuliskan informasi tentang dirinya sendiri pada setiap jari, sehingga mereka dapat lebih mengenal identitas pribadinya. Sementara itu, pada kegiatan “Five Fingers Five Facts About My Friend”, siswa menuliskan informasi tentang sahabatnya sebagai bentuk pengenalan terhadap orang lain.
Dalam pelaksanaannya, siswa diminta untuk mencetak telapak tangan miliknya dan juga telapak tangan temannya. Telapak tangan tersebut menjadi simbol yang mewakili identitas masing-masing individu, seolah menggambarkan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang berbeda.
Melalui media sederhana ini, siswa kemudian diajak untuk menuliskan berbagai informasi. Pada kegiatan tentang diri sendiri, siswa mengisi setiap jari dengan identitas pribadinya. Sedangkan pada kegiatan tentang sahabat, pada ibu jari siswa menuliskan nama lengkap sahabatnya beserta arti dari nama tersebut. Di jari telunjuk, siswa menuliskan agama atau keyakinan yang dianut oleh sahabatnya sebagai bentuk pengenalan terhadap perbedaan yang ada. Pada jari tengah, siswa menuliskan asal suku serta bahasa yang digunakan sahabatnya di rumah, sehingga mereka dapat memahami latar belakang budaya satu sama lain.
Selanjutnya, pada jari manis, siswa diminta menuliskan sifat atau karakter baik yang dimiliki sahabatnya. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan sikap saling menghargai dan melihat kebaikan dalam diri orang lain. Pada jari kelingking, siswa menuliskan kelebihan yang dimiliki sahabatnya, sehingga mereka dapat belajar untuk saling mengapresiasi.
Kemudian, sketsa telapak tangan tersebut dihias dengan warna-warni sesuai dengan gaya dan warna favorit masing-masing siswa. Proses menghias ini tidak hanya membuat kegiatan menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga menjadi simbol bahwa setiap perbedaan yang ada justru membentuk keindahan. Seperti perpaduan warna yang beragam namun tetap serasi, keberagaman di antara siswa pun menciptakan lingkungan belajar yang kaya dan bermakna.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mengenal identitas dirinya sendiri, tetapi juga belajar memahami bahwa setiap individu memiliki perbedaan. Meskipun demikian, mereka tetap dapat menjalin hubungan pertemanan yang baik. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata implementasi nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah, khususnya dalam menumbuhkan sikap toleransi, empati, dan saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari.